GEREJA KATOLIK ENSIKLOPEDI

Relikwi

Relikwi

Penghantar Kepada Tuhan


Pendahuluan

Relikwi dapat didefinisikan sebagai suatu material, berupa bagian Tubuh dari Para Santo/Santo atau Para Kudus yang telah meninggal dan juga Benda-Benda yang bersentuhan dengan mereka. Relikwi dibagi menjadi tiga kelas. Relikwi kelas pertama adalah semua Bagian Tubuh dari Orang Kudus, kelas kedua adalah Pakaian dan semua yang dipunyai oleh Santo/Santa, serta Alat-Alat Penyiksaan yang membunuh Santo/Santa, kelas ketiga adalah Benda-Benda yang disentuh kepada Orang Kudus atau ke Makam Orang Kudus. Pertanyaan mendasar, di Gereja Katolik mengapa Relikwi sebagai sesuatu istimewa dan perlu dihormati?
Santa Maria Faustina Kowalska
Paroki Stella Maris, Pluit – Jakarta.


Relikwi

Tanda Cinta Kasih Para Kudus


Para Santo/Santa adalah mereka yang dipercaya dan dinyatakan bahwa telah bersatu dengan Tuhan. Oleh sebab itu, Tubuh mereka juga dimuliakan di Surga. Kita adalah Bait Allah (1 Kor 3:16; 2 Kor 6:16), dimana pada saat Dibaptis kita menjadi tempat Kediaman Allah Tritunggal Maha Kudus. Dan pada orang-orang yang benar-benar bertumbuh dalam Kristus dan menerapkan Kekudusan, Tuhan berdiam secara khusus menjadi Para Terkasih Allah atau “the beloved“. Orang-Orang Kudus adalah orang yang benar-benar dengan segala hati, pikiran dan kekuatannya mengasihi Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, seluruh umat beriman menghormati Jiwa-Jiwa Para Kudus yang berada di Surga. Dan Penghormatan ini juga dilakukan terhadap Tubuh mereka yang berada di dunia ini yang nanti akan dibangkitkan pada Pengadilan Terakhir dan bersatu dengan Jiwa mereka. Oleh karena itu, kita sebagai umat beriman harus mensyukuri akan Anugerah Para Orang Kudus yang membangun Tubuh Mistik Kristus atau Gereja dengan hidup mereka yang mencerminkan Kasih Kristus dan yang telah menerapkan Kasih mengikuti Jejak Kristus. Mereka juga menyadarkan kita bahwa kita yang telah Dibaptis sebenarnya tergabung dalam Kekuarga Kudus, Keluarga Allah, yang terikat dalam Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Konsep Relikwi, mungkin dapat dihubungkan dengan peninggalan orang tua atau orang yang dikasihi yang telah meninggal. Menghormati Peninggalan mereka, seperti album foto, pakaian, dll. Dalam pengertian yang sama tetapi lebih mendalam, menghormati Relikwi, karena mengingatkan bagaimana Santo/Santa berjuang untuk Hidup Kudus, demikian kita terpacu juga, dalam kapasitasnya masing-masing. Teladan mereka membuat kita berbesar hati, sebab mereka yang adalah manusia biasa, namun dapat benar-benar mencurahkan seluruh keberadaan untuk memuliakan Tuhan. Secara lebih dalam dan terpenting, Relikwi juga mengingatkan akan Tuhan sendiri. Pada saat melihat Patung Pieta – Jenasah Yesus di Pangkuan Bunda Maria (maestro Michael Angelo) – karya tersebut mengagumkan karena maestronya. Demikian, pada saat menghormati Relikwi, mengagumi Santo/Santa yang Hidupnya sesuai Kehendak Tuhan. Terpesona akan Penciptaan Tuhan, yang memberi Kekuatan dan Berkat kepada Para Santo/Santa, yang membuat mereka bertahan dan bahkan sampai di akhir hidup mereka, tetap di dalam Kasih. Penghormatan terhadap Relikwi yang hanya berhenti pada Relikwi itu sendiri atau Santo/Santa itu sendiri, atau keuntungan material semata tanpa sampai kepada penyembahan kepada Tuhan bukanlah suatu hal yang benar. Sebagai contoh, selagi Gereja tempat St. Padre Pio di Giovanni – Rotondo, Italia, dapat dihormati Relikwi – Tubuh St. Padre Pio yang pada waktu hidup mengalami Luka-Luka Yesus (stigmata). Namun Penghormatan tersebut membawa kita kepada Tuhan, seperti: bagaimana dapat mencontoh St. Padre Pio, sehingga disadari bahwa di dalam setiap penderitaan sehari-hari, harus senantiasa dihadapi bersama Yesus dan menyatukan setiap penderitaan kita dengan Penderitaan Yesus di kayu salib. Tentu saja boleh meminta hal-hal lain, tetapi yang paling utama adalah agar kita diberi Rahmat seperti Para Kudus untuk menerima Roh Kudus dan menghasilkan Buah-Buah Roh yang lebih berlimpah.

St Teresa dari Avila


Dasar Alkitab

Penghormatan terhadap Relikwi, bukan karangan Gereja Katolik, namun mempunyai dasar Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bahwa Tuhan bekerja dengan caraNya yang ajaib dan sering dengan menggunakan perantaraan manusia atau material lain. Di dalam Perjanjian Lama dikatakan, bahwa Musa membawa tulang-tulang Yusuf sebagai pemenuhan akan permintaan Yusuf (Kel 13:19; Yos 24:32). Dan yang lebih eksplisit adalah bagaimana Elisa membawa jubah Elia dan memukulkannya di sungai Yordan, sehingga air terbelah, sehingga Elisa dapat menyeberangi sungai Yordan (2 Raj 2:9-14). Di kitab yang sama, diceritakan bagaimana mayat yang terkena tulang-tulang dari Elisa, dapat hidup kembali (2 Raj 13:20-21). Di dalam Perjanjian Baru diceritakan bahwa sapu tangan dan kain yang pernah dipakai oleh Paulus dapat menyembuhkan penyakit-penyakit (Kis 19:11-12). Kisah Para Rasul juga menceritakan bagaimana orang-orang membawa orang-orang sakit, sehingga minimal mereka dapat terkena bayangan dari Rasul Petrus dan kemudian sembuh (Kis 5:15). Dari beberapa ayat di atas, tergambar jelas bahwa Kesembuhan dan Mukjijat terjadi karena bersentuhan dengan Relikwi dari Para Kudus, yang disebabkan oleh Kuasa Allah. Gereja Katolik, tidak pernah mengajarkan bahwa Relikwi adalah jimat, yang mempunyai Kuasa terpisah dari Kuasa Allah. Allah mempunyai kebebasan untuk menyatakan KuasaNya dan salah satunya dengan menggunakan Relikwi. Dan memang terjadi banyak mukjijat, baik bersifat jasmani, maupun apalagi rohani dengan Perantaraan Relikwi dalam Sejarah Gereja Awal dan sampai jaman sekarang ini.

Perkembangan Relikwi

St Bernadete - Lourdes
Perkembangan Penghormatan terhadap Relikwi, dapat ditelusuri mulai dari pertengahan abad ke dua, dimana dapat dilihat Surat dari jemaat di Symria, yang menginginkan jenazah yang tertinggal dari St. Polikarpus yang dihukum bakar di tiang (156 – 157). Di surat tersebut dikatakan, “Kami mengambil Tulang-tulangnya, yang jauh lebih berharga daripada batu-batu mulia dan lebih murni daripada emas murni dan meletakkannya di sebuah tempat yang pantas, dimana Tuhan akan mengijinkan kami untuk berkumpul bersama, sesering yang kami dapat, dalam kebahagiaan dan sukacita dan untuk merayakan Hari Kemartirannya.” Dan masih begitu banyak Surat di abad-abad awal Kristen yang menyatakan Penghormatan mereka kepada Relikwi. Tradisi Penghormatan terhadap Relikwi, terus berkembang dengan pesat, sejalan dengan ditemukannya begitu banyak Mukjijat, yang juga disaksikan sendiri oleh St. Augustinus. Namun pada saat yang bersamaan St. Augustinus juga mengecam penipu-penipu yang memperdagangkan Relikwi, yang seringkali diragukan keasliannya. Konsili Trente sesi ke-25, juga mengeluarkan Peraturan, untuk menghindari penipuan-penipuan Relikwi. Dalam Kitab Hukum Gereja 1190 dikatakan:
§ 1. 1190 – § 1. Sama sekali tidak dibenarkan menjual Relikwi-Relikwi Suci.
§ 2. Relikwi-Relikwi yang bernilai tinggi dan Relikwi lain, yang sangat dihormati oleh umat, tidak bisa dengan sah dialih-milikkan dengan cara apapun atau dipindahkan untuk selamanya tanpa ijin Takhta Apostolik.
§ 3. Ketentuan § 2 itu berlaku juga untuk Gambar atau Patung Suci yang dalam Gereja sangat dihormati oleh umat. Namun tentu saja penipuan-penipuan ini tidak menghilangkan Kebenaran bahwa secara teologis Penghormatan kepada Relikwi ini mempunyai dasar yang kuat, seperti yang dilakukan oleh Konsili Trente, sesi ke-25 tentang Permohonan, Penghormatan dan Relikwi dari Para Kudus dan Gambar-Gambar yang Suci, “Tubuh Sakral Para Martir Kudus maupun Para Kudus lainnya yang hidup dalam Kristus, yang adalah anggota-anggota Rubuh Kristus yang Hidup dan Bait Roh Kudus dan yang dimaksud untuk di-Bangkitkan serta di-Muliakan oleh Nya dalam Kehidupan Kekal, hendaknya juga dihormati oleh umat beriman. Dari padanya, banyak manfaat di-Anugerahkan oleh Tuhan kepada manusia.” Dan ini diteguhkan dalam Kitab Hukum Kanonik no. 1237 – § 2. “Hendaknya tradisi kuno untuk meletakkan Relikwi-Relikwi Para Martir atau Orang-Orang Kudus lain di bawah Altar-Tetap, dipertahankan menurut norma-norma yang diberikan dalam buku-buku Liturgi.”

Bapa Gereja

Tulisan beberapa Para Kudus, seperti St. Jerome (340-420) yang mengatakan, “Kita tidak menyembah (non colimus, non adoramus), karena takut bahwa kami harus bersembah sujud kepada ciptaan daripada kepada Sang Pencipta, tetapi kita menghormati (honoramus) Relikwi dari Para Martir sehingga kita dapat Menyembah Dia, yang Empunya Para Martir” (Ad Riparium”, i, P. L., XXII, 907). Kemudian Cyril dari Alexandria (378-444) mengatakan, “Kita, bukanlah menganggap bahwa Para Martir Kudus sebagai Tuhan, atau bersembah sujud menyembah mereka, tetapi hanya secara relatif dan secara hormat [ou latreutikos alla schetikos kai timetikos].” (Adv. Julian.”, vi, P. G. LXXVI, 812). Dan masih banyak Tulisan dari Santo/Santa, yang menyatakan bahwa sudah semestinya umat beriman menghormati Relikwi, sehingga umat beriman dapat lebih memuji dan menyembah Tuhan yang memberikan inspirasi dan Berkat kepada Para Kudus dan Para Martir.

Kesimpulan

Dari pemaparan sedemikian, dapat diperhatikan bahwa Relikwi mempunyai dasar teologis yang kuat, baik ditinjau dari Alkitab, perkembangan historis dan juga perkembangan teologis. Relikwi dapat membawa umat kepada Tuhan yang memberikan inspirasi dan Berkat kepada Para Kudus. Pada akhirnya ini dapat memberikan inspirasi untuk mengikuti jejak Para Kudus, yang bekerja sama dengan Rahmat Tuhan, sehingga seperti mereka, bisa tetap setia, beriman dan melakukan Kasih sampai di akhir hidup kita. Sebab, terjadinya Mujizat, harus senantiasa diingat, bahwa semua itu adalah karena Kebesaran Tuhan yang bekerja melalui Relikwi.

Relikwi (Peninggalan)

St Teresa dari Lisieux
Berasal dari kata Latin, Reliquiae (counterpart dari Yunani, leipsana); yang sebelum penyebaran agama Kristen digunakan dalam pengertian pada beberapa obyek, terutama bagian tubuh atau pakaian, sebagai Peringatan Santo/Santa yang telah berangkat. Pemujaan peninggalan, yang pada kenyataannya sampai batas tertentu naluri primitif dan hal ini terkait di banyak sistem agama lain dan Kekristenan. Di Athena, sisa-sisa, seharusnya Oedipus dan Theseus, suatu penghormatan yang sangat sulit untuk dibedakan dari suatu sekte agama (Pfister, "Reliquienkult di Altertum", I, 1909), sedangkan Plutarch memberikan penjelasan penjabaran tentang tubuh Demetrius (Demetr. iii) dan Phocion (Phoc. xxxvii), yang dalam banyak rincian mengantisipasi praktek Kristen abad pertengahan. tulang atau abu dari Aesculapius di Epidaurus, dari Perdiccas I di Macedon dan bahkan - jika dapat dipercayai pernyataan Chronicon Paschale (Dindorf, hal. 67) - dari Persia Zoroaster (Zarathustra), diperlakukan dengan penghormatan terdalam. Adapun Timur Jauh, kisah terkenal distribusi peninggalan Buddha, suatu peristiwa yang diyakini telah terjadi segera setelah kematiannya, tampaknya telah ditemukan konfirmasi yang luar biasa dalam penemuan arkeologi modern. ("journ. R. Asiatic Society", 1909, hlm. 1.056 sqq.). Dalam setiap perkembangan kasus ekstrim dari peninggalan ibadah dalam umat Buddha dari setiap sekte, adalah fakta tak terbantahkan.

Ajaran Tentang Peninggalan

Ajaran Gereja Katolik berkaitan dengan Pemujaan peninggalan, diringkas dalam Keputusan Konsili Trente (Sess. XXV), yang memerintahkan kepada Para Uskup dan Pastor untuk diinstruksikan kepada kawanan domba, bahwa "Tubuh Suci Martir Kudus dan orang lain yang hidupnya seturut dengan Kristus, adalah anggota Tubuh Kristus yang Hidup dan 'Bait Roh Kudus' (1 Korintus 6:19) dan yang oleh Nya akan dibangkitkan untuk hidup kekal dan dimuliakan harus dihormati oleh umat beriman, karena melalui ini [tubuh] banyak manfaat yang secara kodrati melekat pada manusia, sehingga menegaskan bahwa Penghormatan dan Kehormatan bukan karena oleh peninggalan Orang-Orang Kudus atau ini dan lainnya. Monumen Suci sia-sia setia dihormati dan bahwa tempat-tempat yang didedikasi untuk kenangan Orang-Orang Kudus sia-sia dikunjungi dengan pandangan memperoleh bantuan mereka, sepenuhnya harus dikutuk, sebagai Gereja yang memiliki, sudah lama mengutuk dan juga sekarang." Selanjutnya, Dewan menegaskan bahwa "dalam doa Para Kudus, Penghormatan Relikwi dan penggunaan Gambar Suci, setiap tahayul dan perhambaan harus dihapuskan." Sekali lagi, "visitasi peninggalan harus tidak oleh menyimpang ke pesta pora dan kemabukan." Untuk mengamankan nota yang tepat atas pelanggaran semacam ini, "tidak ada mukjizat baru untuk diakui atau peninggalan baru diakui kecuali Uskup - Keuskupan yang mengambil, disetuji olehnya dan telah setiap orang mengetahuinya." Selain itu, Uskup, dalam hal ini, diarahkan untuk mendapatkan informasi akurat untuk mengambil Dewan dengan para teolog dan orang arif dan dalam kasus keraguan atau kesulitan yang luar biasa untuk menyerahkan masalah ini ke pernyataan dari Para Uskup wilayah dan dari provinsi lain, "belum sehingga tidak ada yang baru, atau yang sebelumnya belum biasa di Gereja, akan diselesaikan tanpa pada terlebih dahulu berkonsultasi dengan Takhta Suci." Pembenaran praktek Katolik, secara tidak langsung yang disarankan disini dengan mengacu pada Tubuh Orang-Orang Kudus yang sebelumnya sebagai Bait Roh Kudus dan sebagai yang ditakdirkan menjadi kekal dimuliakan, dikembangkan lebih lanjut dalam Otoritatif "Katekismus Romawi", misalkan disusun Dewan yang sama. Mengingat keajaiban disaksikan di Makam Para Martir, dimana "orang buta dan orang lumpuh dapat dikembalikan kesehatannya, ingat hidup mati dan * setan? * diusir dari tubuh manusia" Katekismus menunjukkan bahwa ini adalah fakta yang "St Ambrosius dan St Augustine, saksi paling unexceptionable, menyatakan dalam tulisan mereka bahwa mereka tidak hanya mendengar dan membaca tentang, karena banyak perlakuan tetapi telah melihat dengan mata kepala sendiri", (Ambrose, Epistola. xxii, nn. 2 dan 17, Augustine, Serm cclxxxvi, cv, Kota Allah XXII, "Mengaku.", ix). Dan dari situ, beralih ke analogi Alkitab, para penyusun lebih lanjut menyatakan: "Jika pakaian, kerchiefs (Kis 19:12), jika bayangan Orang-Orang Kudus (Kisah Para Rasul 5:15), sebelum mereka berangkat dari kehidupan ini, penyakit dibuang dan kekuatan dipulihkan, yang akan memiliki hardihood untuk menyangkal bahwa Allah biasa bekerja sama dengan Abu Suci, Tulang dan Peninggalan lainnya dari Orang-Orang Kudus?" ini adalah pelajaran yang harus dipelajari, bahwa mayat dari yang telah sengaja dibiarkan ke dalam Kuburan Eliseus, "ketika menyentuh tulang Nabi, langsung datang kehidupan" (2 Raja-raja 13:21 dan Sirakh 48:14). Dapat ditambahkan, bahwa mukjizat ini serta Penghormatan yang terbukti tulang Yusuf (Keluaran 13:19 dan Yosua 24:32) hanya mendapatkan kekuatan tambahan dari kontradiksi mereka ke Hukum Upacara terhadap pencemaran, yang dibaca dalam Bilangan 19:11-22 pengaruh Yahudi menyusut dari kontak dengan orang mati sejauh berapa lama diperlukan dalam ditemukannya "Konstitusi Apostel" (vi, 30), untuk mengeluarkan peringatan keras terhadap hal itu dan untuk berdebat mendukung kultus Peninggalan Kristen.
Menurut pendapat yang lebih umum dari teolog, Peninggalan yang harus dihormati; St Thomas, di Summa III: 25:6, tampaknya tidak dipertimbangkan bahkan kata Adorare pantas-KULTUR J duliae relativae, artinya Penghormatan dengan yang tidak yang dari latria (ibadah Ilahi) dan yang meskipun diarahkan terutama untuk obyek kultus material yaitu: tulang, abu, pakaian, dll, tidak bertahan disitu, tapi tampak luar untuk Orang-Orang Kudus mereka diperingati untuk jangka formal. Hauck, Kattenbusch dan penulis non-Katolik lain telah berusaha untuk menunjukkan bahwa ucapan-ucapan dari Konsili Trent yang bertentangan dengan apa yang mereka akui sebagai "sangat hati-hati" bahasa skolastik abad pertengahan dan terutama St Thomas. Yang terakhir ini mendesak, bahwa mereka yang memiliki kasih sayang kepada orang, terus menghormati semua yang erat dengan dia. Oleh karena itu, sementara mencinta dan memuliakan Orang-Orang Kudus yang begitu sayang kepada Allah, juga menghormati semua milik mereka dan terutama Tubuh mereka, yang pernah menjadi Bait Roh Kudus dan yang beberapa hari untuk menjadi serupa dengan Tubuh Kemuliaan Yesus Kristus. "Disitu juga," tambah St Thomas, "Tuhan tidak pantas untuk menghormati Peninggalan tersebut, dengan melakukan mujizat di hadapan mereka [di earum praesentia]." Akan terlihat bahwa ini erat selaras dengan istilah yang digunakan oleh Konsili Trent dan bahwa perbedaan hanya terdiri dalam hal ini, bahwa Dewan mengatakan per quae - "dimana banyak manfaat yang diberikan pada umat manusia" - sementara St Thomas berbicara tentang mukjizat bekerja "di hadapan mereka". Tetapi sangat perlu untuk melampirkan kata-kata per quae gagasan kausalitas fisik. Tidak dipunyai alasan untuk menganggap bahwa Dewan berarti lebih dari itu, Peninggalan Orang-Orang Kudus adalah peluang mujizat Tuhan. Ketika dibaca dalam Kisah Para Rasul, xix, 11, 12, "Dan Allah dikerjakan oleh tangan Paulus lebih dari mukjizat umum. Sehingga bahkan ada yang dibawa dari Tubuhnya yang sakit, sapu tangan dan celemek dan penyakit meninggalkan mereka dan roh-roh jahat keluar dari mereka" tidak ada sifat yang tidak tepat dikatakan bahwa ini juga adalah hal-hal dimana (per quae) Allah pembuat obatnya.
Tidak ada, karena itu, dalam ajaran Katolik untuk membenarkan pernyataan bahwa Gereja mendorong kepercayaan dalam kebajikan magis atau khasiat penyembuhan fisik berada di Relikwi itu sendiri. Ini dapat diterima bahwa St Sirilus dari Yerusalem (AD 347) dan beberapa penulis patristik dan abad pertengahan lainnya, tampaknya berbicara beberapa kekuasaan yang melekat pada Relikwi tersebut. Misalnya, St. Cyril, setelah mengacu pada keajaiban yang ditimbulkan oleh Tubuh Eliseus, menyatakan bahwa pemulihan kehidupan mayat yang dengan itu kontak terjadi: "untuk menunjukkan bahwa meskipun kebajikan jiwa hadir tidak berada dalam Tubuh Orang-Orang Kudus, karena jiwa orang benar yang telah selama bertahun-tahun dihuni dan digunakan sebagai Ministernya". Dan ia menambahkan, "Mari kita tidak bodoh, percaya seolah-olah hal itu tidak terjadi, karena jika sapu tangan dan celemek yang dari luar, menyentuh tubuh yang sakit, telah menyembuhkan orang sakit, harus berapa banyak lagi tubuh itu dari Nabi sendiri membangkitkan orang mati?" (Cat., Xviii, 16) Tapi ini agaknya tampak milik pandangan pribadi atau cara bicaranya St Cyril. Dia menganggap Kharisma setelah Konsekrasi "karena tidak ada obat yang sederhana namun Karunia Kristus dan dengan Kehadiran KetuhananNya menyebabkan kita di dalam Roh Kudus" (Cat, xxi, 3.) dan apa yang lebih mencolok, ia juga menyatakan bahwa Daging Kudus berhala, "meskipun di alam mereka sendiri polos dan sederhana menjadi profan oleh seruan roh jahat" (Cat., xx, 7) - semua harus ditinggalkan, sangat diragukan untuk dipercaya keasliannya dalam kebajikan fisik yang melekat dalam Relikwi. Jadi ini mungkin, karena dapat dipastikan, bahwa Gereja sehubungan dengan Pemujaan Peninggalan telah mendefinisikan semua, lebih dari apa yang tercantum di atas. Baik bahwa setelah Gereja pernah menyatakan Peninggalan tertentu, bahkan yang biasanya dihormati sebagai Kayu Salib, sebagai otentik; tetapi disetujui Penghormatan yang diberikan kepada Peninggalan yang dengan probabilitas yang wajar, diyakini asli dan yang diinvestasikan dengan skala tempo sanksi Gerejawi.

Sejarah Awal

Beberapa poin iman dapat lebih memuaskan ditelusuri kembali ke abad-abad awal kekristenan daripada pemujaan relik. Contoh klasik dapat ditemukan dalam surat yang ditulis oleh penduduk Smyrna, sekitar 156, menggambarkan kematian St Polikarpus. Setelah ia telah dibakar di tiang, kita diberitahu bahwa murid-murid yang setia ingin membawa lari jenazahnya, namun orang-orang Yahudi mendesak petugas Roma menolak persetujuannya karena takut bahwa orang-orang Kristen "hanya akan meninggalkan Salib dan mulai beribadah pada ini". Akhirnya bagaimanapun Smirna dikatakan, "kita mengambil tulang-tulangnya, yang lebih berharga dari batu mulia dan halus dibandingkan emas halus, dan menaruhnya di tempat yang sesuai, dimana Tuhan akan mengizinkan kita untuk mengumpulkan diri bersama-sama, seperti yang kita mampu, dalam sukacita dan sukacita, dan untuk merayakan kelahiran kemartirannya."  Ini adalah keynote yang bergema di banyak ayat-ayat serupa yang ditemukan, kemudian sedikit dalam penulis patristik dari Timur dan Barat. Nada Harnack mengacu pada perkembangan ini adalah bahwa saksi kewalahan oleh bukti dan tidak ada gunanya menolak. "Paling ofensif", ia menulis, "adalah penyembahan relik berkembang sampai batas terbesar pada awal abad keempat dan tidak ada dokter Gereja yang bereputasi Pembatasan tersebut. Terlebih semua, bahkan Kapadokian, countenanced. Berbagai mukjizat yang ditimbulkan oleh tulang dan peninggalan tampaknya terkonfirmasi dalam ibadat. Oleh karena itu, Gereja akan tidak berhenti belajar, meskipun serangan kekerasan dibuat atasnya oleh kafir, berkebudayaan sedikit dan lainnya oleh Manichaeans." (Harnack," Hist. Dog. ", tr., IV, 313).
Dari sudut pandang Katolik, tidak ada kemewahan atau penyalahgunaan dalam kultus ini seperti yang dianjurkan dan memang diterima begitu saja, oleh penulis seperti St Agustinus, St Ambrosius, St Jerome, St Gregorius dari Nyssa, St Krisostomus, St Gregory Nazianzen dan oleh semua dokter besar lain tanpa terkecuali. Untuk memberikan referensi rinci selain yang sudah dikutip dari akan berlebihan Katekismus Roma. Cukup ditunjukkan, bahwa sifat rendah dan kehormatan relatif akibat peninggalan, tetap disimpan dalam pandangan. Maka St. Jerome mengatakan ("Ad riparium", i, PL, XXII, 907): "Kami tidak menyembah, kita tidak memuja [non colimus, non adoramus], karena takut bahwa kita harus sujud kepada makhluk daripada kepada Sang Pencipta, tapi kami menghormati [honoramus] peninggalan para martir dalam urutan yang lebih baik untuk memuja NYA yang adalah Martir mereka." Dan St Sirilus dari Alexandria menulis ("Adv Julian..", Vi, PG LXXVI, 812): "Kami tidak berarti mempertimbangkan martir suci untuk menjadi dewa, atau kita biasa untuk sujud di depan mereka penuh cinta, tetapi hanya relatif dan hormat [ou latreutikos alla schetikos kai timetikos]." Ada mungkin tulisan tunggal memasukan gambaran yang lebih mencolok dari melekat pentingnya pada penghormatan relik dalam praktek Kristen abad keempat daripada yang berisi pujian dari martir St Theodore oleh St Gregorius dari Nyssa (PG, XLVI, 735-48). Membandingkan kengerian yang diproduksi oleh mayat biasa dengan penghormatan yang dibayarkan kepada Tubuh Seorang Santo Pengkhotbah, berbicara panjang lebar dalam pencurahan hiasan pada bangunan yang telah didirikan lebih dari Tempat Peristirahatan Martir dan dia menjelaskan bagaimana penyembah dipimpin mendekati makam "percaya bahwa menyentuhnya sendiri merupakan penyucian dan rahmat dan jika diijinkan untuk membawa keluar salah satu debu yang telah menetap pada tempat peristirahatan martir itu, debu tersebut dicatat sebagai hadiah besar dan dicetak sebagai harta yang berharga. dan untuk menyentuh relik itu sendiri, jika itu pernah, menjadi kebahagiaan bagi kita, hanya mereka yang telah mengalami dan yang memiliki keinginan, mereka bersyukur, dapat tahu seberapa ini diinginkan dan sebagaimana berharga balasannya adalah dari calon doa." (col. 740).
Bagian ini, yang mungkin banyak dikutip, bukan berdiam pada Kesucian Tempat Peristirahatan Martir dan kemudian dari jenazah itu secara keseluruhan dikumpulkan dan secara terhormat dimakamkan. Itu cukup mudah, baik periode praktek pemujaan fragmen tulang atau kain, paket kecil dari debu, dll, untuk ditentukan menit pertama menjadi umum. Bisa dikatakan, bahwa itu meluas pada awal abad keempat, pada tanggal prasasti blok batu, yang mungkin lembaran altar bisa membuktikan atas titik yang cukup meyakinkan. Tahun akhir, salah satunya ditemukan di Afrika Utara dan diawetkan di Museum Kristen dari Louvre, dibuat daftar peninggalan, disemen dalam rongga melingkar, digali dangkal di permukaannya. Kehilangan satu atau dua kata, kalimat prasasti tidak cukup jelas: "Peringatan suci [memoria Sancta] kayu salib, dari tanah Janji mana Kristus lahir, Rasul Petrus dan Paulus, nama-nama para martir Datian , Donatian, Cyprian, Nemesianus, Citinus, dan Victoria. pada tahun Provinsi 320 [yaitu AD 359] Benenatus dan Pequaria mengatur ini" ("Corp Inscr. Lat.", VIII, n. 20600).
Belajar dari St Sirilus dari Yerusalem (sebelum 350), bahwa kayu Salib, ditemukan c. 318, sudah didistribusikan ke seluruh dunia; dan St Gregorius dari Nyssa dalam kotbah-kotbahnya pada empat puluh Para Martir, setelah menggambarkan bagaimana Tubuh mereka dibakar oleh perintah dari para penganiaya, menjelaskan bahwa, "abu mereka semua dan terhindar dari api bahwa begitu sudah didistribusikan ke seluruh dunia, hampir setiap provinsi memiliki pangsa berkat. saya sendiri juga memiliki sebagian dari karunia kudus ini dan saya telah meletakkan mayat orang tua saya di samping abu prajurit tersebut, bahwa pada jam kebangkitan mereka dapat terbangun bersama dengan ini sangat istimewa kawan-kawan "(PG, XLVI, 764). Telah dijelaskan juga sedikit dari praktek luas mencari Pemakaman di dekat Makam Para Martir. Tampaknya terasa, bahwa ketika Jiwa-Jiwa Para Martir diberkati pada hari umum yang sekali lagi bersatu untuk Tubuh mereka, akan didampingi dalam Perjalanan mereka ke Surga, oleh orang-orang yang berbaring di sekitar mereka dan bahwa Kekuatan akhirnya di Catatan mereka ditemukan penerimaan yang lebih siap bersama Allah.
D apat dicatat juga, bahwa sementara dan ayat-ayat lain menunjukkan bahwa tidak ada kebencian besar dirasakan di Timur pada Divisi dan pemotongan dari Tubuh Para Kudus, di sisi lain di Barat, terutama di Roma, rasa hormat terbesar adalah terbukti Mati Suci. Menyentuh Tubuh Martir, dianggap persekutuan sangat berbahaya, yang dapat mengatur tentang Suci hanya dari Ecclesiastics, setelah doa dan puasa. Keyakinan ini berlangsung sampai akhir abad pertengahan dan diilustrasikan, misalnya, dalam kehidupan St Hugh dari Lincoln, oleh kejutan gembira yang semasa keberanian Uskup dalam memeriksa dan menerjemahkan peninggalan rekan-rekannya yang tidak berani mengganggu. Terjemahan dalam Kode Theodosian, divisi atau pemotongan sisa-sisa martir dengan tegas dilarang ("Nemo martyrem distrahat", Cod Theod, IX, xvii, 7..); dan agak belakangan Gregorius Agung tampaknya dalam istilah yang sangat tegas terbukti melanjutkan tradisi yang sama. Dia mengaku dirinya skeptis mengenai dugaan "kebiasaan orang Yunani" yang mudah memindahkan Tubuh Martir dari tempat ke tempat, menyatakan bahwa campur tangan seluruh Barat dengan Sisa Kehormatan ini, dipandang sebagai tindakan asusila dan bahwa banyak Teror Keajaiban telah menyerang ke dalam hati, bahkan brarti baik, orang-orang yang telah mencoba hal semacam itu. Oleh karenanya, meskipun Ratu Constantina sendiri yang meminta untuk Kepala atau beberapa bagian dari Tubuh St Paulus, ia memperlakukan permintaan sebagai salah satu kemungkinan, dijelaskan, bahwa untuk mendapatkan pasokan Peninggalan yang diperlukan dalam Konsekrasi Gerejawi, untuk menurunkan adat ke dalam Pengakuan Para Rasul sejauh kedua "katarak" - belajar dari Surat kepada Paus Hermisdas di 519 (Thiel, "Epistola. gen.", I, 873)] kotak mengandung bagian-bagian dari sutra atau kain, yang dikenal sebagai brandea dan brandea, setelah berbaring untuk sementara waktu, kontak dengan sisa Para Rasul Kudus, yang selanjutnya diperlakukan sebagai Relikwi. Tawaran Gregory selanjutnya, untuk mengirim Constantina, beberapa pengajuan dari Rantai St Petrus, bentuk sekarang yang sering ditemukan disebutkan dalam Korespondensi (Gregorius, "Epistola.", Senin Germ. Hist., I, 264 -66). Sudah pasti, bahwa jauh sebelum Konsepsi diperpanjang, sifat peninggalan seperti surat penting, mengungkapkan telah berangsur tumbuh. Saat sesudah Eusebius menulis (c. 325), obyek yang seperti rambut St Yakobus atau dengan banyaknya minyak Uskup Narcissus (Church History VII.39 dan Sejarah Gereja VI.9), jelas dihormati sebagai Relikwi dan St Augustine di Kota Tentang Allah (XXII.8), memberikan banyak contoh mukjizat yang ditimbulkan oleh Tanah dari Bunga Tanah Suci yang telah menyentuh peti atau setelah diletakkan di atas Altar tertentu, minyak dari lampu Gereja Martir atau oleh hal-hal lain yang tak kalah jauh terhubung dengan Orang-Orang Kudus. Selanjutnya perlu dicatat, bahwa prasangka Roma terhadap penerjemahan dan tampak membagi, telah diterapkan hanya pada Tubuh Para Martir, sebenarnya Reposing di Kuburan mereka. Adalah St Gregorius, yang memperkaya salib kecil, ditujukan untuk digantung di seputar leher sebagai encolpion, baik dengan pengajuan dari Rantai Santo Petrus dan dari lapangan hijau St Laurence ("Epistola.", Senin Germ. Hist. , I, 192). Sebelum tahun 350, St Sirilus dari Yerusalem, tiga kali memberitahukan bahwa fragmen kayu Salib, yang ditemukan St Helen, telah didistribusikan sedikit demi sedikit dan telah memenuhi seluruh dunia (Cat, iv, 10;. X, 19 ; xiii, 4). Ini berarti bahwa peziarah Barat tidak merasa lebih ketidakpantasan, dalam menerima dari pemberian Para Uskup Timur.
Selama periode Merovingian dan Kultus Carlovingian, Peninggalan meningkat daripada berkurang. Gregorius dari Tours, berlimpah, cerita keajaiban yang ditimbulkan oleh itu, serta praktek-praktek yang digunakan untuk Penghormatan mereka, beberapa di antaranya telah dianggap analog dengan orang-orang kafir "incubations" (De Glor. Conf., Xx); ia juga tidak menghilangkan penyebutan penipuan, sesekali dilakukan oleh bajingan melalui motif keserakahan. Sangat signifikan, karena Hauck (Kirchengesch. Deutschl., I 185) telah perhatikan adalah prolog untuk teks Hukum Salic, mungkin ditulis oleh kontemporer Gregorius dari Tours pada abad keenam. "Bangsa itu", ia mengatakan, "tidak diragukan lagi yang memiliki dalam pertempuran terbebas dari penindasan keras dari orang-orang Romawi, sekarang telah diterangi melalui Pembaptisan, telah menghiasi tubuh para martir suci dengan emas dan batu mulia, tubuh-tubuh yang sama yang Romawi bakar dengan api, dan ditusuk dengan pedang, atau melemparkan ke binatang buas yang akan menerkam." Ditemukan di Inggris, dari tradisi kuat pertama dalam arti sama yang berasal dari St Gregorius sendiri. Catatan Bede (Hist. Pengkhotbah., I, xxix), bagaimana Paus "diteruskan ke Agustinus semua hal yg diperlukan untuk ibadat dan pelayanan gereja, yaitu pembuluh suci, altar linen, ornamen gereja, imam dan jubah imam, peninggalan para Rasul yang kudus dan martir dan juga banyak buku ". Dianggap berasal dari Tobat ke St Theodore, Uskup Agung Canterbury, yang tentunya dikenal di Inggris pada tanggal awal, menyatakan bahwa "peninggalan orang-orang kudus harus dihormati", dan, ditambahkan, tampaknya di connexion dengan ide yang sama, bahwa "Jika memungkinkan untuk lilin dibakar disana setiap malam" (Haddan dan Stubbs, "Dewan", III, 191). Ketika mengingat lilin, Raja Alfred, terus menyala sebelum Relikwinya, keaslian klausul ini di Theodore lebih mungkin tampaknya Tobat. Satu lagi peninggalan Orang Kudus Inggris, misalnya dari St Cuthbert dan St Oswald, menjadi cepat terkenal, sementara dalam hal terakhir terdengar mereka ke seluruh benua. Mr Plummer (Bede, II, 159-61), telah membuat daftar pendek dari mereka dan menunjukkan bahwa mereka harus diangkut ke bagian terjauh dari Jerman. Setelah Konsili Nicea, di 7 87, bersikeras dengan urgensi khusus Relikwi itu harus digunakan dalam Pentahbisan Gereja dan kelalaian bahwa itu harus diberikan jika setiap Gereja telah ditahbiskan tanpa mereka Dewan Inggris Celchyth (mungkin Chelsea) memerintahkan agar Relikwi itu harus digunakan dan pada mereka standart Ekaristi Kudus. Tapi perkembangan Penghormatan Relikwi di Abad Pertengahan, yang terlalu luas untuk dikejar lebih lanjut. Tidak sedikit yang paling terkenal dari prasasti abad awal pertengahan, yang terhubung dengan hal yang sama. Cukup untuk disebutkan, prasasti terkenal Clematius di Cologne, merekam terjemahan sisa-sisa dari apa yang disebut Dua Belas Ribu Perawan (Krause, "Inscrip d. Rheinlande", no. 294) dan untuk diskusi tentang legenda, esai yang mengagumkan pada subyek oleh Kardinal Wiseman.

Penyalahgunaan

Tentu itu tidak mungkin dari lapangan antusiasme populer untuk begitu tinggi membangkitkan dalam hitungan dengan mudah meminjamkan diri untuk kesalahan, penipuan dan keserakahan keuntungan, tanpa setidaknya terjadi sesekali banyak pelanggaran berat. Pada awal akhir abad keempat, St Augustine mencela penipu tertentu berkelana pada kebiasaan para biarawan, menggambarkan mereka sebagai pembuat keuntungan dengan menjual peninggalan palsu ("De op. Monach.", Xxviii dan lih Isidore, "De. div. off.", ii, 16). Dalam Kode Theodosian, penjualan peninggalan dilarang ("Nemo martyrem mercetur", VII, ix, 17), tapi banyak cerita yang akan mudah untuk dikumpulkan serangkaian panjang, dimulai dengan tulisan-tulisan St Gregorius Agung dan St Gregorius dari Tours, membuktikan bahwa banyak orang berprinsip bahwa sarana memperkaya diri sendiri dengan semacam perdagangan benda-benda dari Pengabdian, yang sebagian besar tidak diragukan adalah palsu. Pada awal abad kesembilan, M. Jean Guiraud telah menunjukkan (Mélanges GB de Rossi, 73-95) ekspor tubuh martir dari Roma dimensi telah diasumsikan dari perdagangan reguler dan diakon tertentu, Deusdona, mudah mengakuisisi ketenaran dalam transaksi ini (Sen Germ. Hist .: Script., XV, passim). Mungkin dalam jangka panjang tidak berkurang bencana penipuan atau ketamakan bahwa persaingan tajam antara pusat-pusat keagamaan dan semangat mudah percaya dipupuk oleh keinginan untuk dikenal sebagai para pemilik beberapa Peninggalan yang luar biasa mengejutkan. Belajar dari Kasianus, pada abad kelima, bahwa ada yang disita biarawan pada tubuh martir tertentu dengan kekuatan senjata, menentang Otoritas Uskup dan ini adalah sebuah cerita yang ditemukan berkali-kali berulang dalam sejarah Barat di kemudian hari.
Dalam suasana seperti itu, peninggalan diragukan, durhaka datang berlimpah. Selalu ada disposisi untuk menganggap setiap manusia tetap tidak sengaja ditemukan di dekat suatu Gereja atau di Katakombe sebagai Tubuh Martir. Oleh karena itu, meskipun orang-orang seperti St Athanasius dan St Martin dari Tours menetapkan contoh hati-hati sebaiknya dalam kasus seperti itu, perlu ditakuti bahwa dalam sebagian besar kasus, interval waktu yang sangat sempit, hanya campur tangan bahwa mungkin saran antara obyek tertentu, atau seharusnya merupakan Relikwi penting dengan keyakinan bahwa tradisi yang dibuktikan itu benar-benar seperti itu. Tidak ada alasan, dalam banyak kasus, untuk pengandaian adanya penipuan yang disengaja. Persuasi bahwa hati Providence untuk kemungkinan dikirim pignora sanctorum paling berharga untuk klien yang layak, sudah melihat praktek dari penghubungan kesucian yang sama untuk obyek yang telah menyentuh kuil, melekat pada isi kuil itu, kebiasaan membuat faksimil dan imitasi, suatu kebiasaan yang masih dipertahankan sampai sekarang, dalam replika patung St Peter (Vatikan) atau dari gua Lourdes, semua ini adalah penyebab yang cukup untuk menjelaskan banyak peninggalan diragukan, lagi palsu dengan perbendaharaan yang besar penuh sesak Gereja abad pertengahan. Dalam hal Paku, yang dengannya Yesus Kristus disalibkan, dapat menunjukkan contoh tertentu, dimana yang pada awalnya dihormati sebagai memiliki mirip asli, kemudian menjadi harus dihormati seperti aslinya. Tergabung dengan ini, lisensi besar diberikan kepada oknum nakal, sesekali dalam usianya tidak hanya benar-benar kritis, tetapi anehnya sering mengerikan di-realisme dan menjadi mudah untuk dipahami keragaman dan pemborosan entri dalam ketersediaan peninggalan Roma dan negara-negara lain.
Di sisi lain, tidak harus menganggap, bahwa tidak ada yang dilakukan oleh Otoritas Gerejawi, untuk setia mengamankan terhadap penipuan. Tes tersebut diterapkan sebagai ilmu sejarah dan antik dari hari yang bisa dirancang. Sangat sering, namun, tes ini berupa banding ke beberapa sanksi aneh, seperti dalam cerita terkenal diulang dari St Ambrosius, yang menurutnya, ketika keraguan timbul yang mana dari tiga salib ditemukan oleh St Helena bahwa adalah Kristus yang menyembuhkan orang sakit, dengan salah satu dari mereka menghilangkan lebih lanjut semua keraguan. Demikian pula Egbert, Uskup Trier, di 979, konon meragukan keaslian apa menjadi tubuh St Celsus, "jangan ada kecurigaan harus muncul dari kekudusan relikwi suci, selama setelah persembahan Musa telah dinyanyikan, terlontar bersama jari St Celsus terbungkus kain menjadi penuh thurible dari bara api, tetap yang tanpa cedera dan tak tersentuh oleh api dari Kanon sepanjang waktu" (Mabillon" Acta SS Ord. Ben.. ", III , 658).
Dekrit sinode pada subyek ini, umumnya praktis dan masuk akal, seperti ketika Uskup Quivil dari Exeter di 1287, mengingat setelah dilarang Dewan Umum Lyons pada pemujaan peninggalan baru yang ditemukan, kecuali pertama-tama mereka disetujui oleh Uskup Roma, menambahkan: "Kami memerintahkan larangan atas diamati untuk kehati-hatian oleh semua dan memutuskan bahwa tidak ada orang akan mengekspos peninggalan untuk dijual, dan bahwa baik batu, atau air mancur, pohon, kayu, atau pakaian dengan cara apapun akan dihormati pada pesan mimpi atau alasan fiktif." Maka sekali lagi, seluruh prosedur sebelum Clement VII (anti-paus) pada 1359, baru dibawa ke Penerangan oleh Kanon Chevalier, dugaan berhubungan dengan Holy Shroud dari Lirey, bahwa terbukti setidaknya beberapa cek telah dieksekusi pada ekses dari ketidak bermoral atau tentara bayaran.
Namun demikian, tetap benar bahwa banyak Relikwi kuno lainnya sepatutnya dipamerkan untuk Penghormatan di tempat-tempat suci besar Kristen atau bahkan di Roma. Untuk mengambil satu contoh dari yang terakhir, Dewan Crib yang (Praesaepe) namanya selama lebih dari seribu tahun telah dikaitkan - seperti Basilika Santa Maria Maggiore - hanya dapat dianggap dari diragukan. Dalam monografi "Le memorie Liberiane dell 'infanzia di NS Gesù Cristo" (Roma, 1894), Mgr. Cozza Luzi terbuka menyatakan, bahwa semua bukti positif bagi keaslian peninggalan Crib dll, sebelum datang abad kesebelas. Anehnya, sebuah prasasti di uncials Yunani abad kedelapan, ditemukan di salah satu papan, prasasti yang tidak ada hubungannya dengan Crib, tapi tampaknya terkait dengan yang beberapa transaksi komersial. Sulit untuk dijelaskan kehadirannya, pada anggapan bahwa Relikwi itu asli. Kesulitan yang sama ia mungkin mendesak pada "kolom dera", yang seharusnya dihormati di Roma, di Gereja Santa Prassede dan terhadap banyak Peninggalan terkenal lainnya.
Tetapi itu akan menjadi angkuh, dalam kasus tersebut, menyalahkan aksi Otoritas Gerejawi, dalam kemungkinan kelanjutan dari kultus yang membentang kembali terpencil ke jaman dahulu. Di satu sisi tidak ada yang terkendala untuk memberi Penghormatan kepada Relikwi dan seandainya hal itu terjadi pada kenyataannya palsu, tidak ada penghinaan yang dilakukan untuk Allah dengan kelanjutan kesalahan yang telah diwariskan dengan itikad baik yang sempurna selama berabad-abad. Di sisi lain, kesulitan praktis terucapkan putusan akhir atas keaslian ini dan peninggalan yang sejenis harus jelas untuk semua. Setiap penyelidikan akan terjadi banyak urusan, waktu dan biaya, sementara penemuan-penemuan baru setiap saat bisa saja membalikkan tiba di kesimpulan. Selanjutnya, ibadah tanggal kuno berakar di jantung kaum tani tidak dapat hanyut tanpa beberapa ukuran skandal dan gangguan populer. Untuk membuat sensasi, ini tampaknya tidak bijaksana, kecuali bukti spuriousness sangat luar biasa untuk sejumlah kepastian. Oleh karena itu, ada pembenaran untuk tugas Tahta Suci dalam kemungkinan kultus peninggalan purbakala tertentu diragukan untuk dilanjutkan. Sementara itu, banyak yang telah dilakukan, kemungkinan diam-diam, banyak oleh item di beberapa koleksi paling terkenal dari peninggalan putus dari pandangan atau secara bertahap menghilangkan banyak kekudusan yang sebelumnya dikelilingi eksposisi meragukan harta ini. Banyak persediaan koleksi besar Roma atau dari Aachen, Cologne, Naples, Salzburg, Antwerpen, Konstantinopel, dari Sainte Chapelle di Paris dll, telah diterbitkan. Untuk referensi demi ilustrasi mungkin dibuat untuk Count de kerja Riant ini "Exuviae Constantinopolitanae" atau banyak dokumen yang dicetak oleh Mgr. Barbier de Monault tentang Roma, khususnya di vol. VII nya "Oeuvres complètes". Dalam sebagian besar persediaan kuno, pemborosan dan ketidakmungkinan mengucapkan banyak entri tidak bisa lepas dari yang paling kritis. Selain itu meskipun semacam verifikasi tampaknya sering dapat dilacak bahkan di saat Merovingian, masih disebut otentikasi yang telah dicetak dari tanggal awal ini (abad ketujuh) adalah dari jenis yang paling primitif. Mereka sebenarnya terdiri dari label belaka, strip perkamen dengan hanya nama relik yang mana setiap strip terpasang, barbarously ditulis dalam bahasa Latin. Misalnya "Hic sunt reliquas Sancti Victuriepiscopi, Festivitate Kalendis Septembris", "Hic sunt patrocina Sancti Petri et paullo Roma civio", dll.
Mungkin akan benar dikatakan, bahwa tidak ada bagian dari penghormatan dunia, adalah Relikwi yang dibawa ke besaran panjang dengan tidak diragukan lagi bahaya pelecehan proporsional, oleh kepada orang-orang Celtic. Kehormatan dibayar kepada Lonceng, Tangan Para Kudus seperti St Patrick, St Senan, dan St Mura, petualangan aneh tetap suci dilakukan sekitar mereka dalam pengembaraan mereka dengan orang-orang Armorican di bawah tekanan dari invasi oleh Teuton dan Orang Utara, yang menonjol diberikan kepada pengambilan sumpah atas peninggalan di berbagai Kode Welsh yang didirikan pada Hukum Howell The Good, expedients digunakan untuk memperoleh kepemilikan harta tersebut dan berbagai terjemahan pesan dan mukjizat, semua bantuan untuk menggambarkan pentingnya aspek kehidupan Gerejawi ras Celtic ini.

Penerjemahan

Pada saat yang sama kekhidmatan melekat pada terjemahan itu tidak berarti kekhasan bangsa Celtic. Kisah penjabaran sisa-sisa St Cuthbert adalah hampir sama luar biasa seperti halnya di hagiografi Celtic. Bentuk diamati Berjaga sepanjang malam dan tercatat sisa-sisa berharga dalam "feretories" emas atau perak, dibayangi dengan kanopi sutra dan dikelilingi dengan lampu dan dupa, diperpanjang untuk setiap bagian dari Kristen pada abad pertengahan. Memang seperti ini terjemahan khidmat (elevatio corporis) diberlakukan sebagai pengakuan luar kesucian heroik, setara dengan Kanonisasi, pada periode sebelum Tahta Suci memilik sendiri, lewat putusan final atas manfaat Kematian Hamba Allah dan di sisi lain dalam bentuk-bentuk awal dari Kanonisasi Kepausan, adat itu untuk ditambahkan klausul yang mengarah pada sisa-sisa kesucian demikian mereka dicanangkan oleh Kepala Gerejawi, adalah harus "ditinggikan" atau diterjemahkan beberapa kuil di atas tanah dimana kehormatan bisa dibayarkan.
Hal ini tidak selalu dilakukan sekaligus. Maka St. Hugh dari Lincoln, yang meninggal pada 1200, dikanonisasi pada 1220, tapi tidak sampai 1280 bahwa Tubuhnya diterjemahkan ke Indahnya "Angel Choir" yang telah dibangun, ketegasan untuk menerima mereka. Terjemahan ini dicatat, bukan hanya karena Raja Edward I sendiri membantu untuk membawa Tandu, tetapi karena memberikan contoh yang khas dari pemisahan Kepala dan Tubuh dari Orang Kudus, yang merupakan fitur khas dari begitu banyak terjemahan bahasa Inggris. Contoh paling awal dari pemisahan ini, mungkin, bahwa St Edwin, Raja dan Martir; tapi harus juga St Oswald, St Chad, St Richard dari Chichester (diterjemahkan tahun 1276) dan St William dari York (diterjemahkan 1284). Besar kemungkinan bahwa upacara diamati dalam penerjemahan khidmat, erat ditiru dengan yang digunakan dalam pengabadian Relikwi Sepulcrum Altar di Konsekrasi Gereja, sementara pada gilirannya, ini sebagai Mgr Duchesne telah menunjukkan, tidak lain adalah pengembangan layanan pemakaman primitif Martir atau Santo/Santa yang dimakamkan di Gereja yang didedikasikan untuk Penghormatan. Namun tercatat, Peninggalan tidak ajaib untuk prosesi yang berlangsung didedikasikan Gereja. Kehadirannya diakui sebagai tambahan cocok untuk solemnities, hampir setiap jenis prosesi, kecuali mungkin mereka dari Sakramen Maha Kudus dan tidak terkecuali pada abad pertengahan dibuat lebih untuk kedua ini.

Pesta Relikwi

Ini telah lama menjadi kebiasaan, terutama di Gereja-Gereja yang memiliki koleksi besar Relikwi, untuk melestarikan satu Pesta Umum dalam rangka memperingati semua Orang Kudus yang ada, peringatan diawetkan. Fungsi dan Misa, untuk tujuan ini akan ditemukan dalam Misale Roma dan Brevir dan meskipun itu hanya terjadi dalam suplemen locis Pro aliquibus dan tidak diwajibkan atas Gereja pada umumnya, perayaan ini masih dilestarikan hampir secara universal. Fungsi umum ditugaskan untuk hari Minggu keempat di bulan Oktober. Di Inggris sebelum Reformasi, seperti yang dapat dipelajari dari rubrik di Sarum Brevir, Festum Reliquiarum yang dirayakan pada hari Minggu setelah Hari Raya kepada St Thomas of Canterbury (7 Juli) dan itu akan diselenggarakan sebagai Ganda Lebih Besar, "dimana pun Relikwi yang diawetkan atau dimana Tubuh seorang dikubur, karena meskipun Gereja Kudus dan Ministernya diamati ada kekhidmatan untuk Penghormatan mereka, Kemuliaan mereka, dengan menikmati Allah diketahui dikenal kepada Nya saja."

Peninggalan di Jaman Klasik

Amphora menggambarkan Yunani pahlawan kultus untuk menghormati Oedipus (angka merah Apulian, 380-370 SM). Di Yunani kuno, sebuah kota atau tempat kudus mungkin mengklaim memiliki, tanpa harus menampilkan, sisa-sisa pahlawan dihormati sebagai bagian dari kultus pahlawan. Benda terhormat lain yang terkait dengan pahlawan lebih mungkin dipajang di tempat-tempat suci, seperti tombak, perisai atau persenjataan lain; kereta, kapal laut atau boneka; perabotan seperti kursi atau tripod; dan pakaian. Tempat kudus Leucippides di Sparta mengaku menampilkan telur Leda. Tulang-tulang tidak dianggap sebagai pemegang kekuasaan tertentu yang berasal dari pahlawan, dengan beberapa pengecualian, seperti bahu ilahi Pelops yang berada di Olympia. Keajaiban dan penyembuhan tidak teratur berkaitan dengan mereka; lebih tepatnya, kehadiran mereka dimaksudkan untuk melayani fungsi sebagai pengawas makam Oedipus, dikatakan untuk melindungi Athena. Tulang Orestes dan Theseus seharusnya telah dicuri atau dihapus dari tempat peristirahatan asli mereka dan dikuburkan kembali. Atas saran dari Oracle Delphi, Spartan mencari tulang Orestes dan membawanya pulang, mereka yang tidak diberitahu, tidak bisa diharapkan menang dalam perang melawan tetangga (Tegeans). Plutarch mengatakan, bahwa Athena yang juga diperintah oleh Oracle, untuk mencari dan mencuri Relik Theseus dari Dolopians. Tubuh legendaris Eurystheus juga seharusnya melindungi Athena dari serangan musuh dan di Thebes, bahwa nabi Amphiaraus, kultus yang adalah dogmatis dan penyembuhan. Plutarch menceritakan transferrals mirip dengan Theseus untuk sejarah tubuh Demetrius I dari Makedonia dan Good Phocion, tulang atau abu dari Aesculapius di Epidaurus dan dari Aku Perdiccas di Macedon, diberlakukan dengan penghormatan yang terdalam.
Seperti peninggalan Theseus, tulang kadang digambarkan dalam sumber-sumber sastra sebagai raksasa, indikasi "lebih besar daripada kehidupan" status pahlawan. Atas dasar ukuran yang dilaporkan, telah diduga bahwa tulang tersebut adalah makhluk prasejarah, penemuan mengejutkan yang mungkin telah mendorong pengudusan situs.
Kepala penyair-nabi Orpheus seharusnya telah diangkut ke Lesbos, dimana ia diabadikan dan dikunjungi sebagai Oracle. Abad ke-2 geografi Pausanias melaporkan, bahwa tulang-tulang Orpheus disimpan dalam vas batu ditampilkan pada pilar di dekat Dion, tempat kematiannya dan pusat agama besar. Ini juga dianggap memiliki kekuatan dogmatis, yang mungkin diakses melalui mimpi dalam ritual inkubasi. Eksposur disengaja, tulang membawa bencana pada kota Libretha, dimana orang-orang dari Dion telah dipindahkan relik untuk menjaga mereka sendiri.
Menurut Chronicon Paschale, tulang Persia Zoroaster yang dihormati, tetapi tradisi Zoroastrianisme dan kitab suci yang tidak memberikan dukungan ini.


Kekristenan


Sejarah

Salah satu sumber paling awal
yang dimaksudkan untuk menunjukkan
Keajaiban Relikwi
ditemukan dalam 2 Raja-raja 13:20-21
Elisa meninggal dan dikuburkan. Perampok Moab sekarang menggunakan untuk memasuki negara setiap musim semi 21. Sementara sekali beberapa orang Israel sedang menguburkan seorang pria, tiba-tiba mereka melihat sekelompok perampok; sehingga mereka melemparkan tubuh manusia ke makam Elisa. Ketika tubuh menyentuh tulang-tulang Elisa, orang itu hidup kembali dan berdiri di atas kakinya. (BIS).
D ikutip juga adalah Pemujaan Relikwi Polikarpus, dicatat dalam Kemartiran Polikarpus (ditulis 150-160 AD). Berkenaan dengan Peninggalan yang menjadi obyek, suatu bagian yang sering dikutip adalah Kisah Para Rasul 19: 11-12, yang mengatakan bahwa saputangan Paulus yang dijiwai oleh Allah dengan kekuatan penyembuhan.
Praktek Pemujaan Relikwi, tampaknya telah diambil untuk diberikan oleh para penulis seperti Agustinus, St Ambrosius, Gregorius dari Nyssa, St Krisostomus dan St Gregorius Nazianzen. Faro Cignitti, OSB, menulis, "... [T] ia tetap mati dikelilingi tertentu dengan perawatan khusus dan Penghormatan. Hal ini karena Tubuh yang terkait dalam beberapa cara dalam Kesucian jiwa mereka yang menunggu bersatu dengan Tubuh mereka dalam Kebangkitan." Thomas Aquinas (d. 1274), menunjukkan bahwa itu wajar bahwa orang harus menghargai apa yang terkait dengan orang mati, seperti barang pribadi seorang kerabat. Dalam sebuah wawancara dengan Catholic News Service, P. Mario Conte, editor eksekutif Rasul Allah majalah St Anthony di Padua, Italia, mengatakan, "Relikwi Para Kudus membantu orang mengatasi abstrak dan membuat koneksi dengan Kekudusan .... Suci tidak melakukan mujizat. Hanya Tuhan melakukan mukjizat , tetapi orang kudus adalah Pendoa."
Peninggalan dari kuil St Boniface dari
Dokkum di pertapa-Gereja Warfhuizen:
fragmen tulang di tengah adalah dari St Boniface;
makalah sedikit dilipat di sisi kiri dan kanan
berisi fragmen tulang Santo Benediktus dari Nursia
dan Bernard dari Clairvaux.
Di Gereja mula-mula, gangguan, apalagi Divisi sisa-sisa Martir dan Orang Kudus lainnya, itu tidak dilakukan. Mereka diijinkan untuk tetap di tempat-tempat peristirahatan yang sering teridentifikasi dalam kuburan dan katakombe Roma, selalu di luar tembok kota, tapi martyriums mulai dibangun di atas situs pemakaman dan itu dianggap bermanfaat bagi jiwa menjadi dekat dimakamkan dengan sisa-sisa Para Kudus, besar beberapa "ruang penguburan" yang dibangun di atas situs-situs Kuburan Martir, termasuk Basilica Tua Santo Petrus. Awalnya, bukan Gereja biasa, tetapi "kuburan tertutup" penuh dengan kuburan dan dirayakan pemakaman dan peringatan jasa. Tampaknya telah dirasa bahwa ketika jiwa-jiwa Para Martir Diberkati pada Hari Kebangkitan Orang Mati yang sekali lagi bersatu untuk Tubuh mereka, mereka akan didampingi dalam Perjalanan mereka ke surga oleh orang-orang yang berbaring di sekitar mereka dan bahwa kekuatan terakhir pada Catatan mereka ditemukan penerimaan yang lebih siap dengan Allah.
Konsili Nicaea pada 787 menarik pada ajaran St John Damaskus, bahwa Penghormatan atau Penghargaan tidak benar-benar dibayarkan kepada benda mati, tetapi untuk Orang Suci dan memang Penghormatan oleh Orang Suci itu sendiri, Ciri Hormat yang dibayarkan kepada Tuhan. Dewan memutuskan bahwa setiap mezbah harus berisi Relikwi, sehingga jelas bahwa ini sudah norma, karena sekarang masih di Gereja-Gereja Katolik dan Ortodoks. Penghormatan Relikwi Orang-Orang Kudus, mencerminkan keyakinan bahwa Orang-Orang Kudus di Surga berdoa untuk orang-orang di bumi. Sejumlah obat dan mukjizat telah dikaitkan dengan Relikwi, bukan karena kekuatan mereka sendiri, tetapi karena Kekudusan Santo/Santa yang mereka wakilkan.
Banyak kisah mukjizat dan keajaiban lain dikaitkan dengan Relikwi, dimulai pada abad-abad Awal Gereja. Ini menjadi populer selama abad pertengahan. Cerita ini dikumpulkan dalam buku-buku dari hagiografi seperti Golden Legenda atau karya-karya Kaisar Heisterbach. Cerita keajaiban ini membuat Peninggalan banyak dicari selama abad pertengahan. Pada akhir abad pertengahan, pengumpulan dan urusan Relikwi, telah mencapai proporsi yang sangat besar dan telah menyebar dari Gereja untuk Royalti dan kemudian ke bangsawan dan kelas pedagang.
Konsili Trent dari 1563, memerintahkan Uskup, untuk menginstruksikan domba mereka, bahwa "Tubuh-Tubuh Kudus Martir Suci ... harus dihormati oleh kaum beriman, karena melalui ini [Tubuh] banyak manfaat yang secara kodrati melekat pada manusia". Dewan lebih lanjut menegaskan bahwa "dalam doa Orang-Orang Kudus, Penghormatan Relikwi dan penggunaan Gambar Suci, setiap tahayul harus dihapus dan semua hamba uang dihapuskan."
Ada banyak juga Relikwi dikaitkan dengan Yesus, mungkin paling terkenal Kain Kafan dari Turin, dikatakan kain kafan Yesus Kristus.
St Francis Xavier humerus,
Gereja St Joseph, Makau.
Kultus Martin dari Tours sangat populer di Merovingian Gaul dan berpusat di suatu Gereja besar yang dibangun di luar tembok Tours. Ketika Santo Martin meninggal November 8, 397, di tengah desa antara Tours dan Poitiers, penduduk kota ini adalah siap baik berjuang untuk Tubuhnya, dimana orang-orang dari Tours berhasil mengamankan secara sembunyi-sembunyi. Tur menjadi titik utama ziarah Kristen di Gaul, tempat resort untuk Penyembuhan Orang Sakit. Gregorius dari Tours, telah melakukan perjalanan ke kuil, ketika ia telah tertular penyakit serius. Kemudian, sebagai Uskup Tours, Gregory menulis tentang mukjizat yang dikaitkan dengan perantaraan St Martin.
Dalam pengantarnya untuk Sejarah Gregory dari kaum Frank, Ernest Brehaut menganalisis konsep Romano-Kristen yang memberi Peninggalan kuat seperti pengimbang. Ia membedakan penggunaan konstan Gregorius sanctus dan virtus, yang pertama dengan makna akrab dari "kudus" atau "suci" dan yang keduanya sebagai "potensi mistik yang berasal dari orang atau hal yang sakral. ... Dalam cara praktis kata kedua [virtus] ... penggambaran luar biasa, kekuatan misterius yang berasal dari supernatural dan mempengaruhi alam. ... titik-titik ini kontak dan menghasilkan Keajaiban adalah kami terus mendengar.

Relikwi dan Ziarah

Roma menjadi tujuan utama bagi para peziarah Kristen, lebih mudah akses seperti itu, untuk peziarah Eropa daripada Tanah Suci. Constantine, Besar didirikan: Basilika Diatas Makam Santo Petrus dan Paulus. Perbedaan dari situs ini adalah adanya Relikwi Suci. Sebagai abad pertengahan yang berkembang, tempat-tempat lain yang diperoleh Peninggalan penting dan menjadi pusat ziarah. Pada abad kesebelas dan kedua belas, sejumlah besar peziarah berbondong ke Santiago de Compostela di Spanyol, dimana Peninggalan Sang Rasul Santo Yakobus Yang Hebat diyakini telah ditemukan sekitar 830.
Dengan 1.100 keyakinan Patronase Suci, mencerminkan struktur sosial feodalisme, agama Kristen memperoleh Perlindungan dan Pendoa yang Mati Kudus, dengan membawakan mereka hadiah atau menyediakan mereka dengan layanan. Peninggalan Orang Kudus lokal menarik pengunjung ke situs-situs seperti St Frideswide di Oxford dan San Nicola Peregrino di Trani.
Daripada harus melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk menjadi dekat dengan Orang Suci yang dihormati, orang bisa memuliakan Relikwi Suci di dalam rumah seorang diri. Relikwi bukan jimat, atau pesona keberuntungan tetapi sebagai Alat bagi kita untuk menjadi lebih dekat dengan Orang Suci itu dan tentunya Tuhan. Relik ditempatkan pada Teka A. Teka sering dalam bentuk melingkar dengan desain. Tetra, dapat dibuat dari emas, perak atau logam. Orang-orang percaya akan, oleh karena itu, berziarah ke tempat-tempat yang di-Kuduskan oleh Kehadiran Fisik Kristus atau Orang Kudus terkemuka, seperti situs Makam Suci di Yerusalem.

Efek Ekonomi

Relikwi Suci, sebagai tujuan peziarahan dan wisata agama, perlu tempat makan dan dilengkapi souvenir,Relikwi menjadi sumber pendapatan, tidak hanya untuk tujuan peristirahatan mereka, tapi untuk biara, Gereja-Gereja dan kota-kota perjalanan. Peninggalan yang berharga, karena mereka portabel. Mereka bisa dimiliki, diinventarisasi, diwariskan, dicuri dan diselundupkan. Mereka bisa menambah nilai ke situs yang didirikan atau memberi signifikansi pada lokasi baru. Persembahan dibuat di sebuah situs ziarah yang merupakan sumber penting pendapatan bagi masyarakat yang menerima mereka atas nama Orang Kudus. Menurut Patrick Geary, "o masyarakat cukup beruntung untuk memiliki Relikwi Orang Kudus di Gereja, manfaat dalam hal pendapatan dan status yang sangat besar dan persaingan untuk memperoleh Relikwi dan mempromosikan kebajikan Orang Kudus lokal atas negara dari masyarakat tetangga yang sangat antusias". Pastor lokal mempromosikan Orang-Orang Kudus, Pelindung mereka, dalam upaya untuk mengamankan pangsa pasar. Di pada kesempatan, penjaga, harus mengawasi Orang Kudus yang sakit parah dan perempuan, untuk pencegahan pemotongan tidak sah dari Tubuh mereka, segera setelah mereka meninggal. Geary juga menunjukkan bahwa bahaya seseorang membunuh seorang tua Kudus, dalam rangka memperoleh Relikwi, ini adalah keprihatinan Legal.
Peninggalan digunakan untuk menyembuhkan orang sakit, untuk mencari Pendoa untuk bantuan kelaparan atau wabah, untuk mengambil Janji Kudus dan untuk menekan faksi untuk berdamai di Hadapan Kudus. Pengadilan Relikwi, diadakan sejak jaman Merovingian. St Angilbert, diperoleh untuk Charlemagne, salah satu koleksi paling mengesankan di dunia Kristen. Pasar aktif dikembangkan, Peninggalan masuk ke perdagangan sepanjang-rute perdagangan, yang sama diikuti oleh komoditas portabel lainnya. Matthew Brown, mengibaratkan seorang diakon Italia abad kesembilan bernama Deusdona, dengan akses ke katakombe Roma, seperti melintasi Alpen untuk mengunjungi Pameran Monastik Eropa Utara seperti dealer seni kontemporer.
Canterbury, adalah tujuan populer bagi peziarah Inggris, yang melakukan perjalanan untuk menyaksikan Peninggalan Kerja-Keajaiban Thomas Becket, Uskup Agung Canterbury Kudus, yang menjadi Martir di tangan ksatria Raja Henry II di 1170. Ketika Becket menjadi Martir, penggantinya dan bab Canterbury cepat digunakan Relikwi, untuk mempromosikan kultus sebelum Martir un-dikanonisasi. Motivasi, termasuk Pernyataan Kemerdekaan Gereja, terhadap penguasa, keinginan untuk memiliki bahasa Inggris (Norman English) Saint of European Reputation dan keinginan untuk mempromosikan Canterbury sebagai tujuan ziarah. Pada tahun-tahun pertama setelah kematian Becket, sumbangan ke kuil diberikan dua puluh delapan persen dari total pendapatan Katedral.

Kesenian

Banyak Gereja dibangun di sepanjang rute ziarah. Banyak di Eropa, entah itu dibangun atau kembali didirikan secara khusus untuk pengabadian Relikwi, (seperti San Marco di Venesia) untuk menyambut kekaguman banyak peziarah, untuk datang mencari bantuan. Bangunan Romawi, merenovasi lorong-lorong di belakang Altar untuk kemungkinan penciptaan beberapa Kapel kecil, yang dirancang untuk Rumah Relikwi. Dari luar, kamar yang kecil untuk koleksi ini, dipandang sebagai kelompok lembut tersamar, atap melengkung di salah satu ujung Gereja, ciri khas dari banyak Gereja Roma. Gereja Gothic tampil tinggi, di dalam tersembunyi beranda, menyediakan Ruangan Patung dan menampilkan Relikwi.
Sejarawan dan filsuf seni Hans Belting, mengamati, bahwa dalam Lukisan abad pertengahan, Gambar menjelaskan Relikwi tersebut dan disajikan sebagai bukti keasliannya. Di Likeness dan Presence, Belting berpendapat, bahwa Pemujaan Relikwi membantu, untuk merangsang hadirnya lukisan di Eropa abad pertengahan.

Reliquaries (Peti Relikwi)

Peti di Gereja San Pedro, Ayerbe, Spanyol. Reliquaries adalah sarana untuk melindungi dan menampilkan Relikwi, yang sering dalam bentuk peti mati dan bisa juga dalam banyak bentuk. Karena Relikwi adalah berharga, maka diabadikan, dibuatkan dalam wadah atau dilapisi emas, perak, permata dan enamel. Secara luas, Gading digunakan pada abad pertengahan untuk Reliquaries; warna putih murni, indikasi status suci isinya. Benda-benda ini merupakan bentuk utama dari produksi kesenian di seluruh Eropa dan Byzantium sepanjang abad pertengahan.

Palsu

Dengan tidak adanya cara yang pasti untuk menilai keaslian, Kolektor Relikwi menjadi mangsa oleh yang tak bermoral dan harga yang sangat tinggi yang dibayarkan. Pemalsuan berkembang dari awalnya, Agustinus mengecam penipu yang berkeliaran menyamar sebagai biarawan, membuat keuntungan dari penjualan peninggalan palsu. Dalam Admonitio Generalis dari 789, Charlemagne memerintahkan bahwa "nama-nama martir palsu dan dari Orang-Orang Kudus peringatannya pasti tidak boleh dihormati". Konsili Lateran Keempat (1215), Gereja mengutuk pelanggaran seperti peninggalan palsu dan klaim berlebihan.
Potongan Salib Sejati, adalah salah satu yang sangat paling dicari dari Peninggalan tersebut; banyak Gereja mengaku memiliki potongan itu, yang terkenal begitu banyak, John Calvin mengatakan bahwa "ada cukup potongan-potongan Salib Sejati untuk membangun dari sebuah kapal", meskipun studi pada tahun 1870 ditemukan, adalah pengumpulan peninggalan diklaim Salib pada waktu itu beratnya kurang dari 1,7 kg.

Larangan dan Klasifikasi Katolik Roma

Relikwi Sakral tidak boleh disembah, karena hanya Allah yang disembah dan dipuja. Sebaliknya, Pemujaan yang diberikan kepada mereka adalah "julia". Selain itu, St Jerome menyatakan, "Kami tidak menyembah, kami tidak suka, karena takut bahwa kami harus sujud kepada makhluk daripada kepada Sang Pencipta, tapi kami menghormati Peninggalan Para Martir dalam urutan yang lebih baik untuk Memuja Nya yang adalah Martir mereka."
  • Relikwi-kelas pertama: Produk langsung yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa Kehidupan Kristus (palungan, cross, dll), atau sisa-sisa Tubuh Orang Kudus (tulang, rambut, tengkorak, anggota badan, dll). Secara tradisional, Peninggalan Seorang Martir sering lebih berharga daripada Peninggalan Orang-Orang Kudus lainnya. Bagian dari Santo/Santa yang signifikan terhadap Kehidupan Suci adalah Peninggalan berharga lainnya. Misalnya, lengan kanan Raja St Stephen Hungaria, sangat penting karena statusnya sebagai Penguasa. Satu Kepala Teolog terkenal, mungkin Peninggalan yang paling penting. (Kepala St Thomas Aquinas telah dihapus oleh Para Biarawan di Biara Cistercian di Fossanova dimana ia meninggal). Jika Yang Kudus melakukan banyak bepergian, maka tulang kakinya mungkin berharga. Ajaran Katolik, melarang Peninggalan yang akan dibagi menjadi bagian kecil, dikenalkan, jika mereka akan digunakan dalam Liturgi (seperti dalam suatu Altar, tercantum dalam Ritus Peresmian Gereja dan Altar).
  • Relikwi-kelas kedua: Item Suci dikenalkan (kemeja, sarung tangan, dll), adalah juga termasuk item Kudus yang dimiliki atau sering digunakan (misalnya salib, rosario, buku dll). Juga item lainnya, yang penting dalam Kehidupan Santo/Santa, demikian lebih pentingnya Peninggalan. Kadang Relikwi - kelas kedua, adalah bagian dari item Kudus yang dikenakan, dikenal sebagai Ex indumentis ("pakaian"). : Setiap obyek yang disentuh dengan Relikwi-kelas pertama, kelas kedua atau sebagian kelas ketiga adalah bagian kecil dari kain, meskipun dalam minyak milenium pertama adalah populer yang disebut Monza Ampullae, mengandung minyak yang dikumpulkan dari lampu bakar sebelum situs utama Kehidupan Kristus dan beberapa Reliquaries memiliki lubang untuk minyak yang akan dituangkan ke dalam dan ke luar. Banyak orang berkata, kain menyentuh Tulang Suci, "mantan brandea". Tapi ketat mantan brandea, mengacu pada potongan-potongan pakaian yang tersentuh Tubuh atau Makam Para Rasul. Sebuah istilah yang digunakan untuk hanya seperti, bukan istilah yang cocok untuk Relikwi-kelas ketiga.
  • Relikwi-kelas ketiga: Mengenai cara Pemujaan Relikwi, ada larangan menempatkan mereka di atas Meja Altar, untuk Pemujaan publik dicadangkan hanya untuk eksposisi Sakramen Maha Kudus. 

Gereja Timur - Ortodoks

Salib Grapevine St Nino dari Georgia
(Katedral Sioni, Tbilisi, Georgia)
Pentingnya Relikwi di dunia Byzantine, dapat dilihat dari Pemujaan yang diberikan kepada sebuah Salib Sejati, diyakini telah ditemukan oleh Helena, Ibu dari Konstantinus I pada abad keempat. Peninggalan penting lainnya, termasuk korset yang dikenakan oleh Perawan dan potongan-potongan Tubuh atau pakaian Orang-Orang Kudus. Peninggalan seperti itu, langka dan tidak memberi akses pada sebagian besar orang percaya untuk siap, dekat dengan yang Kudus. Pertumbuhan dan popularitas Kontak Relikwi di-reproduksi, di abad kelima dan keenam, membuktikan bahwa kebutuhan untuk merasa akses lebih luas ke Ilahi. Kontak Relikwi ini biasanya melibatkan penempatan benda yang tersedia, seperti potongan kain, tablet tanah liat atau air, kemudian botol bagi orang percaya, berhubungan dengan Relikwi. Atau, benda-benda tersebut dapat dicelupkan ke dalam air yang telah berhubungan dengan Relikwi (seperti tulang Orang Kudus). Relikwi ini, oleh periode ini, menanamkan bagian kuat Penghormatan, meningkatkan ketersediaan akses ke Ilahi, tetapi di-reproduksi tidak jauh (peninggalan asli diperlukan) dan biasanya masih diperlukan orang percaya untuk melakukan ziarah kembali atau memiliki kontak dengan seseorang yang memilikinya.
Tercatat penghapusan paling awal, atau terjemahan dari sisa-sisa Kudus, adalah bahwa dari St Babylas di Antiokhia pada 354, tetapi mungkin sebagian, karena Konstantinopel tidak memiliki banyak Makam Suci dari Roma, mereka segera menjadi umum di Kekaisaran Romawi Timur, meskipun masih dilarang di Barat, oleh karena itu Timur Ibukota dapat memperoleh sisa-sisa Suci Timotius, Andreas dan Lukas dan juga mulai pembagian Tubuh. Teolog abad ke-5, Theodoretus menyatakan, bahwa "tetap Grace seluruh dengan setiap bagian". Di Barat, Keputusan Theodosius, hanya diperbolehkan bergerak dari seluruh sarkofagus dengan isinya, namun gejolak invasi dari barbar diluar aturan, tetap perlu direlokasi seperti ke tempat-tempat yang lebih aman.
Pemujaan Relikwi, terus menjadi penting di Gereja Ortodoks Timur, sebagai hasil alami dari konsep dalam teologi Ortodoks theosis, Tubuh dari Orang-Orang Kudus, dianggap diubah oleh Rahmat Ilahi. Memang, semua orang Kristen Ortodoks, dianggap disucikan oleh Kehidupan Mistik Gereja dan terutama oleh menerima Misteri Suci (Sakramen). Dalam buku layanan Ortodoks, sisa-sisa yang setia berangkat disebut sebagai "peninggalan" dan diperlakukan dengan Penghormatan dan Penghargaan. Untuk alasan ini, Tubuh Kristen Ortodoks tradisional tidak dibalsem.
Penghormatan Relikwi Para Kudus, sangat penting di Ortodoks dan akan sangat sering Gereja-Gereja menampilkan Peninggalan Kudus mencolok. Dalam sejumlah biara, terutama di Gunung Suci (Gunung Athos di Yunani), semua Peninggalan biara yang memiliki ditampilkan dan dihormati setiap malam di Compline. Seperti Penghormatan ikon, Peninggalan (Yunani; δουλια, dulia) itu di Gereja Ortodoks jelas dibedakan dari Adorasi (λατρεια, latria); yaitu bahwa ibadah yang karena Allah saja. Dengan demikian, ajaran Ortodoks setia memperingatkan terhadap penyembah berhala dan pada saat yang sama tetap berlaku untuk mengajar Kitab Suci (vis 2 Raja-raja 13:. 20-21), sebagaimana yang dipahami oleh Tradisi Kudus Ortodoks.
Pemeriksaan Relikwi, merupakan langkah penting dalam Pemuliaan (kanonisasi) dari Orang-Orang Kudus baru. Kadang, salah satu tanda dari Pengudusan, adalah kondisi Peninggalan Kudus. Beberapa Orang Kudus tidak bisa hancur, yang berarti bahwa jasad mereka tidak membusuk dalam kondisi ketika mereka biasanya akan (mumifikasi alami tidak sama dengan ketidakbusukan). Kadang bahkan, ketika daging tidak membusuk, tulang sendiri akan mewujudkan tanda-tanda Kesucian. Mereka mungkin madu berwarna atau mengeluarkan bau yang harum. Beberapa Peninggalan, akan memancarkan mur. Tidak adanya manifestasi tersebut, tidak selalu merupakan tanda bahwa Orang tersebut tidak Kudus.
Relikwi, memainkan peran utama dalam Konsekrasi Gerejawi. Pengudusan Uskup, akan ditempatkan Peninggalan pada diskos (paten) di sebuah Gereja di dekat Gereja yang akan ditahbiskan, mereka kemudian akan diambil dalam Prosesi Salib untuk Gereja baru, dilakukan tiga kali, di sekeliling struktur baru dan kemudian ditempatkan dalam Meja Kudus (Altar), sebagai bagian dari layanan Konsekrasi.
Peninggalan Orang-Orang Kudus (tradisional, selalu orang-orang martir), juga dijahit ke antimension yang diberikan kepada imam oleh Uskup, sebagai sarana penganugerahan kemampuan atasnya (yaitu, memberikan dia ijin untuk merayakan Misteri Suci). Antimens, disimpan di Tempat Tinggi Meja Kudus (Altar) dan dilarang untuk merayakan Liturgi Kudus (Ekaristi) tanpa itu.
Geeja Timur - Ortodoks, tidak menggunakan sistem klasifikasi ketat, jika dibandingkan dengan Gereja Katolik Roma dan mengakui dan memuliakan Peninggalan, yang berhubungan dengan Yesus Kristus atau Orang Kudus, seperti peninggalan dari Salib Sejati, Rantai dari St Petrus (hari raya, 16 Januari), Salib Pohon Anggur dari St Nino dari Georgia, dll. Lokasi Tempat juga dapat dianggap Suci. Ketika seorang melakukan ziarah ke kuil, ia mungkin membawa pulang sesuatu dari Lokasi Tempat itu, seperti Tanah dari Tanah Suci atau dari Makam Orang Suci.



Sumber

Katolisitas.org; ew Catholic Encyclopedia, Vol. 12 QAT-SCR, 2nd ed. (Gacl, 1981), p.234; Wikipedia.
franstenggara@gmail.com
didedikasikan untuk Bunda kami
Copyright © 2014