GEREJA KATOLIK ENSIKLOPEDI

Kontemplasi

Kontemplasi


Gagasan Kontemplasi begitu erat dengan Teologi Mistis, bahwa tidak ada yang dapat mendeskripsikan secara independen, dengan dari yang lain; maka di sini akan ditetapkan apa Teologi Mistik.

Disalib dengan Kristus


"Sekarang aku bersukacita menderita karena Engkau dan dalam dagingku, aku mengisi apa yang kurang pada penderitaan Kristus atas nama TubuhNya, yang merupakan Gereja ..." 
-St Paul ke Colossians- (Kol 1:24)

Mistik tak terhitung banyaknya dalam Gereja Katolik, termasuk Para Kudus Mistik Populer, menilai Mistik dan wahyu pribadi dan dalam ketaatan kepada Gereja.
Dalam 1 Tes 5:19-22, Rasul Paulus berkata: "Janganlah padamkan Roh Jangan menghina nubuatan Uji segalanya, mempertahankan apa yang baik..". Jadi, pada dasarnya Paulus mendorong, untuk tidak membenci bernubuat, tetapi pada saat yang sama ia mengatakan, untuk berhati-hati dan untuk menguji roh. kehidupan yang luarbiasa, dari salah satu Mistik Sr Magdalena dari Salib, yang dipandu iblis selama 50 tahun, dimaksudkan untuk menjadi peringatan bagi semua orang, dari bahaya mistisisme palsu dan visioner palsu. Darah dan Api - Misteri Penderitaan dan Cinta dalam kehidupan yang luar biasa dari Para Mistikus
Titik Sentral dari Kekristenan, adalah bahwa Yesus mengalami Kematian yang mengerikan di Kayu Salib, agar kita dapat diampuni dari dosa-dosa. Alkitab berkata "... Namun itu adalah kelemahan kita yang Ia tanggung, penderitaan kita Ia alami, sementara kita menganggapNya sebagai terlanda, sebagai salah satu yang dipukul oleh Tuhan dan ditindas. Tetapi Dia tertikam oleh karena pelanggaran kita, diremukkan oleh karena dosa-dosa kita, Setelah Dia dihukuman yang membuat kita selamat, berdasarkan bilur-bilurNya kita menjadi sembuh." (Yes 53:4-5). Dengan demikian, Yesus menjadi Korban, untuk dosa-dosa kita dan karena ini, sekaligus Pedang Kesedihan, menembus Jantung BundaNya - Yang Menderita, dalam Persatuan denganNya, Anak IlahiNya. (Luk 2:34-35).
Karakter Mistikus, adalah orang yang aktif dan sengaja mencari hubungan langsung dan penyatuan dengan Tuhan melalui Doa dan Pengabdian. Seorang Mistik, tidak perlu menjadi salah satu penerima Rahmat Mistik yang luar biasa seperti visi, ektase atau lokusi batin. Dengan kata lain, Mistik, tidak perlu menerima komunikasi langsung dari Tuhan. Menerima Rahmat Mistik yang luar biasa dari Allah untuk memperkuat dan membimbing dalam Misi di dalam Gereja. Dengan Kehendak Pengungkapan Allah, Mistik bersatu dengan Yesus dan Maria dalam Penderitaan bagi Pertobatan orang-orang berdosa. Sebagai korban jiwa, diikat di Kayu Salib dalam Persatuan dengan Yesus dalam tujuan untuk melanjutkan penawaran Juruselamat kita kepada Bapa, silih bagi dosa-dosa kita. Dengan kata lain adalah Coredeemers dengan Kristus dan MisiNya, adalah untuk memimpin jiwa-jiwa kepada Tuhan. Adalah Pecinta Besar, Allah yang menawarkan dan memberikan Diri sepenuhnya, untuk "mengisi apa yang kurang pada Penderitaan Kristus atas nama TubuhNya, yaitu jemaat" (Kol 1:24). Meskipun Mistik sering tenggelam dalam lautan rasa sakit, seperti yang di-Kehendaki Tuhan, juga pada saat yang sama penuh kasih, sukacita dan kebahagiaan, menikmati Kasih Allah, dalam Kesatuan menyenangkan dengan Yesus dan BundaNya. Misalnya St Gemma Galgani, yang luar biasa, berkata kepada Yesus dalam ekstase Cinta, "Yesus memiliki hati saya dan berada di kepemilikan Yesus saya menemukan bahwa saya bisa tersenyum, bahkan di tengah-tengah begitu banyak air mata. Saya merasa, ya, saya merasa bahwa saya senang bahkan di tengah-tengah begitu banyak penderitaan." Karena partisipasi unik dalam Sengsara dan akibat Persatuan Khusus dengan Yesus, Mistik Gereja, dikenal karena ekspresi mereka yang luarbiasa dari kasih kepada Tuhan dan jiwa. Seringkali aksen ini, Panah Cinta yang keluar dari hati, semua terbakar untuk Kasih Allah yang ditangkap di buku harian dan surat-surat mereka atau dalam banyak kasus, dengan kata-kata cinta yang mengalir keluar dari bibir mereka saat berada di ekstase dan hati dicatat oleh orang-orang terdekat. Ekspresi seperti cinta yang adalah benar-benar Harta yang mengilhami dan mengobarkan hati kita yang membacanya. Ekspresi cinta dan pengabdian, yang kita miliki dari Mistikus, ditambah dengan contoh kehidupan mereka Pengorbanan Heroik, penderitaan dan kebajikan, membentuk permata, Harta Rohani paling indah dan mutiara unik untuk setiap Mistik, kita bisa belajar banyak dari kehidupan Para Mistik.
Karena sifat manusia yang lemah, kita secara alami menghindar dari penderitaan dan pengorbanan dan banyak jiwa-jiwa Korban Kehidupan Mistik, tentu penuh pengorbanan dan penderitaan. Tapi kita tidak harus menghindar dari Mistik, karena mereka memberikan kita Harta Pengabdian, inspirasi dan bimbingan Rohani, menunjukkan kepada kita langsung bagaimana Tuhan untuk dicintai dengan sepenuh hati, disetiap saat dan musim dan terutama pada saat dari penderitaan, cobaan dan pengorbanan. Itu bahkan adalah Jiwa Korban Mistik KhususNya, yang membahas "masalah" penderitaan manusia. Mengajarkan kita bagaimana untuk menderita dalam Persatuan dengan Yesus, Yesus menawarkan untuk penderitaan dan pengorbanan dan penyatuan penderitaan kita dengan Nya. Mistik, mengajarkan kepada kita, bahwa cukup sering cinta dan pengorbanan berjalan beriring dan "bahkan di tengah-tengah kemalangan kami, kita selalu dipersatuan dengan Sengsara Yesus yang memberi kita kekuatan, kedamaian dan sukacita."

Maka dari itu, Mistikus memainkan peran sentral dalam kehidupan dunia. Ia menggemakan kalimat besar dari Konsili Vatikan II: ‘Sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan orang jaman ini, teristimewa mereka yang miskin dan yang tersiksa entah bagaimana caranya, ini pun adalah sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan para pengikut Kristus.’
(Gaudium et Spes, Prakata 1; Dokumen Konsili Vatikan II)


1. Panggilan anak-anakNya kepada Hidup Mistik


Berkat Kasih dan Karunia Allah, kita dijadikan anak-anakNya, bukan hasil dari perbuatan kita: “Perhatikan, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anakNya dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Dengan apakah Allah menjadikan kita anak-anakNya? Dengan Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita (Rm 5:5), yakni sewaktu kita Dibaptis. Lalu apa konsekuensinya bagi kita agar pantas disebut anak-anak Allah? Jawabannya kita temukan pada petunjuk Santo Paulus, "yaitu kalau kita menyerahkan hidup kita untuk dibimbing oleh Roh Kudus" (Rm 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anakNya”). Dipimpin Roh Allah, inilah kerohanian Utama dari anak-anak Allah. Apakah makna di dalam kerohanian yang luhur ini? Panggilan Hidup Mistik, yang berada tersembunyi di dalam kerohanian ini. Roh Kudus, ialah Roh Bapa, Roh Putra dan Roh Kudus, diberikan Allah untuk bersemayam di dalam diri kita, untuk membantu kita dalam mengenal Bapa dan Yesus; Sang Putra. Tujuan Roh Kudus tidak lain ialah agar kita semakin mengenal Bapa dan Putra secara mendalam dan intim. Pengenalan tersebut terjadi tidak saja lewat akal budi, tetapi lebih secara eksperiensial (lewat pengalaman). Sebagaimana Roh Kudus sendiri berada dalam kekerabatan yang amat mendalam dan intim dengan Bapa dan Putra, begitu pula Dia menghendaki keintiman yang sama, yang terdapat juga dalam relasi kita dengan Bapa dan Putra. Singkatnya, Misi Utama Roh Kudus ialah agar kita mengalami Pengenalan Allah; yang mendalam, secara pribadi, serta eksperiensial. Pengalaman Akan Allah secara mendalam, inilah yang dimengerti sebagai Hidup Mistik dalam teologi Katolik. Hidup Mistik, merupakan pengalaman batin yang mendalam akan Allah. Mistik dalam teologi Katolik, bukan dimaksudkan sebagai segala perkara yang berbau gaib, klenik, magis. Melainkan suatu Pengalaman Akan Allah yang amat intim dan mendalam, tidak saja lewat akal budi melainkan juga lewat pengenalan batin. Jadi jelaslah, bahwa Roh Kudus sebenarnya bermaksud membimbing kita kepada Hidup Mistik. Dengan demikian, anak-anakNya yang sejati seharusnya orang-orang Mistikus. Hanya dengan menjadi seorang Mistikus, anak-anak Allah baru bisa menghasilkan Citra Allah Yang Sempurna. Begitu luhur panggilan kita sebagai anak-anakNya. “Hidup Mistik, mempunyai nilai yang tak ada bandingnya dan yang akan menuntun kepada Kebenaran Suci dan kebahagiaan batin”, demikianlah ujar St. Teresa dari Avila, seorang Mistikus dan Pujangga Gereja Yang Besar. Coba kita bayangkan dan renungkan, Demi apakah Allah memberikan RohNya sendiri ke dalam hati kita? Bukankah Roh Kudus ialah anugerah Allah yang amat berharga dan terlalu tinggi Nilai-Nya? Roh Kudus, dianugerahkan bukan demi tujuan yang kecil, melainkan demi suatu Karya Ilahi yang begitu besar. Roh Kudus dicurahkan Allah agar menjadi Guru Mistik bagi kita, yakni agar kita juga bisa menghayati dan mengalami hidup yang sama terlalu tinggi Nilai-Nya dan amat berharga-Nya, yakni Hidup Mistik.

2. Karakter seorang Mistikus


Seorang mistikus bukanlah orang yang 'wah', hebat dan luar biasa secara lahiriah. Mereka bisa jadi orang yang sederhana saja, namun yang memiliki cinta yang luar biasa Kepada Allah dan sesama. Pengalaman Mistik mereka, berbeda satu dengan yang lain, ada yang amat mendalam dan ada yang biasa saja, tergantung panggilan pribadi masing-masing. Dasar persamaannya ialah batin mereka yang begitu erat bersatu dengan Allah, entah dia seorang yang hidup dengan pelayanan aktif, maupun seorang kontemplatif.
Pertama, kita soroti mereka yang amat mendalam pengalaman batinnya, sehingga sering mengalami gejala ekstase, levitasi (tubuh terangkat), bilokasi (menampakkan diri di dua lokasi pada saat bersamaan), visiun. Bahkan ada yang sampai pada tingkat tertinggi dari Pengalaman Mistik, yaitu: Perkawinan Rohani. Masuk dalam golongan ini, ialah Santa Teresa dari Avila dan St. Yohanes dari Salib (Mistikus dan Pujangga Gereja, seorang Karmelit dari Spanyol; mereka berdua hidup se-jaman). Seorang Mistikus, yang sampai pada taraf Perkawinan Rohani, sungguh bernilai bagi Gereja dan dunia. Seorang yang mencapai taraf ini, jauh lebih berguna bagi Gereja dan dunia, ketimbang seribu teolog brilian, namun yang bukan Mistikus, ataupun sejuta orang sukses lainnya namun kafir. Sebab mereka sudah mencapai Persatuan Cinta yang sempurna dengan Kristus, sehingga seluruh perbuatannya merupakan Gerak Ilahi, yang menguduskan dan menyelaraskan dunia. Akibatnya, Doa dan Kurban-Kurban mereka pun sungguh menyenangkan Hati Allah, sehingga bisa menyilih dosa dunia.
Kedua, ada pula yang tidak mengalami Pengalaman Mistik yang hebat-hebat seperti yang dialami kedua Mistikus Karmelit di atas. Misalnya, Muder Teresa dari Kalkuta (meninggal September 1997), yang merupakan The Living Saint yang pernah hidup pada jaman ini. Beliau bisa dikatakan seorang mistikus dalam kategori ini. Semua orang yang pernah berjumpa dengan Muder Teresa mengakui kesalehan dan kesucian hidupnya. Wajahnya memancarkan aura cinta kasih yang mendalam. Pembawaannya tenang, rendah hati dan bersahaja. Dari ceritanya, kita tahu, bahwa dia tidak pernah mengalami ekstase, levitasi, visiun. Namun dari “karya cinta kasihnya terhadap orang miskin”, tak seorang pun yang membantah pancaran hidup Mistiknya yang mendalam. Seperti yang diungkapkannya, Pengalaman Mistik ini sebenarnya ditimba dari meditasi dan devosi yang mendalam terhadap Ekaristi. Bagi Muder Teresa, waktu setelah menyambut Tubuh Kristus dalam Komuni merupakan saat-saat Kedekatan Mistiknya dengan Kristus. Tak aneh, kata-kata dan tindakannya pun punya wibawa dan kuasa, sebab mengalir dari hati yang tersentuh oleh pengalaman langsung akan Kasih Allah. Paus Yohanes Paulus II, sebenarnya bisa pula dikatakan sebagai seorang Mistikus, dalam kategori ini. Beliau juga seorang yang amat saleh dan mendalam Hidup Doanya.
Selain kedua gambaran di atas, sebenarnya banyak Mistikus lain yang hidupnya tersembunyi. Mereka ialah anak-anak Allah yang saleh, yang menghayati Injil dengan otentik dan konsekuen. Memang banyak di antara mereka tak dikenal. Ada yang awam, ada pula kaum biarawan-biarawati. Hidup mereka banyak yang tersembunyi dalam kemesraan/keintiman batin yang mendalam, seperti yang dialami Perawan Maria di desa terpencil di Nazaret. Mungkin mereka tidak mempunyai karya yang membuat nama mereka mencuat. Namun, hanya Allah yang tahu betapa hidup mereka, walaupun tersembunyi, sesungguhnya amat menggarami dan menerangi dunia, membawa kekudusan bagi dunia. Mereka adalah Pendoa-Pendoa anak-anak Allah yang bersatu secara Mistik dengan Allah. Apa jadinya dunia ini bila tidak ada mereka? Sebagaimana dosa mempunyai dimensi sosial − melukai kesucian Gereja dan dunia − begitu pula kesalehan dan kesucian juga menguduskan Gereja dan dunia.
Karakter kuat dari seorang Mistikus ialah seorang Pendoa. Akan tetapi, dia bukanlah seorang pendoa yang suka mencari waktu sendirian dalam arti tidak lagi peduli terhadap dunia, yang dengan sengaja lari dari dunia demi dirinya sendiri. Memang ada orang tertentu dengan panggilan istimewa − para pertapa atau eremit, misalnya Para Bapa padang gurun, yang ditarik Roh Kudus, Sang Guru Mistik, kepada hidup kesunyian yang total. Seorang Mistikus tidak harus lari dari dunia. Dia bisa tetap tinggal di dalam dunia (hidup aktif) bersama batinnya terus Berdoa. Prinsipnya tergantung panggilan pribadi mereka masing-masing. Walaupun demikian, seorang Mistikus biasanya seorang Kontemplatif. Meskipun seakan-akan menganggur dalam Kesunyian Hidup Doa, sebenarnya mereka sedang menjalani misi Tersembunyi dari Hidup Mistik seperti yang terungkap dalam refleksi Santa Klara ini: “Jika engkau seorang Kontemplatif, cintamu menjangkau keluar ke seluruh dunia dan engkau mengangkat semua kesakitan, penderitaan dan kebingungan dunia ke dalam doa dan cintamu. Engkau merupakan bagian bagi setiap orang dan segala sesuatu dan engkau merasakan secara nyata keterikatanmu dengan semua ciptaan. Siapakah kiranya merasa sepi, di tengah begitu banyaknya hal untuk dicintai, begitu banyak hal untuk diperhatikan, begitu banyak kebutuhan untuk disampaikan kepada Bapa?”
Maka dari itu, Mistikus memainkan peran sentral dalam kehidupan dunia. Ia menggemakan kalimat besar dari Konsili Vatikan II: "Sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan orang jaman ini, teristimewa mereka yang miskin dan yang tersiksa entah bagaimana caranya, ini pun adalah sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan para pengikut Kristus." (Gaudium et Spes, Prakata 1; Dokumen Konsili Vatikan II). Dan seperti kata William Johston dalam bukunya Teologi Mistik, Para Mistikus adalah orang-orang kreatif. Tidak semua orang Mistikus itu aktif, karena beberapa di antaranya hidup dan meninggal dalam ketersendirian, tetapi semuanya Kreatif.

3. Roh Kudus Guru Mistik


3.1. Hidup Mistik: Lorong Hidup Batin yang penuh misteri


Hidup Mistik, bisa diibaratkan suatu Lorong Hidup Batin yang penuh misteri. Membina hidup rohani yang mendalam dengan Allah, berarti bahwa kita memasuki suatu Lorong yang penuh misteri. Kemana Lorong misteri ini membawa kita? Tidak lain daripada Kepada Allah, Yang adalah Mysterium tremendum et fascinosum (Misteri yang menggentarkan sekaligus mempesona, Rudolph Otto). Lalu siapa yang bisa diandalkan untuk menjadi guru bagi kita dalam meniti kemisterian Lorong ini? Tak ada yang dapat mengerti tentang Allah selain Roh Allah sendiri (1Kor 2:11: “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah”). Hanya Roh Allah yang merupakan Pewahyu Sejati Akan Allah Sang Misteri. Jadi, hanya Roh Kudus-lah Pembimbing Sejati bagi orang yang berani memasuki Lorong Hidup Batin yang penuh misteri ini.

3.2. Karakter Guru


Selain mengajar dan mendidik, guru ialah seorang yang mengilhami, menuntun, membimbing. Selain menguji, dia juga menghibur, menguatkan, menyemangati. Pengajar, inspirator, penuntun, pemurni (penguji), penghibur, inilah peran seorang guru, yang juga kita temukan dalam diri Allah Roh Kudus. Dialah Sang Penghibur yang diutus Bapa dalam Nama Yesus, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita, termasuk Misteri Hidup Mistik (Yoh 14:26). Dia-lah Guru Doa, yang mengajar kita bagaimana Berdoa dalam segala kelemahan kita (Rm 8:26). Dia-lah Roh Kebenaran yang akan mengilhami Hidup Mistik bersama Yesus (Yoh 15:26). Sebagai Penguji/Pemurni, Roh Kudus ialah Rahmat Yang Menguduskan (The Sanctifying Grace, St. Thomas Aquino) dan Api Yang Membakar (St. Yohanes dari Salib). Roh Kudus juga se-Orang Guru Pendamping Yang Amat Setia, yang selalu Hadir dalam diri kita untuk menyertai kita sampai akhir jaman (Mat 28:20).

3.3.Roh Kudus, Guru Hidup Mistik Para Kudus


Para Kudus (Santo/Santa) − St. merupakan contoh dan keteladanan ideal. Maka bergunalah apabila kita memeriksa Peran Roh Kudus sebagai Guru Mistik dalam hidup mereka. Kita tidak bisa menyoroti semua, namun hanya beberapa saja yang kiranya mengalami Hidup Mistik lebih menonjol. Di sini kita akan menyinggung Perawan Maria, tipe Kontemplatif Sejati; St. Agustinus, teolog dan Mistikus; dua Mistikus Karmel: St. Teresa dari Avila, St. Yohanes dari Salib; St. Paulus − Misionaris Gereja Awal.
Seorang Murid Sejati Dari Roh Kudus, inilah Julukan yang tentunya bisa kita kenakan pada Perawan Maria. Maria sungguhlah se-Orang Kontemplatif murni dan sempurna. Dia menghayati ketersembunyian desa terpencil Nazaret dalam suatu pengalaman batin yang mendalam dengan Gurunya: Roh Kudus. Dia menyimpan semua perkara dalam hatinya, meresapkannya dalam dialog batin yang amat mesra dan abadi bersama Sang Guru. Dengan bantuan Sang Guru, Perawan Maria bisa mengerti Misteri Bayi Yesus yang dikandungnya. Roh Kudus juga menguatkannya untuk menanggung derita dalam kesetiaan total menemani Sang Putra sampai di Kayu Salib. Dan karena eratnya persatuan antara murid dan Guru ini, Maria digelari sebagai Mempelai Allah Roh Kudus.
Bagi St. Agustinus, seorang teolog dan Mistikus besar dari abad ke-4 yang tulisannya terkenal dan dirujuk sampai sekarang, Roh Kudus dianggap Magister Internus (Guru Batin). St. Agustinus bisa dijadikan contoh seorang pendosa besar yang bertobat, yang lalu, dengan bantuan Sang Magister Internus, sampai kepada Pengalaman Mistik yang mendalam. Roh Kudus tidak saja menuntunnya untuk bertobat, namun juga memurnikan dirinya dari ikatan kedagingan yang kuat yang sungguh membelenggu dalam kehidupan sebelumnya yang berlumuran dosa. Tidak itu saja, Sang Guru Batin akhirnya membakar api cinta di dalam hati St. Agustinus dan menyuntikkan Pengenalan-Pengenalan Batin yang mendalam. Berkat polesan dan Inspirasi Sang Guru Batin, dia pun menjadi seorang penulis dan pengkhotbah ulung, yang tulisan-tulisannya memberi inspirasi bagi banyak orang. Sang Guru Batin, mengajarkan, bahwa Kebahagiaan Sejati hanya ada dalam Allah. Dan Allah tidak ditemukan di luar diri, melainkan di dalam hati: “Aku tidak menemukan Dikau di luar, ya Tuhan, karena aku keliru, aku mencari Dikau di luar, padahal Dikau ada di dalam diriku.” Diresapi oleh Kehadiran Sang Guru, St. Agustinus pun tidak tahan untuk tidak berseru Kepada Allah: “Engkau menciptakan kami untuk DiriMu, hati kami akan terus gelisah, sampai dia beristirahat di Dalam Engkau.”
Roh Kudus, Sang Guru Mistik mengilhami St. Teresa dari Avila kepada Hidup Doa yang mendalam, yang terjadi lewat meditasi dan doa hening. Sang Guru menariknya memasuki Lorong Hidup Batin yang amat dalam sampai kepada Pusat Jiwa Tempat Allah hadir bersemayam. Pada kedalaman lubuk jiwanya, St. Teresa mengalami Allah yang sungguh Hadir. Roh Kudus, juga lalu mendesaknya untuk menuangkan Pengalaman Mistiknya ini lewat Puri Batin. Selain seorang Kontemplatif, St. Teresa juga seorang yang aktif. Di sela-sela Hidup Doanya, dia harus sibuk mengurusi pembangunan biara-biara. Sebab pada saat itu, dia bersama St. Yohanes dari Salib sedang mengadakan Pembaharuan dalam Tubuh Ordo Karmel. Sebagai Priorin (kepala biara), dia bertanggungjawab atas kesejahteraan biara dan para susternya, yang semuanya ini sungguh menyita waktunya sendiri dengan Allah. Namun, Roh Kudus begitu sempurna menuntunnya sehingga dia bisa menggabungkan hidup aktif dan Kontemplatif begitu sempurna pula. Pada akhir hidupnya, dia berhasil mendirikan sembilan belas biara Pembaharuan, disertai pula Pengalaman Mistik yang mendalam. Semuanya ini dimungkinkan oleh kerjasamanya yang sempurna dengan Roh Kudus, Guru Mistik Pendampingnya yang amat setia. Bersama Sang Guru, St. Teresa juga berhasil menulis: Jalan Kesempurnaan dan Riwayat Hidup, serta menjadi pembimbing rohani yang ulung bagi para susternya.
Se-jaman dan satu roh dengan St. Teresa dari Avila ialah St. Yohanes dari Salib. Dia juga mengalami Pengalaman Rohani yang kurang lebih sama seperti St. Teresa. Keduanya berhasil mencapai kesempurnaan Hidup Mistik, hingga pada taraf Perkawinan Rohani. Berkat didikan Roh Kudus, St. Yohanes memilih Jalan Askese yang radikal. Spiritualitasnya ialah kosong ... kosong ... dan kosong. Roh Kudus tidak saja mengilhami namun juga membawanya langsung pada Jalan Pengosongan dan Pemurnian diri yang ketat dan keras. Berat juga jalan ini harus ditapakinya, sampai-sampai dia harus menanggung penderitaan bahkan dari rekan sebiaranya sendiri, yang akhirnya memenjarakannya dalam penjara di Toledo. Akan tetapi, itulah hebatnya Roh Kudus, Sang Guru Mistik, Dia tidak meninggalkan St. Yohanes sendirian. Justru di sanalah − dalam keterasingan total di penjara − Roh Kudus mengilhami suatu karya besar; St. Yohanes menghasilkan suatu masterpiece karya rohani: Madah Rohani (Spiritual Canticle). Sebelumnya dia juga sudah menulis Mendaki Gunung Karmel. Perjalanan Hidup Mistik, bisa diibaratkan sebagai perjalanan mendaki Gunung Karmel. Dalam perjalanan itu Roh Kudus memurnikan sekaligus menguatkan, ini dijabarkannya dalam Malam Gelap (The Dark Night). Melalui Pemurnian diri dan disiplin yang kuat, Roh Kudus semakin mudah membakar cinta di dalam jiwanya. Sehingga cinta dan pengenalannya pun makin sempurna dan terbakar. Selanjutnya Roh Kudus menjadi suatu Nyala Cinta yang berkobar-kobar dalam jiwa; tema ini begitu kuat dalam bukunya: The Living Flame of Love.
St. Paulus juga sebenarnya seorang Mistikus Besar. Banyak teks-teks Mistik dalam Kitab Suci berasal dari surat-suratnya. Semuanya itu hasil Pengalaman Mistiknya yang mendalam dengan Kristus. Baginya hidup ialah Kristus, bukan lagi dia sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam dirinya (Gal 2:20). Bagi Paulus, Hidup Mistik ini juga begitu tersembunyi, namun disediakan Allah bagi mereka yang mencintaiNya: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9). Bagi Paulus, Roh Kudus sungguh hadir dalam jiwa (1Kor 3:16). Kehadiran Roh Kudus inilah yang akan mengundang, mengilhami, bahkan membuka Tabir Misteri Hidup Mistik. Walaupun sebagai Misionaris yang aktif, sebenarnya Paulus sungguh seorang Mistikus Sejati. Inilah yang Ideal dan amat berguna bagi Gereja.

4. Jalan menuju Hidup Mistik


Jalan pertama menuju Hidup Mistik ialah Hidup Doa. Sebab dalam doa terjalinlah dialog batin antara roh manusia dan Roh Allah. Inilah dunia misteri, dunia batin. Lalu apa yang pokok dalam Doa? Mengenai hal ini, yang terpenting ialah bukan banyak berpikir, melainkan banyak mencinta (St. Teresa dari Avila). Tak perlu kita berpikir macam-macam sebab darinya bisa timbul segala keinginan tidak teratur. Sebaliknya, mencintalah sebab cinta mendatangkan damai dan hening di hati. Seperti yang dikatakan Paulus di atas, “...untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9), inilah Kebahagiaan Hidup Mistik yang disediakan Allah bagi kita anak-anakNya. Bersama Aloysius Pieris dalam karyanya Antara Bahtera Nuh dan Kapal Karam Paulus, kita dapat berkata bahwa Mistisisme adalah sebuah pengetahuan yang dialami mengenai Allah yang di antarai oleh Kasih.

5. Relevansi


Panggilan Hidup Mistik, senantiasa bergema di dalam Gereja. Masalahnya, sedikit saja orang yang menyadarinya. Johnston menegaskan, bahwa “Tugas yang dihadapi umat Kristiani sekarang ialah memperbarui Hidup Mistiknya. Setiap orang yang menyadari tanda-tanda jaman, tentu melihat adanya dambaan akan doa yang lebih mendalam, Doa Mistik di kalangan semua umat Kristen." Kalau kita membaca tanda-tanda jaman, khususnya dosa dan kejahatan yang makin luar biasa hebat dan canggih, misalnya gempuran kuasa Si Jahat lewat internet dan TV, kita pun bertanya bagaimana kita bisa meredam ini semua? Suatu kekuatan adikodrati sedang berusaha mempengaruhi dunia. Maka kita pun perlu menyadari bahwa hanya kekuatan yang adikodrati pula yang dapat melawannya, yakni kekuatan Allah. Kekuatan Allah seperti ini hanya bisa ditimba dari Doa. Johnston menambahkan dalam bukunya Being in Love: “Ini sungguh suatu panggilan yang nyata, suatu ajakan yang membawamu berada pada arus utama hidup modern. Bagi mereka yang peka, dimana-mana dewasa ini sedang timbul kesadaran bahwa apa yang dibutuhkan oleh manusia modern ialah Doa. Hanya doa dan tindakan yang mengalir dari Doa yang dapat meluputkan generasi kita yang kacau ini dari kehancuran total. Ya, hanya Doa yang bisa mengguncang dunia.” Panggilan Hidup Mistik ini, juga diperteguh dengan bangkitnya spiritualitas Pembaharuan Hidup Dalam Roh atau gerakan Pembaharuan Karismatik dalam Gereja. Penulis sebenarnya lebih suka memakai istilah spiritualitas ketimbang gerakan. Sebab di dalamnya terkandung suatu semangat membarui diri. Dan memang demikian yang terjadi. Lewat spiritualitas Pembaharuan ini, banyak umat yang mengalami pertobatan dan pembaharuan hidup rohani yang mendalam dan otentik. Sejak 35 tahun lalu berhembus dalam Gereja Katolik (mulai tahun 1967), terhitung jutaan orang sudah mengalami Buah Pembaharuan dari spiritualitas ini. Spiritualitas Pembaharuan Hidup Dalam Roh ini, menggemakan kembali amanat St. Paulus dalam Roma 8:14, disebut pada awal tulisan di atas. Lewat Pembaharuan, yang di-Kerjakan Oleh Roh Kudus ini, banyak orang yang dibawa kepada Pengalaman Akan Allah yang langsung dan mendalam. Buah-Buahnya sungguh banyak yang otentik: pertobatan, kerinduan akan doa dan kegairahan baru akan Kitab Suci. Walaupun kadarnya masih kecil, tidak seperti Pengalaman Mistikus Besar, seperti St. Teresa dan Para Kudus lain, tidak mustahil, ini juga suatu Pengalaman Mistik yang meng-ubah.

6. Penutup


Jelaslah, bahwa kita semua dipanggil kepada Hidup Mistik, kepada Pengalaman Akan Allah. Bagi mereka yang rindu mengalaminya hanya Roh Kudus yang bisa menghantar. Dialah Sang Guru yang di-Anugerahkan untuk menjadi Pendamping Setia bagi kita. Maka Kebaktian dan Devosi kepada Nya, amat menentukan hidup rohani kita. Persahabatan dengan Sang Guru ini bisa ditimba melalui Hidup Doa dan Cinta Kasih, yang diresapi oleh Kitab Suci dan Sakramental Hidup. Sebagai penutup, dikutip dari kata-kata William Johnston: “Yang menentukan Mistik Kristen menjadi Mistik Kristen ialah orientasinya kepada Misteri Kristus dalam kaitannya dengan Kitab Suci dan Sakramen” (Mistik Kristiani, Sang Rusa Terluka).

Doa Menurut Teresa dari Avila


Aku takut mengatakan "ya" Tuhan. Kemana Engkau akan membawaku? Aku takut lebih lama lagi berada dalam keadaan tak pasti. Aku takut mencantumkan namaku dalam perjanjian yang tak tertulis. Aku takut mengatakan "ya" yang menuntut "ya..ya" yang lain.
(Michael Quoist, dalam Pendoa)

Kiranya hanya mereka yang telah mengalami "pergulatan" dengan Allah, dapat sungguh memahami, apa itu Berdoa. Sekian lama Teresa mengalami kesulitan berdoa padahal kekhasan Karmelit adalah Doa Kontemplasi. Waktu berdoa, ia selalu mengalami gangguan dan tidak bisa konsentrasi. Seringkali ia memaksa dirinya untuk bisa berdoa, tetapi buahnya malah marah terhadap dirinya sendiri.
Ketika ia sakit keras, pamannya, yang bernama Don Pedro, memberinya sebuah buku doa, yang berjudul Third Spiritual Alphabet oleh Fransisco de Osuna. Buku ini akhirnya menjadi penuntun untuk Hidup Doa Teresa dari Avila. Didalam buku itu disebutkan latihan-latihan doa dan disana ada bentuk-bentuk doa.
  • Bentuk pertama adalah: "a vocal pray" (doa vocal, dengan ucapan), doa-doa permohonan seperti: untuk pribadi atau bersama keluarga atau komunitas; dan doa-doa umum seperti:: Doa Bapa Kami dan Salam Maria.
  • Bentuk kedua adalah: "a simple prayer" (doa singkat, doa nama atau doa Yesus), doa yang tidak menggunakan bibir, membiarkan diri lepas, rileks, sehingga hati saja yang berbicara Kepada Tuhan dengan mengulang­ kalimat pendek: "Tuhan Yesus Kristus Anak Allah Yang Hidup, kasihanilah kami orang berdosa ini!" dan disingkat dengan menyebut nama "Yesus" seiring ritme pernafasan. Sambil menarik nafas (dengan cara biasa) kita menyebut "Ye" dan melepas nafas (dengan cara pelan-pelan) kita menyebut "sus". Atau boleh juga Jesu. Atau seirama detak jantung kita, sambil menyebut nama "Yesus". Minimal 1 jam, jika sudah terbiasa, kita bisa menyebut nama "Yesus" dalam kita sedang melakukan apapun. Karena NamaNya penuh Kuasa, "Yesus" atau boleh juga "Jesu".
  • Bentuk ketiga adalah: "a mental prayer" (Doa Hening, diam), ini adalah Doa sebenarnya: Doa Nafas, nafas yang menjadi hidup kita. Doa Hening, diam, yaitu suatu latihan, latihan untuk menyadari keberadaan kita, saat ini, di sini, sebagai diriku secara jasmani dan rohani. Alasan latihan ini adalah kenyataan, bahwa dalam kehidupan keseharian kita biasa dikejar waktu, dikejar tugas, kesana kemari untuk melakukan ini dan itu; maka Doa Hening, diam, adalah latihan untuk berhenti sejenak, memeriksa diri kita, dan menjadi diri kita saat ini, di sini, di Hadapan Tuhan. Tujuannya adalah agar kita semakin mengenal diri kita dalam KasihNya, hingga kita semakin mampu membedakan apa kata dunia dan apa Kata Allah dan memilih mengikuti apa Kata Allah.
    Yang diperlukan adalah tempat sesuai untuk Doa, waktu yang cukup dan berdisiplin. Maka di tempat yang sudah ditentukan kita sendiri, silahkan ambil posisi Doa yang enak. Paling cocok mengambil posisi (dalam istilah Yoga disebut Lotus), yaitu menempatkan kedua (atau satu saja) punggung telapak kaki ke atas kedua paha kita. Posisi ini membantu punggung untuk tetap tegak dan juga memperlancar konsentrasi. Yang penting adalah menjaga punggung tetap tegak agar pikiran lebih mudah diarahkan dan rasa kantuk atau hilang kesadaran dapat dihindari. Setelah siap, pejamkan kedua mata. Sadari pertama-tama bahwa kita punya tubuh, dengan semua anggotanya, seperti: tangan, kaki, kepala, hidung, mata, telinga, rambut. Sadari perasaan yang muncul melalui kulit: rasa gatal di kaki, tangan, dll. Adalah memulai Doa dengan kesadaran, dan bukan dengan pemikiran. Tubuh kita juga memiliki bahasa dan ungkapan doa. Maka pada awal Doa ini, biarkan tubuh kita yang berbicara dengan menyampaikan kepada kita sensasi yang mereka miliki. Jangan beri nama pada sensasi itu, misalnya ada rasa gatal jangan ucapkan kata gatal di dalam pikiran kita. Rasakan saja. Lakukan hal ini (dalam perkiraan) beberapa menit, untuk kemudian beralih pada pendengaran. Bukalah telinga pada setiap bunyi, seperti: detik jarum jam, suara orang ngobrol di luar, degup jantung kita sendiri dan seterusnya. Tangkap bunyi dan suara yang berbeda-beda itu, sambil tetap menyadari sensasi pada kulit kita. Lakukan ini (dalam perkiraan) beberapa menit. Sesudah itu, sadari pernafasan kita, udara yang kita hirup dan hembuskan. Ini bagian yang tidak begitu mudah, sebab di sini biasanya kendala muncul, kita biasanya bernafas dengan tergesa-gesa. Pernafasan kita menjadi teratur hanya ketika kita tidur. Tetapi sekarang ini, dalam keadaan sadar, kita ingin bernafas lebih lembut, lebih teratur, sambil menjaga kesadaran kita. Sadari saja lebih dulu udara yang keluar masuk melalui hidung kita. Apa yang dirasakan oleh dinding-dinding hidung kita ketika udara masuk dan keluar. Buatlah pernafasan menjadi lebih pelan dan lebih lembut. Lakukan ini (dalam perkiraan) beberapa menit.
    (Ada variasi dalam hal ini. Ketika sudah beberapa kali melakukan latihan penyadaran ini, kita dapat menggunakan fantasi kita. Misalnya, ketika menyadari sensasi dari kulit kita, kita dapat membayangkan jutaan sel yang membentuk kulit kita, jutaan sel yang bekerja menyampaikan setiap sensasi itu ke pikiran kita, dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu yang biasanya terjadi secara spontan seperti menggaruk. Kita bayangkan proses itu sebagai Karya Allah yang luar biasa, keajaiban yang dunia ilmu pengetahuan belum bisa kuak misteri dengan sepenuhnya. Atau ketika kita menghirup udara dan mengeluarkannya. Kita bayangkan betapa kita sebenarnya tenggelam di dalam samudera oksigen, samudera udara. Kita  laksana ikan bukan di dalam air tetapi di dalam lautan oksigen. Betapa oksigen ini bukan kita yang ciptakan, tetapi datang kepada kita dari Allah, dengan begitu berlimpah. Sambil menghirup oksigen, kita bayangkan butiran-butiran Cahaya memasuki lubang hidung kita dan memenuhi seluruh tubuh kita ke bagian dalamn. Inilah Kasih Allah yang Ia titipkan di dalam setiap butiran oksigen yang kita hirup. Dan setiap kali kita menghembuskan udara keluar, kita bayangkan butiran-butiran hitam kelam, yaitu setiap perasaan negatif yang muncul di dalam diri kita: perasaan takut, benci, dendam, rendah diri, tidak diterima, gagal, dll. Kita keluarkan perasaan-perasaan negatif ini di dalam udara yang kita hembuskan keluar. Inilah Doa Tubuh.)
    Ketika kita melakukan penyadaran tubuh ini, biasanya pikiran kita meloncat kesana kemari, dari gambaran satu ke gambaran lain. Setiap kali kita terbawa ke pikiran dan gambaran tadi, kembalilah secara perlahan kepada penyadaran tubuh, kembalilah secara perlahan kepada sensasi-sensasi indrawi tadi. Jangan menolak pikiran, tetapi kembalilah secara perlahan kepada sensasi indrawi. Perlahan, kita akan mampu mengamati pikiran-pikiran tadi, mengikuti loncatan-loncatannya, hingga pikiran itu akan lelah sendiri dan akhirnya kita berada di dalam Keheningan, antara kita dengan diri kita. Pada saat itulah, kita siap masuk ke dalam tahap berikutnya, yaitu di dalam Keheningan. Lakukan Doa Hening ini setiap hari dengan berdisiplin.
Kita Milik Allah, la Pencipta kita, karena CintaNya kepada kita, maka Berdoa, berarti kesadaran dan sikap kita untuk mencintai Nya, dengan kesadaran dan rasa hormat. Teresa dari Avila, disebut juga, Teresa dari Kanak-Kanak Yesus, yang pada tahun 1970 mendapat gelar "Doktor Gereja", berkat teladan dan tulisannya, Gereja sebagai Umat Allah, ditunjukkan Jalan Kesempurnaan Hidup. Tiga hal yang menjadi ciri Teresa, yaitu ia seorang wanita, ia seorang Kontemplatif dan ia seorang Pembaharu Gereja.

Tulisannya


Tiga Karya Utamanya: Buku Kehidupan, Jalan Kesempurnaan dan Puri Batin. Semuanya adalah biografinya sendiri, tetapi mempunyai tingkatan bobot yang berbeda-beda:
  1. Buku Kehidupan, lebih bersifat eksposisi, yaitu sebuah Kesaksian Hidup, dimana ia sedang dipenuhi oleh semangat Hidup Rohani yang berkobar.
  2. Jalan Kesempurnaan, lebih bersifat asketis, yaitu Latihan Rohani.
  3. Puri Batin, bersifat Mistik, mengandung pengertian lebih matang, tenang dan pasti dalam perjalanan jiwa.
Sumber Utama buku-bukunya, pengalaman pribadi, Kitab Suci, Ajaran Gereja, Vision yang diterimanya dan buku­-buku Rohani pada jamannya. Dia mempunyai pandangan bahwa semua kejahatan yang ada di dunia ini adalah: karena ketidaktahuan akan Kitab Suci secara jelas dan benar
. Maka dia membaktikan diri dan hidupnya, hanya pada satu kebenaran, yaitu Kebenaran Kitab Suci.

Pandangan tentang Karya Allah dalam Hidup (nya)


Tuhan sendiri pemiliki Rencana Keselamatan, sehingga Dia sendiri juga Yang Bekerja dalam HidupNya. Tuhan yang memulai, memerintah, menanti, melaksanakan, bertahan dalam RencanaNya, yang mendorong Pelayanan Gerejawi. Semua ini dilakukan oleh Allah, sedemikian rupa, sehingga eksistensi Teresa tidak bisa dimengerti tanpa Allah. Rumusan singkatnya: "I am nothing but God is everything, anda He dwells in me."
Diterjemahkan: "Saya tidak ada apa-apa tetapi Allah adalah segalanya dan la bertahta di hatiku" Teresa memang turut campur tangan dalam merealisasikan Karya Allah, tapi perannya tidak lebih hanya sebagai pelaku yang berdosa, dengan segala sikapnya yang mau menentang dan sebagainya. Sering dia diam di hadapan Allah, hanya untuk menunjukkan kepada Allah bahwa ia sungguh-sungguh tidak mengerti bagaimana Allah bisa memiliki Ide untuk melaksanakan KaryaNya yang sedemikian besar itu di dalam orang yang seperti dirinya. Tapi akhirnya dia bisa menyatukan diri kepada Rencana Allah, baik di dalam Karya Allah untuk me-Nyucikan dirinya, maupun dalam Karya Gerejawi.
Jadi proses realisasi Karya Allah: mulai dari keadaan dosa dan perjuangannya - pertemuan dengan Kristus - membuka diri dan memberikan diri Kepada Nya - menjalin komunikasi timbal balik dalam kehidupannya secara mendalam - Misteri Penyatuan Dengan Allah.

Arti Pentingnya Doa


Banyak definisi tentang doa. Secara garis besar doa ialah: "Mengarahkan seluruh keberadaan kita Kepada Allah." Karena itu, doa adalah memupuk hubungan persahabatan dengan Allah yang telah men-Cinta kita lebih dahulu. Awalnya Teresa mengalami kesulitan besar bagaimana harus berdoa, tetapi ketika sudah menemukannya, ia berkata bahwa Berdoa itu seperti berNafas biasa.
Allah lebih dulu men-Cinta kita (Yoh 15:15
), maka Doa adalah jawaban pada CintaNya, konkretnya terlaksana dengan menjadikan diri sendiri sebagai Sahabat Allah dan memberikan waktu untuk Nya, secara lebih sering dan eksklusif. Ini berarti memberi waktu secara lebih sering: penekanan pada kesetiaan dan ketekunan dalam dinamika Hidup Doa. Menyendiri, hanya dengan Tuhan,: penekanan pada pentingnya ekslusifitas dan kedalaman, Mutu Dialog dan Persahabatan.
Ajaran tentang Doa dari Teresa, mengambil model doa yang dihayati dan dihidupi oleh Yesus sendiri. Dia-lah Model dan Guru Doa. Ciri khas Nya adalah hubungan antar pribadi dalam iman, pengharapan dan kasih.

Tingkatan dalam Hidup Doa


Teresa menggambarkan, Berdoa itu seperti seorang tukang taman yang hendak menyirami taman bunganya. Sementara jiwa digambarkan sebagai taman bunga yang indah. Si tukang taman sangat mencintai taman bunganya, maka dengan tekun, disiplin tinggi dan dengan sekuat tenaga ia mencari air agar bisa menyirami taman bunga itu. Awalnya si tukang taman mengambil air dari tempat sumber air atau dari tempat penampungan air. la harus bekerja keras dan menguras tenaga, ia harus memikul air berkali-kali. Cara ini harus dilakukan dengan senang hati agar bisa menyirami taman bunga yang ia sukai. Setelah sekian lama, si tukang taman itu akan menemukan cara yang lebih mudah, yaitu 'mengangkat' air dari tempat sumber air atau dari tempat penampungan air dengan pipa dan mesin penyedot air, dengan menggunakan tenaga kincir angin. Pekerjaan ini lebih ringan, karena tidak harus memikul air. Si tukang taman cukup mengontrol mesin penyedot air atau melumasi kincir dengan minyak. Kalau itu dikerjakan terus­-menerus dengan tekun, si tukang taman akan sadar, bahwa ada pemberi air yang sangat dekat dengan taman, yaitu air tanah atau sumber air. Dia cukup menggali tanah di dalam taman dan mengangkat sedikit guna menyirami taman bunganya yang indah itu. Sumber itu sangat dekat, mudah diakses dan menyenangkan, karena kapanpun bisa dilakukan. Level berikutnya, si tukang taman tinggal menikmati air yang datang dari langit, yaitu air hujan.
Kiranya tidak ada jalan lain menuju Kekudusan dan "Hidup Berkelimpahan" kecuali dalam jalan Berdoa. Berdoa, berarti memasuki Area Misteri, dimana Yang Maha Kudus, Maha Kuasa dan Maha Luhur, Hadir secara khusus. Tatkala kita memberi waktu khusus, tempat khusus dan perhatian khusus Kepada Dia, maka secara khusus pula Dia akan menyentuh kehidupan kita dan mengubah kualitas kita. Disana keaslian kita sebagai "Citra dan Gambar Allah", menjadi Sumber Kehidupan kita secara efektif.
St Paulus menasihati kita, "Hendaklah kalian berdoa tak kunjung berhenti".



Definisi Awal


Santa Teresa dari Avila
Tindakan-Tindakan Rohani, atau Bagian Yang bukan usaha atau hasil kerja dari manusia, bahkan di tingkat sebentar atau sekejap, disebut Mistik. Perbuatan tobat dan lantunan Salam Maria adalah Tindakan Rohani, maka ketika seseorang ingin menghasilkan Kasih Karunia yang tidak pernah gagal; tetapi mereka tidak bertindak Mistik. Tetapi melihat Malaikat Pelindung dan tidak sedikit pun tergantung pada diri sendiri, adalah Tindakan Mistis. Untuk memiliki sentimen Cinta Ilahi yang sangat bersemangat, bukan dari dirinya sendiri, adalah bahwa Bukti seseorang dalam Keadaan Mistis. Tetapi cinta seperti itu dapat dihasilkan, dengan usaha manusia sendiri, walaupun lemah dan untuk sesaat. Definisi Tindakan Mistis tadi, setara dengan yang diberikan oleh St Teresa dari Avila di awal surat kedua kepada Bapa Rodriquez Alvarez. Teologi Mistik adalah ilmu yang mempelajari Kondisi Mistis; itu adalah di atas semua ilmu yang didasarkan pada observasi. Teologi Mistik sering rancu dengan teologi asketis; yang kedua tadi, namun menghasilkan kebajikan. Penulis asketis membahas juga subyek doa, tetapi mereka membatasi diri pada doa yang tidak Mistis. Kondisi Mistis yang disebut pertama, Rohani atau di-Resapi, yang dimaksud Kerohanian Nyata atau di-Resapi; keduanya luarbiasa, menunjukkan bahwa kecerdasan bergerak dengan Cara yang baru, salah satu upaya yang tidak bisa tidak; ketiganya pasif, untuk menunjukkan bahwa jiwa menerima sesuatu dan sadar menerimanya. Istilah yang tepat akan passivo-aktif, karena kegiatan merespon penerimaan ini seperti halnya dalam latihan indra tubuh kita. Dengan cara doa biasa perbedaan disebut aktif. Kata Mistik telah banyak disalahgunakan. Ia telah panjang lebar datang untuk diterapkan ke semua sentimen keagamaan yang agak bersemangat dan memang sederhana bahkan sentimen puitis. Definisi di atas memberikan pengertian terbatas dan teologis dari kata.

Doa Biasa dan memperoleh Kontemplasi


Pertama-tama, sebuah kata untuk doa biasa, yang terdiri dari empat kelas:
  1. doa lisan;
  2. meditasi, juga disebut doa metodis atau doa refleksi, dimana dapat dimasukkan meditasi membaca;
  3. doa afektif;
  4. doa kesederhanaan atau menatap fokus sederhana.
Hanya dua tahap, terakhir (juga disebut doa jantung) perlu penilaian, karena berbatasan dengan bagian mistis. Doa Mental, dimana banyak tindakan afektif dan itu lebih terdiri daripada sebagian besar refleksi dan penalaran, disebut afektif. Doa kesederhanaan adalah doa mental, dimana pertama penalaran sebagian besar digantikan oleh intuisi; kedua kasih sayang dan resolusi, meskipun tidak selalu, hanya sedikit bervariasi dan dilakukan lewat beberapa kata. Untuk mengatakan bahwa banyaknya tindakan sudah sepenuhnya hilang dan jika berlebihan menjadi berbahaya, karena itu terutama akan berkurang. Dalam kedua bagian tersebut, tetapi terutama di kedua, ada satu pikiran yang dominan atau sentimen yang berulang terus-menerus dan mudah (meskipun dengan sedikit atau tanpa perkembangan) di tengah banyak pikiran lain, menguntungkan atau sebaliknya. Pikiran utama ini tidak berkelanjutan tetapi terus kembali, sering dan spontan. Seperti fakta dapat diamati dalam tatanan alam. Ibu yang mengawasi tempat lahir anaknya berpikir penuh cinta darinya dan melakukan tanpa refleksi dan di tengah interupsi. Doa-doa ini berbeda dari meditasi, hanya sebagian besar dari kecil dan diterapkan pada subyek yang sama. Namun doa kesederhanaan sering memiliki kecenderungan dengan sendirinya menjadi sederhana, bahkan menghargai objeknya. Ini menyebabkan orang memikirkan terutama tentang Tuhan dan kehadiranNya, tetapi dengan cara yang mengherankan. Keadaan tertentu, yang lebih dekat daripada yang lain ke bagian mistis, disebut doa perhatian cinta kepada Allah. Yang membawa tuduhan terhadap kelambanan, ini bagian yang berbeda, selalu memiliki gagasan berlebihan dari mereka. Doa kesederhanaan bukan untuk meditasi, apa yang tidak aktif adalah tindakan, meskipun mungkin tampak seringkali, tapi keseragaman adalah untuk variasi dan intuisi untuk penalaran.
Jiwa A diketahui dipanggil untuk salah satu dari gelar ini, ketika berhasil di dalamnya dan melakukannya dengan mudah dan itu ketika memperoleh keuntungan dari itu. Panggilan Tuhan menjadi lebih jelas jika jiwa memiliki ini: pertama, daya tarik gigih untuk doa semacam ini; kedua, menginginkan fasilitas dan melewati meditasi.

Tiga aturan perilaku bagi mereka yang menunjukkan tanda-tanda ini diakui oleh semua penulis:
  • Ketika selama doa, salah satunya merasa bukan untuk menikmati atau fasilitas untuk tindakan-tindakan tertentu seseorang tidak harus memaksa diri untuk menghasilkan, tetapi puas dengan doa afektif atau doa kesederhanaan (yang berdasarkan hipotesis dapat berhasil); dan jika dilakukan sebaliknya akan menggagalkan Respon Ilahi.
  • Sebaliknya jika selama doa, orang merasa ada kesempatan untuk tindakan tertentu, kita harus menyerah pada kecenderungan ini, bukannya keras kepala berusaha untuk tetap tidak bergerak seperti Quietists. Bahkan memang penggunaan penuh kemampuannya tidak berlebihan dalam membantu kita untuk mencapai Tuhan.
  • Di luar dari doa, disebut baik, kita harus mendapat manfaat di semua kesempatan, baik untuk mendapatkan instruksi atau membangkitkan keinginan dan dengan membentuk demikian apa doa itu sendiri mungkin berkurang.

Banyak teks relatif terhadap doa kesederhanaan ditemukan di karya-karya St Jane de Chantal, yang bersama dengan Santo Fransiskus dari Sales mendirikan Ordo Visitasi. Dia mengeluh bahwa banyak tantangan pikiran baik dibuang, ditawarkan untuk doa semacam ini. Oleh penulis kuno, yang disebut doa kesederhanaan; diperoleh, aktif atau kontemplasi biasa. St Alfonsus Liguori pendahulunya, mendefinisi dengan pernyataan demikian: "Pada akhir waktu tertentu, meditasi biasa menghasilkan apa yang disebut memperoleh kontemplasi, yang terjadi dalam melihat sekilas, kebenaran sederhana yang sebelumnya hanya bisa ditemukan melalui wacana berkepanjangan atau lama" (Homo apostolicus, Lampiran I, Nomor 7).

Kontemplasi yang lebih tinggi


Untuk membedakannya dari yang diperoleh, Kesatuan Kontemplasi Mistik disebut Intuitif, pasif, luar biasa, atau lebih tinggi dari Kontemplasi. Penetapan St Theresia dari Avila, adalah sangat sederhana, sebagaimana Kontemplasi, tanpa kualifikasi apapun. Rahmat Mistik, dapat dibagi menjadi dua kelompok, sesuai dengan sifat dari objek dimaksud. Bagian wilayah dari kelompok pertama dicirikan oleh kenyataan bahwa itu adalah Tuhan dan Tuhan saja, yang memanifestasikan DiriNya; ini disebut Penyatuan Mistis. Dalam kelompok kedua manifestasi adalah dari objek yang dibuat, seperti misalnya ketika seseorang memandangi Kemanusiaan Kristus atau Malaikat atau peristiwa di masa depan dan lain-lain. Ini adalah Visi (hal yang dibuat) dan Wahyu. Milik fenomena untuk ini adalah Tubuh Ajaib yang kadang diamati pada ekstatik.
Ada empat Tahapan Penyatuan Mistis. Empat disini diambil seperti St Theresia dari Avila menggambarkan itu dengan kejelasan besar dalam dirinya "Life" dan terutama dalam diri "Interior Castle" atau "Puri Batin":
  1. Persatuan Mistik tidak lengkap atau Doa Tenang (dari Quies Latin, "Tenang", yang menyatakan kesan natural di bagian ini);
  2. Penuh atau semi-gembira, Persatuan, yang St Theresia dari Avila kadang menyebut Doa Persatuan (dalam dirinya "Life" dia juga membuat penggunaan istilah Seluruh Persatuan, entera betis, ch xvii.);
  3. Persatuan kegembiraan atau ekstase
  4. Transformasi atau mengibaratkan Persatuan, atau Pernikahan Rohani (benar) dari jiwa dengan Tuhan.
Ketiga pertama adalah kondisi Kasih Karunia yang sama, yaitu yang lemah, menengah dan energik. Akan terlihat bahwa berbeda persatuan transformasi dari ini, khusus dan tidak hanya dalam intensitas.

Persatuan Mistik


Ide-ide sebelumnya mungkin lebih tepat dinyatakan dengan adanya garis yang ditunjukkan, maka dengan lebih mudah terlihat demarkasi. Persatuan Mistik akan disebut:
  • Tenang Rohani, ketika Tindakan Ilahi masih terlalu lemah untuk mencegah gangguan: dalam satu kata, ketika imajinasi masih mempertahankan kebebasan tertentu;
  • Persatuan Penuh, saat kekuatannya begitu besar, bahwa jiwa sepenuhnya sibuk dengan Obyek Ilahi, sementara di sisi lain indra terus bekerja (dalam kondisi seperti ini, dengan membuat usaha yang lebih besar atau kurang, seseorang dapat berhenti dari Doa);
  • Ekstase, ketika komunikasi dengan dunia luar terputus atau hampir terjadi (dalam pengalaman yang satu ini, tidak bisa lagi membuat gerakan sukarela atau energi dari yang diinginkan).
Antara jenis yang terdefinisi dengan baik ada transisi tak terlihat seperti antara warna biru, hijau dan kuning. Mistik menggunakan banyak sebutan lainnya: diam, Tidur Rohani, ke-Mabukan Rohani, dll. Ini bukan tingkat nyata, melainkan cara berada di empat tingkat sebelumnya. St Theresia dari Avila kadang menunjuk doa lemah Tenang seperti ingatan rohani.

Persatuan Transformasi


Mengenai mengubah Persatuan atau Pernikahan Rohani, maka disini cukup untuk dikatakan bahwa itu terdiri dalam kebiasaan kesadaran Misteri Rahmat, yang semua akan dimiliki di Surga: antisipasi Sifat Ilahi. Kesadaran jiwa, Bantuan Ilahi, dalam praktek keunggulan kerohaniannya, orang-orang oleh kecerdasan dan kemauan. Pernikahan Rohani, berbeda dari Kerohanian Espousals, sejauh yang pertama dari wilayah ini adalah Permanen dan yang kedua hanya sementara.

Karakter Persatuan Mistis


Wilayah bagian yang berbeda dari Kesatuan Mistik, memiliki dua belas karakter. Dua yang pertama adalah yang paling penting; yang pertama menandakan dasar Kasih Karunia, yang lain karena mewakili karakternya.

Karakter pertama: Merasa Kehadiran Nya

  1. Perbedaan nyata antara Persatuan Mistis dan perenungan doa biasa. adalah bahwa tidak hanya puas pada Jejak Allah; membantu kita untuk lebih memikirkan Nya dan mengingatkan kita akan Kehadiran Nya.
  2. Namun, dalam tingkat yang lebih rendah (Tenang Rohani), Tuhan melakukan hal ini dengan cara yang agak tidak jelas.
Semakin tinggi urutan Persatuan, manifestasi jelas. Ke-agak tidak jelasan tadi yang disebut, adalah sumber penderitaan mendalam untuk pemula. Selama periode Tenang Rohani, mereka secara naluriah percaya pada ajaran sebelumnya, tapi setelah itu, karena prasangka mereka, mulai dengan alasan dan kambuh keraguan dan takut sesat. Obatnya terletak pada penyediaan pembimbing/pengajar atau buku yang memperlakukan hal ini dengan jelas. Dengan pengetahuan eksperimental, dipahami bahwa yang berasal dari obyek itu sendiri dan membuatnya dikenal, tidak hanya mungkin, tetapi sebagai yang ada dan dalam kondisi seperti itu atau semacamnya. Ini adalah kasus dengan PENYATUAN MISTIS: Allah di dalamnya dihargai, serta dipahami. Oleh karena itu, dalam Persatuan Mistik, kita memiliki pengetahuan eksperimental Allah dan Kehadiran Nya, tetapi tidak sama sekali mengikuti bahwa pengetahuan ini adalah sifat yang sama dengan Vision Terlukis. Para Malaikat, jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan setan mengenal satu sama lain secara eksperimental, tetapi dengan cara yang lebih rendah daripada yang dimana Tuhan akan dinyatakan kepada kita di Surga. Para teolog mengungkapkan prinsip ini dengan mengatakan bahwa itu adalah jenis pengetahuan dikesankan atau dimengerti.

Karakter kedua: ke-Pemilikan Batin


Puri Batin,
Santa Teresa dari Avila
  1. Di wilayah bagian yang kalah dengan ekstase satu, tidak bisa mengatakan bahwa ia melihat Allah, kecuali memang dalam kasus luar biasa. Juga merupakan salah satu naluriah menyebabkan menggunakan kata melihat.
  2. Sebaliknya, apa yang merupakan dasar umum dari semua tingkat Persatuan Mistik adalah bahwa Kesan Rohani, dimana Allah memanifestasikan Kehadiran Nya, Kehadiran membuat merasa di jalan sesuatu, yang batin, yang menembus jiwa; itu adalah Sensasi penyerapan, fusi, rendaman.
  3. Demi kejelasan yang lebih besar, pengalaman Sensasi yang dapat ditunjuk sebagai Sentuhan batin. Ekspresi yang sangat jelas ini, Sensasi Rohani, digunakan oleh Scaramelli (Directoire mistik, Tr. Iii, no. 26) dan sudah ditempuh oleh Pastor de la Reguera (Praxis theologiae mysticae, vol. I, no. 735).
Perbandingan berikut akan membantu kita dalam membentuk ide yang tepat dari fisiognomi dari Kesatuan Mistik. Kita dapat mengatakan, bahwa ini adalah cara tepat, sama bahwa kita merasakan kehadiran tubuh kita ketika kita tetap sepenuhnya bergerak dan menutup mata. Jika kita tahu bahwa tubuh kita hadir, itu bukan karena kita melihat atau telah diberitahu fakta. Ini adalah hasil dari Sensasi Khusus (coenaesthesis), kesan mendalam, sangat sederhana dan belum mungkin untuk di-analisis. Jadi itu, adalah bahwa; dalam Persatuan Mistik, kita merasa Tuhan dalam diri kita dan dalam cara yang sangat sederhana. Penyerapan jiwa dalam Persatuan Mistis yang tidak terlalu tinggi, dapat dikatakan menyerupai Seorang ditempatkan di dekat salah satu sahabatNya di tempat impenetrably gelap dan dalam keheningan mengucapkan; dia tidak melihat atau mendengar Temannya yang TanganNya telah memegang, tetapi melalui cara Sentuhan, ia merasa Kehadiran Nya. Dan dengan demikian, dia tetap memikirkan temanNya dan mencintai Dia, meskipun di tengah gangguan.
Laporan sebelumnya, mengenai dua karakter pertama, selalu muncul, lagi diragukan kebenaran kepada mereka yang telah menerima Kasih Karunia Mistis. Tetapi sebaliknya, mereka sering menjadi sumber kagum kepada keduniawian. Bagi mereka yang akan mengakui, setidaknya untuk sementara diatasi, kesulitan Penyatuan Mistis dan apa yang akan diikuti, tidak terlalu misterius.
Kesepuluh sisa karakter adalah konsekuensi atau concomitants dari dua yang pertama.

Karakter ketiga


Persatuan Mistik, tidak dapat dihasilkan sesuka hati. Ini adalah karakter di atas yang berguna dalam mendefinisikan semua Bagian Mistis. Hal ini juga dapat ditambahkan; bahwa wilayah bagian ini, tidak dapat diperluas atau caranya sedang berubah. Dengan sedikit bergerak dan merasa puas dengan kehendak tindakan batin, tidak dapat menyebabkan Rahmat ini berhenti. Ini akan jauh terlihat, bahwa satu-satunya sarana untuk mencapai tujuan ini; terletak pada melanjutkan aktivitas tubuh.

Karakter keempat


Pengetahuan tentang Allah dalam Persatuan Mistik, tidak jelas dan membingungkan; maka ekspresi untuk masuk ke dalam Hadirat ketidakjelasan Ilahi atau dalam kegelapan Ilahi. Dalam ekstase, adalah satu yang memiliki Visi Intelektual Keilahian dan ini menjadi Mulia, semakin melampaui pemahaman kita. Kemudian tercapai Kontemplasi me-Nyilaukan, campuran Terang dan gelap. Kegelapan besar, adalah nama yang diberikan kepada permenungan, Atribut Ilahi tersebut pernah dimiliki oleh mahluk; misalnya, infinity, keabadian, kekekalan, dll.

Karakter kelima


Seperti semua hal lain yang berbatasan dengan Sifat Ilahi model ini, komunikasi hanya setengah dipahami dan itu disebut Mistik, karena menunjukkan Misteri. Karakter ini dan yang sebelumnya merupakan sumber kecemasan untuk pemula, karena mereka membayangkan bahwa tidak ada Bagian Yang Ilahi dan Pasti, kecuali mereka memahaminya dengan sempurna dan tanpa bantuan siapa pun.

Karakter keenam


Dalam Kesatuan Mistik Kontemplasi, Penggambaran Allah bukan dengan penalaran atau dengan pertimbangan mahluk atau masih dengan urutan gambar internal yang masuk akal. Kita telah melihat bahwasannya memiliki sebab yang sama sekali berbeda. Dalam keadaan alami pikiran kita, selalu disertai dengan gambar dan itu adalah sama dalam doa biasa, karena kegiatan rohani dari karakter biasanya mirip secara alami. Namun dalam Kontemplasi Mistis, perbedaan perubahan terlihat jelas. St Yohanes dari Salib, selalu kembali kepada titik ini. Telah dikatakan, bahwa tindakan imajinasi bukanlah hasil dari permenungan; namun; itu setidaknya menyertainya. Paling sering itu adalah gangguan imajinasi yang memanifestasikan dirinya dan St Theresia dari Avila menyatakan, bahwa kejahatan ini ia tidak ada obatnya (Life, ch. Xvii). Harus menunjuk tindakan sebagai konstitutif Kesatuan Mistiknya, yang tentu Milik Bagian Ini; seperti berpikir Allah, menikmati Dia dan mengasihiNya; dan dengan cara Pembedaan; kita akan menunjuk bertindak sebagai tambahan atas Hal seperti itu. Selain gangguan, yang tidak tepat untuk Penyatuan Mistis, menyebabkan atau konsekuensinya adalah mengatakan tidak. Istilah ini menunjukkan bahwa tambahan, apakah sukarela atau tidak, dilakukan untuk Tindakan Ilahi. Dengan demikian, untuk membaca Salam Maria selama Tenang Rohani atau memberikan diri untuk pertimbangan mati raga akan melakukan tindakan tambahan, karena mereka tidak penting untuk keberadaan Tenang Rohani. Definisi ini akan berguna di kemudian hari. Tetapi sekarang bahkan mereka akan mengijinkan kita untuk menjelaskan singkatan bahasa tertentu, sering terlibat dalam oleh Mistik, yang banyak interpretasi yang salah telah dibuat, salah paham karena dihasilkan dari apa yang tersisa terpendam. Dengan demikian telah dikatakan: "Seringkali dalam doa rohani tidak ada tindakan lainnya" atau "Seseorang tidak harus takut di dalamnya untuk menekan semua tindakan"; sedangkan apa yang seharusnya dikatakan adalah ini: "Tidak ada tindakan lebih tambahan". Secara harfiah, ungkapan-ungkapan singkat tidak berbeda dari orang-orang dari Quietists. St Theresia dari Avila tiba-tiba ter-Cerahkan dalam cara ke-Sempurnaannya dengan membaca dalam sebuah buku frase ini, meskipun tidak akurat: "Dalam kerohanian yang tenang bisa memikirkan apa-apa" (Life, ch xxiii.). Tetapi yang lain, tidak akan dilihat nilai sebenarnya dari Ekspresi. Dengan cara seperti itu dikatakan: "Satu-satunya akan bersatu", yang oleh berarti, bahwa pikiran menambahkan ada alasan lebih lanjut dan bahwa sejak saat itu membuat dirinya lupa atau yang lain yang mempertahankan kebebasan menghasilkan tindakan tambahan; maka tampaknya seolah-olah itu tidak bersatu. Tapi di masa depan ekspresi yang membutuhkan penjelasan panjang akan dihindari.

Karakter ketujuh


Ada gejolak terus-menerus. Persatuan Mistik, tidak mempertahankan tingkat yang sama intensitasnya selama lima menit, namun intensitas rata-rata mungkin sama untuk jangka waktu penting.

Karakter kedelapan


Tuntutan Persatuan Pekerja Mistik, lebih jauh sedikit dari meditasi dan semakin tinggi bagian kurang usaha yang diperlukan, ini dalam ekstase menjadi tidak ada apa pun. St Theresia dari Avila, membandingkan jiwa yang berlangsung di wilayah bagian ini. Untuk seorang tukang kebun, akan membuang waktu dan kekurangan - kesulitan untuk mengairi kebunnya (Life, ch. Xi). Dalam Doa Tenang, pekerja tidak termasuk dalam pengadaan Doa itu sendiri; Tuhan Yang saja, bisa memberikan itu, tetapi terutama, memerangi gangguan; kedua, kadang-kadang menghasilkan tindakan tambahan; ketiga, tenang jika lemah, dalam menekan perasaan bosan yang disebabkan oleh penyerapan yang tidak lengkap dan yang sangat sering seseorang segan untuk menyempurnakan oleh sesuatu yang lain.

Karakter kesembilan


Kesatuan Mistik, disertai dengan Sentimen cinta, ketenangan dan kesenangan. Dalam Tenang Rohani, Sentimen ini tidak selalu sangat bersemangat meskipun kadang sebaliknya terjadi dan ada kegembiraan Rohani yang memabukkan.

Karakter kesepuluh


Kesatuan Mistik disertai dan sering dalam cara yang sangat terlihat, berdasarkan dorongan terhadap kebajikan yang berbeda. Fakta ini (yang St Theresia dari Avila terus ulangi) adalah lebih masuk akal seiring Doa lebih tinggi. Secara pribadi, jauh dari menyebabkan kebanggaan, Rahmat ini selalu menghasilkan kerendahan hati.

Karakter kesebelas


Tindakan Kesatuan Mistik pada tubuh. Fakta ini jelas dalam ekstase dan masuk ke dalam definisi. Pertama, dalam keadaan ini indra memiliki sedikit atau tidak ada tindakan; kedua, anggota tubuh biasanya bergerak; ketiga, respirasi hampir berhenti; keempat, panas penting tampaknya menghilang, terutama dari ekstremitas. Singkatnya, semua seolah-olah jiwa kalah dalam kekuatan vital dan aktivitas yang motorik, semua keuntungan di sisi Keterikatan Ilahi. Hukum kontinuitas menunjukkan, bahwa fenomena ini harus terjadi, meskipun dalam tingkat yang lebih rendah, di wilayah bagian yang lebih rendah untuk ekstase. Pada saat apa mereka mulai? Seringkali saat Tenang Rohani dan ini tampaknya menjadi kasus terutama dengan orang-orang dari temperamen yang lemah. Sejak Tenang Rohani ini, agak bertentangan dengan gerakan tubuh, yang terakhir harus bereaksi secara timbal balik dalam rangka untuk mengurangi Tenang ini. Pengalaman menegaskan dugaan ini. Jika seseorang mulai membaca berjalan atau melihat ke kanan dan kiri, satu merasa Tindakan Ilahi berkurang; Oleh karena itu, untuk melanjutkan aktivitas fisik, adalah cara praktis mengakhiri Penyatuan Mistis.

Karakter kedua belas


Kesatuan Mistik sampai batas tertentu menghambat hasil beberapa tindakan batin yang di dalam doa biasa akan bisa dihasilkan. Ini adalah apa yang dikenal sebagai penangguhan kekuasaan jiwa. Dalam ekstase, sebenarnya ini adalah yang paling jelas dan juga pengalaman dalam Tenang sebenarnya, salah satu dari wilayah bagian kalah dengan ekstase, menjadi salah satu fenomena yang memiliki Mistik yang paling sibuk dan menjadi Penyebab kecemasan terbesar bagi pemula. Tindakan-tindakan yang telah disebut tambahan dan juga yang akan bersifat sukarela, adalah apa yang terhambat oleh Suspensi ini, maka biasanya hambatan bagi doa-doa vokal dan refleksi kesalehan.

Wahyu dan Visi


Santa Teresa dari Avila
dan Roh Kudus
Ada tiga jenis ucapan: Eksterior/Tampilan Luar, yang diterima oleh telinga dan Interior/Tampilan Dalam atau batin, yang dibagi menjadi imajinatif dan intelektual. Yang terakhir adalah komunikasi pikiran tanpa kata-kata.
Ada tiga jenis yang sama dari Visi. Rincian ini banyak Rahmat yang berbeda akan ditemukan dalam karya-karya St Theresia dari Avila. Apa yang dikenal sebagai wahyu pribadi dan khususnya yang tercantum baik dalam Alkitab maupun dalam deposit Tradisi Apostolik. Gereja tidak mewajibkan kita untuk percaya pada mereka, tetapi adalah bijaksana untuk mudah tidak menolak mereka ketika mereka diteguhkan oleh Orang-Orang kudus. Namun dapat dipastikan bahwa banyak Orang Kudus yang tertipu dan bahwa wahyu mereka bertentangan satu sama lain. Berikut akan menjelaskan alasan ini. Wahyu dan Visi tunduk pada banyak ilusi yang singkatnya harus ditetapkan; Pertama seperti Jonas di Ninive, pelihat yang menganggap mutlak sebagai prediksi yang hanya kondisional atau melakukan beberapa kesalahan lain dalam penafsirannya. Kedua, ketika visi merupakan pandangan dari kehidupan atau Passion of Christ, akurasi bersejarah sering hanya perkiraan; jika Tuhan akan menurunkan sendiri ke tingkat seorang profesor sejarawan dan arkeologi. Dia ingin menyucikan jiwa, tidak untuk memuaskan rasa ingin tahu kita. Pelihat, bagaimanapun mungkin percaya bahwa reproduksi adalah tepat; maka yang diinginkan adalah Janji, Wahyu Kehidupan Yesus Kristus. Ketiga, selama visi aktivitas pribadi mungkin sangat bercampur dengan Tindakan Ilahi yang menjawab, dalam arti yang diinginkan tampaknya diterima. Bahkan, selama doa imajiner hidup, mungkin sejauhnya pergi untuk menghasilkan Wahyu dan Visi dari seluruh bahan tanpa niat jahat. Keempat, kadang-kadang dalam keinginan untuk menjelaskan, setelah itu pelihat tidak sadar mengubah Wahyu Yang Asli. Kelima, amanuenses dan editor mengambil kebebasan menyedihkan dalam merevisi, sehingga Teks tidak selalu otentik. Beberapa Wahyu bahkan benar-benar palsu, karena pertama dalam menggambarkan doa mereka, orang-orang tertentu berbohong paling audaciously; kedua, di antara mereka yang menderita neuropati ada penemu yang dengan itikad sangat baik, bayangan menjadi nyata, hal-hal fakta yang tidak pernah terjadi; ketiga, iblis mungkin untuk tingkat tertentu, visi Ilahi, tetapi yang palsu; keempat, di antara penulis ada sungguh pemalsu, yang bertanggung jawab untuk nubuat politik, maka profesi prediksi absurd.
Ilusi dalam Hal Wahyu, sering memiliki konsekuensi serius, karena biasanya mereka menghasut untuk tindakan eksternal, seperti mengajar doktrin, menyebarkan pengabdian baru, bernubuat, meluncurkan ke perusahaan yang memerlukan biaya. Tidak akan ada kejahatan jika dorongan ini datang dari Allah, tapi kejahatan itu sepenuhnya dinyatakan diawal dan diakhirnya, ketika mereka bukan datang dari Nya, yang jauh lebih sering terjadi dan sulitnya ketajaman. Sebaliknya ada 'nol' takut dari Penyatuan Mistis. Ini impels, hanya terhadap cinta Ilahi dan praktek penuh padat kebajikan. Akan ada keamanan, sama dalam anggapan mustahil, bahwa bagian doa itu hanya tiruan dari Kesatuan Mistik, untuk kemudian, kecenderungan akan persis sama. Anggapan ini tidak mungkin disebut, karena St Theresia dari Avila dan St Yohanes dari Salib terus mengulangi, bahwa iblis tidak bisa meniru atau bahkan memahami Kesatuan Mistik. Tidak dapat, pikiran dan imajinasi kita mereproduksi kombinasi dari dua belas karakter yang dijelaskan di atas.
Apa yang telah dikatakan menunjukkan pentingnya untuk tidak membingungkan Kesatuan Mistik dengan Wahyu. Tidak hanya bagian ini dari sifat yang berbeda, tetapi mereka juga harus berbeda dalam memperkirakan. Karena tidak tahu tentang perbedaan ini, banyak orang jatuh ke dalam salah satu dari dua ekstrem: pertama, jika mereka tahu Bahaya Wahyu, mereka memperpanjang hukuman berat kepada Kesatuan Mistik dan dengan demikian mengubah jiwa tertentu dari jalur yang sangat baik; kedua, jika sebaliknya, mereka cukup meyakinkan demi keamanan dan ketenangan Kesatuan Mistik, mereka salah memperluas penilaian yang mengutamakan ini untuk wahyu dan mendorong jiwa tertentu ke jalan yang berbahaya.
Ketika Allah menghendaki agar Dia dapat memberi kepada orang yang menerima Wahyu, kepastian penuh yang nyata dan Sepenuhnya Ilahi. Jika salah satu saja, tidak akan memiliki hak uutuk dikatakan percaya pada Para Nabi. Perjanjian Lama, Alkitab menetapkan, bahwa mereka dibedakan dari nabi-nabi palsu. Misalnya, Utusan Allah melakukan Mujizat atau Nubuat diucapkan, direalisasikan dari yang diverifikasi. Dalam rangka untuk menilai wahyu pribadi dalam cara yang lebih atau mungkin kurang, harus diperoleh dua jenis informasi: Pertama, kita harus memastikan kualitas atau cacat dari sudut pandang alam, petapa atau Pandang Mistik. Wahyu, orang yang memiliki, ketika satu pertanyaan telah di-Kanonisasi, investigasi telah dibuat oleh Gereja. Kedua, salah satu harus berkenalan dengan kualitas dan cacat dari wahyu itu sendiri dan dengan berbagai keadaan yang menguntungkan atau sebaliknya. Untuk menilai dari ekstase yang harus digerakan oleh prinsip-prinsip yang sama, dua titik utama untuk perwujudan keberadaaannya: pertama, sedalam apa jiwa diserap sementara, sehingga kehilangan indra dan apakah itu terpikat oleh pengetahuan tentang tatanan yang lebih tinggi dan diangkat oleh Kasih yang sangat besar; kedua, apa Tingkat Kebajikan yang dimilikinya sebelum mencapai keadaan ini dan apa besar Kemajuannya yang dibuat sesudahnya. Jika hasil penyelidikan menguntungkan, boleh jadi berada di sisi Ekstase Ilahi, selama tidak ada setan atau penyakit imajinasi, dapat dilakukan dalam hal ini.
Ada beberapa aturan perilaku sehubungan dengan Wahyu, tapi hanya dua yang paling penting.
Yang pertama berhubungan dengan pembimbing. Jika wahyu atau visi memiliki efek untuk sendiri yang augmenting dari Kasih pelihat untuk Allah, Kristus atau Orang-Orang Kudus, jangan mencegah Fakta-Fakta Ini dari yang sementara dianggap Ilahi; tetapi jika sebaliknya, pelihat itu akan didorong untuk usaha tertentu atau jika ia berharap bahwa prediksi harus diimani dengan teguh, ia harus diberitahu: "Anda harus mengakui bahwa Anda tidak dapat dipercaya hanya pada kata-kata Anda, akibat dari memberikan tanda-tanda bahwa Anda wahyu yang datang dari Allah dan hanya dariNya sendiri." Sebagai aturan, permintaan ini tetap tidak terjawab. Perhatikan kehati-hatian Gereja sehubungan dengan perayaan tertentu, ibadah yang telah dilembagakan sebagai akibat dari wahyu pribadi. Wahyu itu hanya berkesempatan seukuran yang diambil. Gereja menyatakan, bahwa pengabdian seperti itu manusiawi, tetapi tidak ada jaminan bahwa Wahyu yang menginspirasikan itu.
Aturan kedua menyangkut pelihat. Pada awalnya, setidaknya ia perlahan untuk melakukan yang terbaik untuk memukul mundur wahyu dan untuk mengubah pikirannya jauh dari mereka. Ia menerima mereka hanya setelah pembimbing bijaksana memutuskan bahwa ia akan dapat menempatkan sejumlah keyakinan mereka. Doktrin ini yang tampaknya berat, adalah tetap diajarkan secara tekun oleh banyak Orang Kudus, seperti St Ignatius (Acta SS., 31 Juli, Préliminaires, no. 614), St Filipus Neri (ibid., 26 Mei, kehidupan 2nd, tidak ada . 375), St Yohanes dari Salib (Assent, Bk. II, ch. xi, xvi, xvii, dan xxiv), St Theresia dari Avila dan St Alfonsus Ligouri (Homo Apost., Lampiran I, no. 23), dengan alasan bahwa ada bahaya ilusi. Dengan alasan yang lebih besar, Wahyu dan Visi (dari obyek yang dibuat) harus tidak diinginkan atau diminta. Di sisi lain, banyak bagian di St Theresia dari Avila dan Mistikus lain membuktikan bahwa Penyatuan Mistis mungkin diinginkan dan meminta, asalkan dilakukan dengan rendah hati dan dengan pengunduran diri menyerahkan kepada Kehendak Tuhan. Alasannya adalah bahwa Kesatuan ini tidak memiliki kekurangan tetapi menghasilkan Keuntungan yang besar untuk Pengudusan.
St Theresia dari Avila, jauh unggul daripada semua penulis yang mendahuluinya, tentang hal Kontemplasinya. Dalam deskripsi mereka yang sebelum dia membatasi diri dengan generalisasi. Pengecualian harus dibuat dalam mendukung Beato Angela de Foligno, Ruysbroeck dan Yang Mulia Marina d'Escobar sehubungan dengan subyek ekstase. St Theresia dari Avila adalah juga yang pertama memberi klasifikasi yang jelas, akurat dan rinci. Sebelum waktunya nyaris apapun digambarkan, kecuali Ekstase dan Wahyu. Pada tingkat lebih rendah, diperlukan bijih observasi halus, daripada yang dikhususkan untuk mereka sebelum waktunya. Setelah St Theresia dari Avila, tempat pertama untuk observasi yang cermat dari masalah ini milik St Yohanes dari Salib. Tapi klasifikasinya membingungkan. St Theresia dari Avila dan St Yohanes dari Salib juga sangat unggul dengan penulisan berikutnya, yang telah puas meminta mengulanginya, disertai komentar.


RIWAYAT HIDUP

St Teresa dari Avila (28 Maret 1515 - 4 Oktober 1582)


St Teresa dari Ávila, juga dipanggil Santa Teresa dari Yesus, dibaptis dengan nama Teresa Sanchez de Cepeda y Ahumada (lahir di Gotarrendura (Ávila), Old Castile, Spanyol, 28 Maret 1515 – meninggal di Alba de Tormes, Salamanca, Spanyol, 4 Oktober 1582 pada umur 67 tahun, adalah seorang Mistik, biarawati Karmelit dan penulis Anti Reformasi. Dia seorang Pembaharu Ordo Karmelit dan bersama Yohanes Salib merupakan pendiri Karmelit Ciaka. Pada 1970 dia diberi gelar Doktor Gereja oleh Paus Paulus VI.

Masa Kanak-Kanak dan Remaja


Kakek dari ayahnya, Juan de Toledo, adalah seorang orang Yahudi yang beralih ke Kristen dan dituduh oleh Inkuisisi Spanyol karena kembali ke kepercayaan Yahudi. Ayahnya, Alonso Sánchez de Cepeda, membeli gelar ksatria dan berhasil berasimilasi ke dalam lingkungan Kristen. Teresa merasa kagum oleh kehidupan Para Kudus, dan lari dari rumah pada umur tujuh bersama saudaranya Rodrigo untuk mencari martirdom di antara Moors. Pamannya mencegah mereka pada saat dia kembali ke kota dan melihat mereka di luar tembok kota. Beatrice de Ahumada, yang adalah ibu dari St Teresa dari Avila, berasal dari keluarga bangsawan yang beriman teguh akan Kristus. Sejak kecil Teresa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya. Teresa memiliki seorang kakak perempuan, 4 orang kakak laki-laki dan 6 orang adik. Beatrice adalah istri ke-2. Istri pertama Alonso telah meninggal sebelum Alonso menikah dengan Beatrice, dan melahirkan 3 orang anak. Sejak kecil Teresa sering membicarakan Tuhan bersama kakaknya yang berusia 4 tahun lebih tua, yaitu Rodrigo. Keduanya sangat akrab dan memiliki hobi membaca mengenai kehidupan Santo/Santa.
Mereka mengagumi Orang-Orang Kudus, yang untuk selamanya dapat berjumpa dengan Allah. Pada waktu berusia 7 tahun, Teresa sudah berkeinginan untuk menjadi seorang Martir, karena menurut anggapannya pada waktu itu, menjadi Martir adalah jalan yang tercepat dan termudah menuju Surga. Oleh karena itu, Teresa mengajak Rodrigo untuk pergi ke daerah orang Moor, dengan harapan agar mereka dipenggal kepalanya sehingga menjadi Martir. Akan tetapi di tengah perjalanan menuju daerah orang Moor, mereka bertemu dengan paman mereka di perbatasan kota. Maka rencana mereka pun diurungkan oleh sang paman yang segera mengantar mereka kembali ke rumah.
Pada saat Teresa berusia kurang lebih empat belas tahun, ibunya meninggal. Dengan penuh kesedihan dia berlutut di hadapan Patung Bunda Maria saat ditinggal pergi oleh ibunya. Ia memohon agar sejak saat itu Bunda Maria menjadi Bunda Pelindungnya. Karena ketulusan hati dan imannya, sejak saat itu segala permohonan doanya melalui perantaraan Bunda Maria selalu dikabulkan.
Ketika remaja Teresa memiliki penampilan yang cantik dan menarik menyerupai ibunya. Pembawaannya juga cerdas, berbakat dan lincah. Di Avila, kecantikan Teresa, sangat memikat setiap orang di sekitarnya, apalagi Teresa memiliki pribadi yang menarik, ramah dan halus perasaannya. Banyak pemuda senang bergaul dan tertarik pada Teresa, sehingga ayahnya menjadi cemas dan kemudian menitipkan Teresa di biara Santa Maria Bunda Kerahiman di Avila. Biara ini didirikan pada tahun 1508 dan terkenal karena suasananya yang suci, baik dan tenang. Keluarga-keluarga yang terkemuka di kota Avila, dengan kepercayaan penuh, menyerahkan anak gadisnya kepada para suster Agustines itu untuk dididik di asrama susteran. Disana, Teresa mengalami pertobatan dan menyadari segala kelemahannya. Dan sejak tinggal di asrama Susteran itu, Teresa rajin mengikuti kegiatan doa di asrama juga setia melakukan doa rosario.
Saat tinggal di asrama Teresa cukup kerasan, karena dia merasakan sudah terbebas dari kesia-siaan duniawi dan ia berkeinginan untuk memusatkan hati dan pikirannya kepada Tuhan. Namun, saat itu dia belum memiliki ketertarikan pada panggilan hidup membiara, karena masih beranggapan hidup membiara itu menakutkan dan membosankan. Pandangan ini berubah, saat dia bergaul akrab dengan ibu asramanya Sr. Maria Briceno. Teresa sering bercakap-cakap dengannya dan mencurahkan segala isi hatinya kepada Sr. Maria Briceno. Tuhan memakai suster ini untuk menerangi hati dan pikiran Teresa. Suster Maria sering bercerita mengenai kebahagiaan rohani yang disediakan Tuhan bagi mereka yang melepaskan segala-galanya, demi cinta kepada Tuhan. Teresa pun mulai terbuka akan Rahmat Tuhan. Setelah tinggal kira-kira satu setengah tahun di asrama, Teresa minta didoakan oleh Suster Maria agar Tuhan menunjukkan panggilan hidupnya karena Teresa memiliki kerinduan untuk mengabdi kepada Tuhan secara khusus.

Menjadi Biarawati dan Rahmat Saat Yang Dialami


Pada saat berusia 20 tahun, Teresa diterima di Biara Karmel Avila, Spanyol. Keputusan untuk memasuki biara ini begitu mantap, meskipun pada mulanya ayahnya tidak mengizinkan putri kesayangannya itu menjadi seorang biarawati. Akan tetapi, cinta Teresa bagi Tuhan tak dapat dikalahkan oleh cintanya terhadap ayah dan keluarganya.
Teresa sangat bahagia berada di biara Karmel dan kebahagiaan Teresa mencapai puncaknya, setelah mengikrarkan kaul kebiaraannya. Sayangnya tak lama kemudian, meskipun jiwa Teresa rela mengikuti Tuhan, tubuhnya lemah. Teresa mengalami sakit keras dan menjadi lumpuh, bahkan hampir dijemput maut. Dalam penderitaan sakitnya itu, Teresa semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Pada saat-saat itu ia dikaruniai banyak Rahmat Oleh Tuhan. Di antaranya ialah kesabaran, yang tidak tergoncangkan oleh penderitaan yang dialaminya. Dia senantiasa mengucap syukur, berterimakasih kepada Tuhan dan para suster yang merawatnya. Di dalam sakit lumpuh yang dideritanya beberapa tahun itu, Teresa banyak merenungkan tulisan-tulisan St Gregorius, ajaran-ajaran St Hieronimus dan juga membaca buku-buku karangan St Agustinus. Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama, semakin berkobar, sehingga ia juga banyak berdoa bagi pertobatan orang-orang berdosa. Selama sakitnya itu, Teresa juga bersahabat dengan pamannya, Don Pedro. Ia diberi sebuah buku tentang Doa Mistik: abjad Ketiga, karangan Osuna. Buku ini membimbing Teresa kepada Doa Kontemplasi.
Selain itu, di dalam sakitnya ini, Tuhan menganugerahkan kepada Teresa kesetiaan dalam Doa Keheningan Batin dan mengangkat jiwanya kepada doa persatuan. Pengalaman doa Teresa ini menghasilkan kemajuan rohani yang besar. Meski lumpuh, ia tetap setia menghadiri Misa Kudus untuk memohon kesembuhan bagi dirinya. Ia juga secara khusus ia setiap hari memohon doa kepada St Yosef dan Bunda Maria untuk membebaskan ia dari segala kelemahan dan penyakitnya.
Oleh karena Kebaikan Tuhan, akhirnya Teresa mengalami mujizat yang membuat orang-orang di sekelilingnya terheran-heran. Teresa mengalami kesembuhan kendatipun amat perlahan-lahan dan disertai amat banyak penderitaan sampai-sampai terkadang ia harus merangkak menyeret tubuhnya di lantai. Namun pada akhirnya, ia dapat bangun dan berdiri lalu berjalan. Kesehatan Teresa dipulihkan oleh Tuhan berkat bantuan Doa dari St Yosef dan Bunda Maria.
Setelah mengalami kesembuhan, kesucian Teresa semakin meningkat. Dorongan yang kuat untuk lebih mengabdi Pada Tuhan semakin berkobar dalam hatinya. Teresa senantiasa mengucap syukur atas kesembuhannya dan tidak pernah jemu mengajak orang-orang untuk menghormati Keluarga Suci dari Nazareth yaitu St Yosef dan Bunda Maria, yang telah menjadi perantara doa-doa untuk kesembuhannya.

Teresa sebagai Reformatris dan Pendiri Biara-Biara


Teresa adalah seorang Reformatris, yang melahirkan Pembaharuan Karmel. Di tempat biara yang lama peraturan-peraturan bersifat longgar, sehingga para tamu mengalir ke biara tak kunjung henti. Teresa terlibat juga dengan para tamu itu, karena Teresa cukup disukai dan dikenal. Namun ternyata, bagi Teresa semua hal itu hanyalah pemborosan waktu belaka. Doa dan persatuan dengan Tuhan lebih memikat hati. Teresa merasakan perlu cara hidup yang lebih tertutup.
Dengan mengalami banyak tantangan dari berbagai pihak, akhirnya berdirilah sebuah biara baru. Sifat biara yang diperbaharui oleh Teresa ini kecil, miskin, tertutup dan disiplin. Biara pertama didirikan tanggal 24 Agustus 1562 dan diserahkan ke dalam Perlindungan St Yosef. Selanjutnya Teresa mengelilingi seluruh Spanyol dan mendirikan biara-biara lain. Berkat keuletan Teresa dan dukungan dari Bapa Suci yang mendukung usaha Pembaharuan ini, dalam dua tahun berdirilah 17 biara. Selain itu, dia juga menyediakan rumah-rumah untuk Kontemplasi pribadi.
Teresa juga diberi ijin oleh pimpinan biara untuk memperbaharui ordo Karmel pria. Memang pada masa itu sedang terjadi kebobrokan para imam. Rupanya Tuhan juga menghendaki Pembaharuan tersebut, karena bersamaan pada waktu Teresa hendak memperbaharui ordo Karmel, ada seorang imam Karmelit muda yang sangat bersemangat untuk menjalani kehidupan Karmel yang lebih serius. Imam muda ini merasa apa yang dicita-citakan olehnya tidak ditemukan dalam ordonya. Tadinya ia bermaksud untuk pindah ke Biara Kartusia, suatu pertapaan yang amat keras, namun Tuhan mempertemukan imam muda ini dengan Teresa Avila. Imam muda ini tak lain adalah St. Yohanes dari Salib.
Biara pertama untuk para imam Karmel ini, didirikan tahun 1568 di sebuah desa kecil Duruelo - Spanyol, dengan dua penghuni, yaitu Antonius dari Yesus dan Yohanes dari Salib. Kelak Yohanes Salib dipandang Teresa sebagai Orang Kudus, karena mencapai tingkat kerohanian yang amat tinggi. Kepada para susternya, Teresa menganjurkan untuk memilih Yohanes dari Salib sebagai pembimbing rohani, karena saat itu bimbingannyalah yang terbaik dan teraman.

Beberapa Karya dan Ajaran Teresa dari Avila


Selama hidupnya di biara, Teresa banyak menulis karangan, di antaranya riwayat hidupnya, Jalan Kesempurnaan dan Puri Batin. Beberapa karyanya yang ia tulis, merupakan buah ketaatannya kepada Bapa Pengakuannya yang meminta ia untuk menulis. "The Life", "Way of Perfection", dan "Interior Castle". Karya-karya Teresa dari Avila mampu menyentuh hati Para Uskup dan Imam, agar tetap memperbaharui keinginan dan kebijaksanaan serta Kekudusan, sehingga menjadi 'Cahaya Gereja'. Dia juga mengajak kaum religius untuk mengikuti Nasihat Injil, dengan sempurna, serta mengobarkan gairah kaum awam Kristen dengan ajarannya tentang Doa dan Cinta Kasih, cara Universal menuju Kekudusan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh St Teresa dari Avila, "Doa bukanlah banyak berpikir, tetapi banyak mencinta."

Beberapa Teladan Hidup Santa Teresa


Seringkali orang waktu menderita sakit mengalami pemberontakan bahkan keputusasaan. Juga dalam Hidup Doa, adakalanya terasa kering dalam rohani. Semoga dengan mengikuti teladan dan ajaran St Teresa, orang-orang dimampukan untuk menggunakan masa sakitnya, dengan tujuan mencari kesempurnaan hidup, sehingga menganggap penyakit adalah suatu Rahmat, yang dikehendaki Tuhan dan dapat membawakan hal-hal yang baik bagi jiwa seseorang. Juga tetap setia, dalam kekeringan Doa-nya dan selalu berusaha mencari Kehendak Tuhan.
St Teresa dari Avila, memiliki Penghormatan Yang Besar, kepada St Yosef dan Bunda Maria dan senantiasa mengucap syukur atas kesembuhan yang dialaminya berkat perantaraan doa-doa mereka. St Teresa dari Avila, senantiasa mengingat dan merenungkan kesetiaan Bunda Maria dan Santo Yosef yang sudah memelihara Yesus, juga menghadapi Penderitaan dan Kepahitan yang dialami oleh Keluarga Nazaret ini. Marilah kita juga mengingat saat Bayi Yesus di-Lahirkan. Ketika itu Maria dan Yosef, harus mengalami krisis, ketakutan dan kecemasan karena Bayi Yesus akan dibunuh oleh Raja Herodes. Maria dan Yosef harus pergi melewati padang gurun menembus pekat dan dinginnya malam dengan memeluk Bayi Yesus. Maria dan Yosef selalu mencari dan melakukan Kehendak Allah.
Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang mengalami krisis, ketakutan, atau kecemasan karena situasi yang tak menentu di dalam kehidupan ini: marilah kita belajar dan merenungkan Kehidupan St Yosef dan Bunda Maria yang memeluk Bayi Yesus, yang tidak pernah lalai untuk mencari dan melakukan Kehendak Allah dalam segala Kesulitan dan Penderitaan Mereka, sebagaimana yang dilakukan juga oleh St Teresa dari Avila.


DUA MALAM JIWA

(St Yohanes dari Salib)


Ada keadaan yang belum disebutkan, transisi sering antara doa biasa dan Tenang Rohani. St Yohanes dari Salib yang adalah orang pertama yang menggambarkan dengan jelas, menyebutnya Malam pikiran atau Malam Pertama jiwa. Jika kita tampil patuh, artinya berdasarkan apa yang langsung kita amati dalam diri kita sendiri, bagian ini adalah doa kesederhanaan, namun dengan Dua Karakteristik Yang Utama, yang membuat Hal terpisah. Hal ini pahit dan hampir hanya Pada Allah, bahwa pandangan sederhana tanpa henti terpaku. Lima Elemen, termasuk dalam keadaan menyedihkan ini: pertama, kegersangan kebiasaan; kedua, berkembang - keliru menggambarkan Allah, berulang dengan persistensi tunggal dan independensi dari kehendak; ketiga, keinginan sedih dan konstan persatuan lebih dekat dengan Tuhan; keempat, tindakan yang berkelanjutan Anugrah Tuhan untuk melepaskan kita dari segala hal yang masuk akal dan menyampaikan ketidaksukaan bagi mereka, dari nama "Malam pikiran" (jiwa dapat berjuang, Rahmat melawan aksi ini); kelima, ada unsur tersembunyi yang terdapat dalam Hal ini: Allah mulai melaksanakan selama aksi jiwa dalam Karakteristik Doa Tenang, tapi Dia Begitu Lembut, seseorang mungkin tidak menyadari Nya. Oleh karena itu, dalam Tenang Rohani, terpendam bagian tersembunyi, dan hanya dengan memverifikasi efek analogi yang datang untuk tahu itu. St Yohanes dari Salib, berbicara tentang Kedua Malam jiwa.
Sebagai Malam pikiran, ini tidak lebih dari wilayah bagian Persatuan Mistis yang kalah dengan Pernikahan Rohani, tetapi dianggap sebagai termasuk Pernikahan Rohani unsur kegelapan dan karena itu menghasilkan sebagai penderitaan.
Kita sekarang dapat membentuk gagasan kompak Pengembangan Kesatuan Mistik dalam jiwa. Ini adalah Benih Pohon yang pertama, tersembunyi di bumi dan akar yang diam-diam mencuat dari dalam kegelapan yang dari merupakan Malam pikiran. Dari ini, Titik Mata Air yang lemah, menjadi Cahaya dan ini Tenang Rohani. Pohon itu tumbuh dan menjadi kesatuan, berturut-turut Penuh dan Ekstase. Akhirnya, dalam Pernikahan Rohani itu, mencapai Akhir Perkembangan-Nya dan kemudian terutama menghasilkan Bunga dan Buah. Harmoni ini ada antar Bagian Kesatuan Mistik, adalah Fakta-Fakta Yang Penting.


Ajaran Dasar untuk Bersatu Dengan Allah


Konteks hidup yang terus menerus menyatu dengan Allah menurut St Teresa, adalah Hidup (di dalam) Doa, dimana Doa yang dimaksud adalah meditasi, Hidup (di dalam) Kontemplatif; kesadaran dalam Lingkupan Kasih Allah
Untuk dapat bersatu secara intim dengan Allah, Yohanes dari Salib, mengajarkan untuk melepas segala sesuatu, merupakan halangan bagi hubungan penyatuan tersebut.
Pelepasan, merupakan proses pemurnian, ada 3 masalah pokok yang erat berkaitan yaitu :
  1. Keheningan (silence)


  • Kesepian (solitude)
  • Kesederhanaan (simplicity)

  • 1. Keheningan

    (silence)
    Kata DIAM, bila direfleksikan lebih jauh, ternyata membawa pengertian yang jauh lebih mendalam dan menuntut dari yang terduga. diam dalam daging, umumnya jauh lebih mudah daripada DIAM dalam spiritual. Seringkali, karena alasan etika, kita akan berusaha untuk diam ketika sedang mendengar, namun belum tentu di dalam batin juga diam dan mendengar, sering saat secara daging/badaniah diam, namun di dalam batin sudah sibuk menyusun tanggapan atau jawaban bahkan serangan, sehingga akan sulit untuk benar-benar memahami apa yang sesungguhnya hendak disampaikan. Mendengar, adalah memahami apa yang sedang didengar, hal setuju atau tidak adalah hal yang lain, disini terlihat bahwa DIAM secara batin bukan soal yang mudah di dalam pergaulan juga di dalam Berdoa.
    DIAM pada meditasi erat kaitannya dengan Keheningan. Dalam Kitab Suci terdapat banyak hal dan nasehat tentang pentingnya diam untuk membantu kita menyadari pentingnya Keheningan.
    • 1 Tes 2:9
    , 4:11 Latar belakang: umat Tesalonika saat itu tidak mau bekerja, karena menganggap Tuhan akan datang sehingga tidak perlu bekerja, disini Rasul Paulus mengingatkan mereka dengan bekerja untuk Tenang.

  • Yes 30:15
  • (Dalam ketenangan dan pengharapan terletaklah kekuatanmu). Dalam Ketenangan menjadi sungguh tahu apa yang diharapkan dan jadi dapat mengatur bermacam keinginan, serta sanggup menyingkirkan keinginan yang tidak teratur.
  • Mat 12:36
  • (Setiap kata sia-sia yang diucapkan seseorang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman). Bukan menakuti, tetapi Allah melihat pentingnya DIAM untuk menjaga diri, baik badan, maupun batin, untuk mengurangi hal-hal buruk dan akan dipertanggungjawabkan.  Selain itu tokoh-tokoh rohani, juga melihat peranan DIAM dalam kemajuan spiritual.
    • Thomas Kempis, dalam tulisannya Mengikuti Jejak Kristus: "Sebenarnya saya lebih ingin lebih sering diam … karena ngobrol mengenai hal-hal yang di dunia ini kerap kali menghambatku melangkah maju."
    • Paus Gregorius Agung (590-604),  dalam berbagai kotbah dan tulisannya, ia memperbandingkan saat masih di biara dan setelah dipanggil menjalankan tugas urusan Gereja. Ketika di biara ia menikmati Ketenangan dari Keheningan untuk memusatkan perhatian pada Allah, namun tugas menjadi Paus memerlukan banyak bicara saat mengurus perkara, diawali berat menjalankannya, hingga menjadi terbiasa banyak bicara, hal itu dilukiskannya melalui bahasa satranya: "dari Ketinggian Keheningan jatuh ke dalam lumpur obrolan yang mengotori hati."
    • St Yohanes dari Salib : “Allah memberi kita PutraNya yaitu SabdaNya Yang Tunggal, selain Sabda tak ada pada Nya dan dalam Sabda Yang Tunggal: Allah telah mengatakan segala-galanya, sesuatu yang lain tidak dikatakan.”
    Semua, memperlihatkan betapa berharganya Keheningan untuk berkontak dengan manusia, terlebih untuk men-Dengar apa yang Hendak di Firman-kan Tuhan.

    Tahapan yang sering mengganggu Keheningan:


    Tahap Pelanturan


    Hal yang sangat mengganggu Keheningan meditasi, adalah pelanturan pikiran, namun bila disadari dapat dilihat ini hanyalah nafsu dari ego yang bersifat kekanak-kanakan, karena berputar pada apa yang telah atau akan dilakukan atau diinginkan. Keheningan, menuntut kita menempatkan budi dan kehendak diatas hawa nafsu. Nafsu tidak selalu buruk, namun nafsu harus dibawah kendali budi serta kehendak, dengan demikian menjadi manusia yang lengkap. Bila nafsu di atas budi dan kehendak, maka akan timbul tindakkan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ada banyak ajaran rohani yang bagus, tetapi tidak dilaksanakan. Ini terjadi, penyebabnya ialah hanya nafsu yang dilayani terus-menerus. Membiarkan diri pada saat itu, mencari apa yang menarik dan menghindari apa yang menakutkan. Dengan bertambahnya usia, kia belajar menahan diri, namun perlu diselidiki apakah hal ini benar-benar mengubah hati atau hanya bersifat lahiriah. Tidak mudah menciptakan Keheningan, nafsu sering muncul mengatasi budi terutama saat Berdoa dan bermeditasi. Menyadari adanya nafsu yang ingin memecah hati dengan cara timbulnya banyak keinginan dan perasaan yang tidak terkendali, biarkan dia lewat di bawah kendali budi, dengan demikian nafsu menjadi teratur dan ikut membangun kemanusiaan kita, sehingga siap mendengar dan menjalankan Firman Allah, dengan demikian terciptalah Kedamaian, Ketenangan, Keheningan Sejati. Menciptakan Keheningan, adalah syarat untuk semakin rela mentaati Kehendak Allah. Dengan demikian, hidup dalam Keheningan, bukan tugas saat Berdoa dan bermeditasi saja, tapi tugas yang harus dijalankan selama sepanjang hari dan tiap-tiap hari.
    Sekarang dapat dilihat yang terjadi dalam Keheningan adalah :
    • Kita tidak terbebas dari pelanturan (bersumber dari nafsu, ego, kekanak-kanakan)
    • Pelanturan tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat diatasi, dengan tidak mengikuti pikiran yang timbul tersebut. St Teresa dari Avila, menyamakan pelanturan sebagai orang gila yang mengajak bercakap-cakap, tentu kita tidak memperdulikannya dan segera meninggalkannya.

    Tahap Kenangan Masa Lampau (Luka Batin)


    Mungkin ada keadaan di suatu masa yang lalu, yang ingin dilupakan, karena menjadikan potret perjalanan hidup tidak sempurna, tidak indah, namun tidak dapat dipungkiri, hal-hal terburuk sekalipun yang pernah terjadi merupakan bagian dari sejarah hidup, yang tak terhapus dengan melupakannya. Melalui Rahmat Allah dalam bermeditasi, hal tersebut dapat diingatkan kembali dan diterima secara wajar, sehingga membuat jiwa terbebas dari tekanan, juga topeng, yang tanpa disadari. Pada satu sisi, terasa tidak enak, bahkan menyakitkan, teringat kembali kenangan yang hendak dilupakan, sehingga bila seseorang tidak menyadari berada pada level ini, ia dapat menjadi gelisah, namun jika disadari bahwa ini sesungguhnya merupakan Rahmat Allah dan mengingatkannya - agar dapat merasakan Kasih yang menyembuhkan. Tahap ini akan menjadi pelanturan, bila kembali nafsu dibiarkan mengambil kendali, dengan kesadaran akan hal ini dan membiarkannya berlalu, berarti membiarkan Kasih Allah semata yang memegang kendali, sungguh ini akan menjadi proses Penyembuhan, yang membawa pada Keheningan yang dicari.

    Tahap Tembok


    Dengan selalu setia ber-meditasi, ada saatnya menemui level tembok, keadaan seperti yang dilukiskan St Yohaanes dari Salib, sebagai “Malam Gelap”, dimana kita seakan terhalangi bersatu dengan Allah, ada rasa sakit dan ketidak mengertian tentang Allah, ada rasa yang berbaur dari mencintai dan merasa dekat dengan Nya, sekaligus mencari dimana Allah, seorang Mistikus yang menulis “The Cloud of Unknowing”, mengatakan ini adalah tahap pengalaman "an extential sorrow", kesakitan karena adanya halangan untuk bersatu dengan Nya. Tahap ini merupakan Rahmat Allah dan bisa berlangsung lama, saat ini sebenarnya iman diperdalam dan diperkuat karena lambat laun, namun pasti, tembok satu persatu akan dibuka sehingga kita dapat melihat dan mengerti keindahan berelasi dengan Nya, saat itulah kita dapat mengalami Kehadiran Allah secara baru dan tak terduga. Kapan hal ini terjadi, tidak perlu menjadi soal, bila hal ini terjadi pun  yang perlu dilakukan adalah tetap menjaga Keheningan, Allah sendiri yang akan melakukannya.
    Hal tentang tembok ini dilukiskan Kitab Suci sebagai pengalaman Maria Magdalena, tembok yang menghalangi pandangannya, membuat ia tidak mengenali Yesus yang benar, yang sesungguhnya ada bersamanya, namun ketika tembok itu runtuh, yaitu saat Yesus sendiri yang meruntuhkannya dengan memangil nama pribadinya: "Maria", ia tersadar dan segera mengenali Yesus, bukan Yesus yang ada dalam pikirannya, tapi Yesus yang telah tersalib, bangkit dan hidup, Yesus yang memperkenalkan DiriNya sendiri Dalam Rupa yang sesungguhnya. Demikian, Keheningan Sejati baru tercipta, bila ada campur Tangan Allah, yang membebaskan kita, dari segala bentuk-bentuk egoisme.

    2. Kesepian (solitude)


    Manusia, adalah mahluk sosial, dimana secara umum, selalu ingin mencari kawan dan berkumpul, namun ada saatnya masing-masing orang akan hadir sendiri-sendiri dihadapan Allah. Walaupun sekelompok orang berdoa bersama-sama, tetapi tetap kehadiran dihadapan Allah berada dalam kesepian dan kesunyian masing-masing, pribadi, yang tidak terwakilkan oleh yang lain. Meskipun demikian, doa yang sangat pribadi sekalipun, tetap mempersatukan pribadi-pribadi yang Berdoa. Hal ini dapat dilihat, pada pertemuan lintas agama, dimana pesertanya datang pada level bahasa-pikiran manusia, namun saat mereka bermeditasi bersama, menurut tradisi masing-masing masuk dalam Keheningan, jelas, masing-masing seorang diri, tetapi justru dalam Keheningan dan Kesendirian, mereka menjadi dekat dan bersatu. Semakin dekat seseorang menuju Allah, akan semakin dekat pula menuju sesama. Dengan demikian, seorang yang dalam kesendirian menuju Allah saat bermeditasi, sesungguhnya akan semakin dekat dan terbuka pada orang lain, hal ini terjadi bukan karena hanya dipersatukan oleh status atau organisasi, tetapi karena usaha dan latihan meditasi, yang menuju Pusat yang sama, yaitu Kasih Allah Yang mem-Persatukan.
    St Yohanes Salib melihat dengan tajam, bahwa Karya Terbesar Yesus terjadi saat Ia berada dalam keadaan solitude, yaitu: saat Ia tergantung sendiri di ketinggian Kayu Salib, yang hina tampa hiburan bahkan serasa ditinggalkan oleh BapaNya. Tapi saat itulah, saat Kesepian dan derita dahsyat, Ia melaksanakan Karya Teragung dan Terbesar, yaitu mendamaikan manusia Dengan Allah, melalui Teladan KetaatanNya. Kematian Yesus bukan Rencana sesungguhNya dari Allah, namun Teladan Ketaatan karena Kasih Pada Allah, Itulah yang mempersatukan dan yang menjadi Focus PerutusanNya, walau Salib harus dijalankan sebagai KonsekwensiNya.
    Solitude diperlukan dalam Pemurnian, meskipun tidak semua orang tahan di dalamnya. Pada solitude, seseorang akan bertemu dengan dirinya sendiri, dalam meditasi, solitude mungkin akan memunculkan kenangan buruk atau luka batin, Pada level ini diperlukan perjuangan, karena tidak ada yang dapat masuk dan menolong dalam solitude ini kecuali diri sendiri yang terbuka Kepada Rahmat Allah. Sama seperti Yesus, yang memulai KaryaNya melalui solitude di padang gurun, Ia melihat semua orang sebagai saudara yang dikasihi Allah,  lemah lembut dan merangkul semua orang di Dalam HatiNya.
    Melalui solitude, kita juga dibawa bertemu dengan ego palsu, ego yang dipasang untuk menunjukkan siapa saya pada orang lain. Tidak ada Perkembangan Hidup Rohani yang dilalui tanpa kesulitan, karena melalui kesulitan, kita dibentuk menjadi kuat, contohnya sebatang pohon yang dalam pertumbuhannya selalu dalam perlindungan akan menjadi pohon yang tidak tahan menghadapi cuaca diluar. Bila tetap bertahan dalam segala kesulitan, termasuk Kesepian dan melihat betapa buruk dan kotornya diri saat bermeditasi yang dapat kita ibarat-kan sebagai setumpuk pakaian kotor, dapat dicuci di Ruang Batin - rumah sendiri - yaitu saat bermeditasi, tanpa perlu ditampilkan pada umum. Melewati proses ini, kita dapat melihat wajah orang lain dengan wajah yang baru, melihat diri sendiri dalam orang lain, karena ego yang membatasi sudah menjadi hilang.

    3. Kesederhanaan (simplicity)


    Kesederhanan, berkaitan erat dengan Kerendahan Hati, dalam meditasi segala sesuatu menjadi sederhana karena memasukinya dengan iman seorang anak pada bapanya, seperti hubungan Yesus dengan BapaNya, membiarkan Bapa Yang Meraja dalam Keseluruhan Hidup dan MatiNya, sehingga dapat berkata: "bukan apa yang Ku Kehendaki tapi apa yang Bapa Kehendaki."
    Santa Teresa dari Avila, merumuskan Kerendahan Hati dengan sederhana, yaitu: kebenaran. Maksudnya kalau kita menerima kenyataan diri dan tidak membohongi diri sendiri atau dan orang lain tentang siapa kita, menerima kenyataan diri baik dan buruknya, itulah tanda Kerendahan Hati.
    Seringkali ada topeng, terpasang dalam pergaulan, entah untuk menyembunyikan hal-hal yang tidak disukai orang lain, atau untuk menunjukkan sifat yang tidak dimiliki, untuk memperindah tampilan diri sendiri. Tidak ada orang yang berani berdiri di hadapan orang lain murni Telanjang Rohani, artinya sungguh-sungguh apa adanya, tetapi di Hadapan Tuhan tidak mungkin menyembunyikan apapun. Melalui level-level kesadaran kita, dapat dilihat, bahwa kita belum sederhana, sering tampak gambaran diri yang belum dapat kita terima, karena belum terintegrasi, namun bertekun di dalam Hidup ber-Kontemplasi, kita akan semakin total menyerahkan diri Pada Allah, semakin sadar kita - sungguh sangat dikasihi oleh Allah. Keterbukaan Hati, membuat Karya Roh leluasa di dalam diri kita, memperlihatkan dosa dan kekurangan kita, akan berubah menjadi Bukti besarnya Kasih Allah. Hati kita menjadi hati seorang anak, seperti Hati Yesus, hati yang sederhana, tidak mendua dan tidak bertopeng. Kegagalan dalam “mencuci pakaian kotor”, janganlah membuat lari dan berhenti melakukan Pemurnian, karena hal inipun tanda Kerendahan Hati, melihat keterbatasan dan ketidakmampuan diri dan membiarkan Tuhan Yang melihat waktu tepatNya.


    MALAM GELAP JIWA


    BAB I

    PENDAHULUAN


    Manusia menurut kodrat dan panggilannya adalah makhluk religius. Kerinduan akan Allah, sudah terukir dalam lubuk hati manusia sejak lahir, karena manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Karena manusia diciptakan menurut Citra Allah dan dipanggil untuk mengenal dan mencintai Nya, maka manusia menemukan dalam pencarian Allah - jalan-jalan tertentu agar mencapai pengenalan itu. Manusia menyatakan melalui pandangan iman dan pola tingkah laku religius (doa, kurban, upacara dan meditasi), atas berbagai cara, usaha manusia untuk menemukan Allah dalam sebuah institusi agama.
    Namun dalam kondisi sejarah, dimana ia berada, manusia mengalami banyak kesulitan untuk mengenal Allah hanya dengan bantuan sinar akal budinya. Terkadang akal budi manusia menemukan ketersesatan dalam pengenalan akan Allah, yang tidak disangka, bisa melahirkan orang-orang atheis. Manusia membunuh Allah secara keji, dengan ide-ide dan menganggap agama hanyalah opium bagi para penganutnya. Meskipun demikian, masih akan tetap ada keinginan yang mendalam untuk menemukan arti hidup, menemukan suatu hubungan yang mampu memuaskan kerinduan-kerinduan manusia yang paling dalam.
    Gereja Katolik boleh bersyukur, telah memiliki banyak pencerahan, untuk mencermati hidup umat. Gereja, tidak pernah menutup mata, akan absurditas hidup manusia semacam itu. Gereja telah melahirkan orang-orang tangguh, untuk membimbing kehidupan spiritual orang lain. Satu di antaranya adalah St Yohanes dari Salib.
    Ia adalah seorang Penyair Besar, berkebangsaan Spanyol. Ia telah disebut orang sebagai ‘doktor ahli nada’ (doktor de la nada) dan ‘Malam Gelap’-nya menjadi ucapan bibir banyak orang. Dalam karya-karya prosanya, St Yohanes dari Salib utamanya, adalah guru dan pembimbing; yang membimbing pembacanya menuju puncak gunung, atau menuju pusat jiwa tempat bertahtanya kebijaksanaan tertinggi.
    St Yohanes dari Salib, membawa pesan dan visi tentang kehidupan yang bisa memberikan arti hidup, yang sebenarnya bagi umat manusia saat ini. Puisi-puisinya yang lahir dalam kegelapan dan tragedi pribadi dan bahkan dengan rasa kehilanganTuhan, berhasil menemukan Tuhan di tengah-tengah kesengsaraan. Bagi St Yohanes dari Salib, Kehadiran Tuhan yang menyembuhkan, bisa ditemukan dalam Malam Gelap nan pekat, di tempat-tempat yang sebenarnya tidak mungkin. Malam Gelap di sini, dilihat sebagai Jalan yang dapat membawa kita, di tengah-tengah kehidupan kita. Dia juga percaya, bahwa kerinduan-kerinduan kita, keinginan-keinginan kita yang paling dalam, hanya bisa ditemukan Dalam Tuhan. St Yohanes dari Salib menyatakan, bahwa ia telah menemukan kedekatan dan pemenuhan tersebut, serta ingin membagikan pengalaman tersebut dengan orang lain.
    Cara menuju keakraban dengan Tuhan adalah dengan melepaskan segala sesuatu yang dianggap sangat disenangi dan sangat penting dalam hidup. Satu hal yang perlu disini adalah kenyataan bahwa bagi St Yohanes dari Salib, kelepasan ini adalah soal cinta. Tanpa cinta kasih kepada Allah, tidak mungkin orang bisa melepaskan segalanya itu. Yohanes dari Salib, seperti halnya Para Nabi di Perjanjian Lama, terdorong untuk mewartakan Tuhan Yang Hidup dan menunjukkan, bahwa tidak ada Tuhan yang lain dan Satu Jalan Yang Benar. Dalam hal ini, ia menyukai sikap Nabi Elia, yang menghancurkan patung-patung Jezebel dan kemudian mendaki bukit Horeb, dimana ia bertemu dengan Tuhan Yang Hidup (I Raj. 18:19).
    Namun, pada abad ke-20 ini, pengingkaran terhadap Tuhan lebih sering terjadi dibandingkan pewartaannya. Selain itu, kita sering menjumpai orang-orang yang diliputi dengan ketidakpastian. Akibatnya, yang transenden tidak bisa dipikirkan. Penolakan terhadap Tuhan, terjadi sejalan dengan penolakan terhadap sesama manusia.
    Penolakan terhadap Tuhan dan retaknya hubungan, berarti bahwa komunitas menderita. Hasilnya adalah sebuah egoisme yang buta, yang menjadi kebal oleh rasa ketidakadilan. Ketiadaan Tuhan dan penolakan atas nilai, bisa berarti sebuah dunia dimana manusia yang terobsesi dengan diri sendiri dan dikendalikan oleh tekhnologi. Sebagian manusia berhasil memperoleh kesuksesan komersial, namun tidak mempunyai perasaan terhadap dunia dan tidak memiliki tanggung jawab sosial.
    Dalam konteks inilah, manusia saat ini perlu mendengarkan pesan-pesan St Yohanes dari Salib dan memastikan bahwa arti penting dari pesan tersebut bisa diterima oleh mereka semua. Ajarannya adalah ajaran tentang hal-hal yang mendasar. Bahkan saat St Yohanes dari Salib bersuara lantang pesimistis atau mendesak, apa yang dikatakannya memiliki nilai yang memberinya hak untuk menantang pembaca. Dia adalah seorang guru yang membawa pesan kebebasan, kebebasan yang memungkinkan kita menjadi sadar akan diri dan pribadi kita sepenuhnya. St Yohanes dari Salib, menyuarakan kembali salah satu ungkapan dalam Kitab Suci, “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).
    Ajaran St Yohanes dari Salib ini cukup menantang, namun tidak abstrak. Ajarannya tetap nyata, yang muncul dari hati dan diungkapkan dengan bahasa imajinasi. Perlu dicatat, bahwa disini kita menjumpai seorang yang sudah sampai pada Akhir Perjalanan, serta mengalami sendiri Segala Keindahan yang dijumpai di Tempat Tujuan dan kini kembali lagi untuk membimbing orang lain pergi ke Tujuan Yang sama.
    Ajarannya ini, yang membuat pribadinya sering kurang dimengerti, baik oleh pendukung maupun lawannya. Mereka menganggap St Yohanes dari Salib, sudah tidak waras, dikarenakan ajarannya itu. Kita dapat menemukan hal tersebut dalam aforisme-aforismenya, yang terdapat dalam buku ‘Mendaki Gunung Karmel’. Namun, bagi orang yang telah mengalami sedikit dalam hatinya “kemanisan kemuliaan surgawi”, meminjam istilah “Institutio primorum monachorum”, cita-cita yang dikemukakan St Yohanes dari Salib, sungguh-sungguh menggetarkan hati. Karyanya menggetarkan hati mereka yang merindukan Tuhan dengan segenap hati. Karena itu sesungguhnya, supaya orang dapat membaca karya St Yohanes dari Salib dengan baik, haruslah ada kerinduan akan Tuhan dalam hatinya.
    Dapatkah St Yohanes dari Salib menyampaikan sesuatu kepada umat manusia saat ini? Pada jamannya, St Yohanes dari Salib sangat tertarik untuk menjadi pembimbing sejati, bagi orang yang sedang berusaha mengembangkan diri dan membantu mereka dalam mencapai Tuhan. Pada masa dimana sebagian besar pembimbing dan guru adalah palsu, apakah St Yohanes dari Salib mampu menawarkan kebijaksanaan yang melampaui waktu? Merasa tertarik dengan ajaran-ajaran Orang Kudus ini dan merasa terpanggil untuk menekuni dan menghayati ke dalam hidup keseharian dia sebagai Karmelit. Sejalan dengan itu, keinginan menggali lebih ke dalam ajaran-ajarannya dalam sebuah kajian teologis spiritual. Maka telah disajikan disini, dengan menyusun skrip dengan judul: “Malam Gelap menurut St Yohanes dari Salib".

    BAB II

    LANDASAN TEORETIS


    Berkenalan dengan St Yohanes dari Salib


    Hidup St Yohanes dari Salib


    Memahami kehidupan dan apa yang diperjuangkan St Yohanes dari Salib, berarti menelusuri kembali keadaan Spanyol abad ke-16. Semasa hidupnya, Spanyol sedang berada pada puncak kejayaan. Namun Spanyol saat itu adalah juga negara yang baru. Sebagian besar Spanyol, ditaklukkan dan dihancurkan oleh para penyerbu Muslim dari Afrika Utara pada abad ke-8. Untuk mengusir para penyerbu itu, Spanyol butuh waktu selama 600 tahun dan baru pada akhir abad ke-15, Spanyol Selatan dapat direbut kembali. Akhir kekuasaan bangsa Moor terjadi bertepatan dengan penemuan Amerika dan berdirinya kerajaan di Meksiko dan Amerika Selatan. Berbagai kekayaan mengalir ke Spanyol sehingga negara ini berkembang dengan pesat. Meskipun demikian, Spanyol masih merupakan bangsa campuran. Orang-orang Jerman dan Celtik, hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan berbaur dengan penduduk asli Afrika Utara. Percampuran agama juga terjadi: Kristen, Yahudi dan Islam. Kebijakan resmi pemerintah saat itu adalah mengusir orang-orang Yahudi dan Islam, atau menjadi Kristen jika ingin tetap tinggal di Spanyol. Oleh karenanya, saat itu muncul banyak ketegangan antara kelompok-kelompok ras yang berbeda dan Inquisition. Tekanan dan ketakutan yang dimunculkan oleh Inquisition inilah, yang membayangi kehidupan Yohanes dari Salib. Hidupnya boleh dikatakan singkat. Peristiwa-peristiwa penting dalam hidupnya secara kronologis dapat diurutkan ke dalam tiga episode:

    @ Episode pertama

    Masa Kanak-Kanak dan Remaja (1542-1563)

    Yohanes de Yepes, nama awal St Yohanes dari Salib, de Yepes adalah nama keluarganya dan dia lahir pada tahun 1542, di Fontiferos, Spanyol, sebuah kota kecil yang berlokasi di Castile lama, sekitar 2 mil dari Avila, tempat kelahiran St Teresa. Tanggal lahirnya diperkirakan 24 Juni, pesta kelahiran St Yohanes Pembaptis, sehingga sebagai kenangan dan penghormatan kepada St Yohanes Pembaptis, dia diberi nama Yohanes. Masa kecil St Yohanes dari Salib kurang menyenangkan; ia akrab dengan kemiskinan dan suasana tidak aman di lingkungannya. Orang tua-nya berasal dari dua kelompok sosial yang saling bertentangan. Ayahnya Gonzalo de Yepes, berasal dari keluarga pedagang kaya di Toledo, adalah pedagang tekstil dan menikmati hidup nyaman, karena perekonomiannya yang berkembang pesat. Meski demikian, merasa ketidakamanan, karena mereka adalah Conversos, yaitu Yahudi yang menjadi Kristen. Keluarga orang tua St Yohanes dari Salib, telah menganut Katolik pada beberapa generasi, namun selalu ada kekuatiran, bahwa pesaing bisnisnya akan mengorek informasi dan menggunakan untuk menghancurkan bisnis mereka. Inquisition, yang saat itu berfungsi sebagai agen rahasia, adalah ancaman yang ditakuti. Inquisition, dapat dengan mudah menuduh seseorang, yang kemudian berakhir dengan kebangkrutan.
    Saat sedang berbelanja bahan pakaian, Gonzalo bertemu dengan calon istrinya Catalina Alvarez, seorang penenun yang tinggal dan bekerja di Fontiferos, dekat Madrid. Keluarga Gonzalo menentang perkawinan itu, semata-mata karena masalah perbedaan sosial, namun para sejarahwan menyatakan bahwa ada motif lain selain masalah tersebut. Mereka mengatakan, bahwa Catalina tidak memiliki limpieza de Sangre, atau tidak berdarah murni. Dia diyakini sebagai keturunan bangsa Moor, seorang keturunan dari para penyerbu Spanyol yang merupakan orang-orang Muslim. Keluarga Gonzalo merasa kuatir bahwa perkawinan tersebut bisa menarik perhatian umum dan orang-orang akan mengetahui bahwa mereka sebenarnya adalah orang Yahudi. Namun Gonzalo enggan berpisah dari Catalina, ia lalu menikahinya, meskipun tidak direstui oleh keluarganya. Pasangan tersebut, memulai hidup baru dalam kemelaratan. Gonzalo belajar menenun dari istrinya dan mereka bersama-sama berjuang mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.
    Yohanes de Yepes, anak bungsu dari tiga anak laki-laki, yang dilahirkan oleh pasangan yang tahan uji ini, namun tragisnya, saat Yohanes de Yepes berusia 5 tahun, ayahnya meninggal sebagai salah satu korban wabah yang merupakan bencana bagi kaum miskin saat itu. Setelah Gonsalo meninggal, Catalina harus berjuang sekuat tenaga membesarkan ketiga anaknya, karena keluarga Gonzalo tidak mau membantu. Catalina kemudian pindah ke Utara menuju Medina del Campo, sebuah kota perdagangan yang ramai, dimana ia menemukan tempat usaha yang lebih menjamin bagi hasil tenunannya. Dalam keadaan demikian, tragedi kembali menimpa keluarga malang itu, yaitu ketika Luis, anak kedua meninggal, saat St Yohanes dari Salib berumur 8 tahun.
    Saat usia 12 tahun, Yohanes de Yepes, ditawari pekerjaan di sebuah rumah sakit setempat, RS de la Conception, dengan tugas melayani pasien yang mengidap penyakit menular. Don Alonso pemilik rumah sakit, mengetahui bahwa Yohanes de Yepes, adalah anak yang berbakat. Ia lalu membiayainya untuk belajar di Kolese Yesuit yang belum lama didirikan di Medina; kemungkinan Yohanes de Yepes akhirnya berniat untuk menjadi imam dan merawat orang-orang sakit. Selama tiga tahun, dia belajar sastra klasik dan filsafat, menikmati tantangan dalam belajar, khususnya kesempatan untuk menulis. Dari sinilah, Yohanes dari St Matias (nama Yohanes de Yepes setelah menjadi Karmelit), memperoleh dasar pengetahuan sastra, sang calon penyair menempa diri dan kepribadiannya. Saudaranya memberikan kesaksian bahwa dalam kurun waktu yang sangat singkat ini ia menunjukkan semangat yang luar biasa. Selama periode tersebut dia mengalami panggilan Tuhan atas dirinya untuk melayani, sehingga ia memutuskan untuk bergabung dengan para Karmelit di Biara Santa Anna, Medina del Campo.

    @ Episode kedua

    Biarawan Karmel (1563-1568)

    Karmelit adalah bagian dari sebuah gerakan dalam perkembangan ajaran Kristiani, yang terjadi pada awal abad ke-13. Saat itu, Gereja nampaknya kehilangan hubungan dengan umat dan kesadaran pada Kitab Suci nampaknya telah luntur. Dalam konteks ini, sejumlah kelompok Kristen yang mencari bentuk hidup sederhana, dengan berdasar pada Kitab Suci, muncul di Eropa.
    Karmelit hidup sebagai kelompok pertapa, yang tidak hanya berdoa, namun siap pergi dan berkotbah bagi kelompok-kelompok Kristen di Tanah Suci. Kelompok ini, memilih Gunung Karmel sebagai tempat tinggal, karena memiliki kaitan dengan Nabi Besar Elia dan keindahan gunung itu, dilihat sebagai Simbol Rahmat Tuhan. Karena ordo ini bermula dari Gunung Karmel, maka para anggotanya dikenal sebagai Karmelit.
    Dia tertarik dengan cara hidup para Karmelit yang berakar pada tradisi Tanah Suci. Ia kemudian bergabung dengan mereka, pada tahun 1563 di Medina del Campo. Ia adalah salah satu anggota kelompok Karmelit muda, yang tengah mempelajari tradisi-tradisi ordo itu. Dia dan teman-temannya menjalani masa inisiasi atau novisiat dengan mempelajari tradisi-tradisi ordo dan dibantu dalam mengembangkan hubungan mereka dengan merumuskan dan mengekspresikan berbagai gagasan, serta diberi dasar budaya yang kuat. Dari catatan yang ada, nampak bahwa para siswa seangkatan dengan Yohanes dari St Matias adalah kelompok yang bersemangat dan berkomitmen. Setelah satu tahun masa inisiasi, dia dan sahabat-sahabatnya, pergi ke Salamanca untuk belajar teologi.  Salamanca, terkenal sebagai pusat akademis, sebanding dengan Paris dan Oxford. Bidang studi Yohanes dari St Matias adalah Kitab Suci dan dia mulai diperkenalkan dengan berbagai figur pemikir Kristen seperti St Agustinus dan St Thomas Aquinas. Mata kuliahnya, dalam bahasa Latin, dengan metode pengajaran yang disebut paham skolastik, yang berakar pada pandangan filsafat Yunani. Mata kuliah tersebut secara intelektual cukup menantang dan memberikan bekal baginya, untuk mengekspresikan pandangan-pandangannya. Saat belajar di Salamanca, Yohanes dari St Matias menyempatkan diri, untuk membaca berbagai buku yang ditulis oleh para Karmelit sebelumnya. Para penulis tersebut, memberi berbagai masukan baginya, dalam melakukan perjalanan lebih dekat dengan Tuhan.

    @ Episode ketiga

    Reformator Karmel (1568-1591)

    Dua puluh tiga tahun terakhir hidup Yohanes dari St Matias dalam Karmel, merupakan pengalaman dengan aktivitasnya yang mengesankan. Ia menjalani banyak tugas, sebagai reformator par exellence, penulis superior. Sejak tahun 1572 sampai dengan tahun 1577, ia memberi pelayanan bagi para suster Karmel di Biara Inkarnasi di Avila.
    Dia memulai sebuah cara hidup barunya pada tanggal 28 November 1568 di Duruelo, sebuah desa kecil antara Avila dan Salamanca. Pada hari itu, dia, Antonio dan Joseph, mengikuti Misa Kudus, yang dipimpin oleh ketua Ordo Karmelit di Castile, Alonso Gonzales. Ketiga biarawan itu mengenakan jubah yang kasar dan berjanji untuk menjalani kehidupan yang dijiwai oleh visi kehidupan Karmelit, seperti yang ditunjukkan pada masa-masa awal ordo ini di gunung Karmel. Mereka berniat memperketat semua kelonggaran yang tidak sesuai dengan Peraturan Ordo yang asli. Untuk memperingati peristiwa tersebut, Yohanes dari St Matias menggunakan nama baru dan dikenal sebagai Yohanes dari Salib. Jalan kehidupan seperti ini di kemudian hari disebut sebagai Discalced Reform.
    Pada tahun 1577, hidup Yohanes dari Salib berubah karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kemampuannya. Reformasi atau Pembaharuan Ordo, yang diprakarsainya, menjadi sasaran kontroversi dan kecurigaan. Semula, pimpinan ordo mendukung usaha tersebut, tetapi kemudian menerapkan larangan-larangan tertentu. Salah satunya adalah membatasi jumlah biara yang menjalankan hidup baru itu dan juga melarang pembentukan komunitas reformasi di Andalusia. Alasan di balik larangan-larangan ini ialah pengalaman tentang reformasi serupa di Italia yang berkembang terlalu cepat dan kemudian diambil oleh orang-orang ynag belum matang dan terlalu antusias. Larangan-larangan tersebut kemudian diabaikan terutama karena Raja Philip II mulai mencampuri urusan ordo. Philip memiliki obsesi dengan urusan-urusan Gereja dan berusaha mengendalikan Gereja di Spanyol, karena merasa terganggu atas pengaruh Paus dan ordo apa pun yang berasal dari Roma. Akibat campur tangan ini, muncul kesalahpahaman di antara para Karmelit. Para biarawan yang tidak bergabung dengan reformasi merasa terancam oleh perkembangan yang terjadi dan pimpinan ordo di Roma, John Rossi, merasa diremehkan. Komunikasi antara Spanyol dan Roma sangat lamban dan surat-surat yang seharusnya bisa menjernihkan masalah, terlambat datangnya.
    Persepsi yang berkembang, baik di Roma maupun di antara para pemimpin ordo di Spanyol, ialah bahwa gerakan yang berdasar pada inspirasi untuk memperbaharui cara hidup Karmelit itu, semakin sulit dikendalikan dan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang semakin tidak bisa diatur. Dalam konteks inilah, Yohanes dari Salib dilihat sebagai pemimpin kelompok yang tidak patuh. Dia menjadi fokus kritik, karena dia adalah salah satu di antara orang-orang yang mempunyai komitmen untuk gerakan yang disebut reformasi.
    Pada bulan Desember tahun 1577, dia ditawan dalam satu rumah kecil dekat biara Inkarnasi oleh imam Karmel Berkasut dan selanjutnya dipenjarakan di Toledo. Yohanes dari Salib, dituduh oleh para pemimpin ordo Karmelit di Castile, sebagai pemberontak dan tidak taat dengan peraturan yang telah diberikan. Dia menjalani masa hukuman atas dasar undang-undang ordo pada saat itu. Hukuman tersebut termasuk penahanan dalam sel tersendiri, ditambah hukuman cambuk (discipline circular). Disana, waktunya dihabiskan dalam kesunyian yang mendalam dan dalam kondisi yang menyedihkan, ditambah dengan makanan yang tidak memenuhi standar kesehatan.. Menarik, bahwa justru di saat yang memprihatinkan seperti itu, dia memperoleh pengalaman Kedekatan Dengan Tuhan dan sekaligus menemukan, bakat yang besar dalam bidang seni. Maka terciptalah karya-karyanya, puisi khususnya, yang akhirnya menjadi terkenal. Pada tengah malam, ketika para penangkapnya terlelap, ia melarikan diri dari penjara ini dan membawa serta puisi-puisinya.
    Pada tahun 1578 ia merampungkan puisinya yang bernuansa klasik, padat dan kaya akan hal-hal spiritual, lalu diberi komentar seturut permintaan pengikut-pengikutnya. Kejeniusannya sebagai penyair dan penulis direfleksikan selanjutnya, berhubung dengan kemampuan mencipta puisi-puisi Mistik dan literatur spiritual dalam kurun waktu sekitar 9 tahun. Setelah melarikan diri dari penjara, ia masih diberi penghargaan untuk memangku beberapa jabatan dalam ordo. Di saat-saat akhir hidupnya, ia tidak diberi jabatan apapun dan sekali lagi mendapat perlakuan kekerasan, kali ini dari rekan se-ordo, Karmel Tak Berkasut. Bahkan banyak dari antara mereka yang ingin mengeluarkannya dari ordo. Rencana itu akhirnya tidak terwujud, berhubung dengan kematiannya, yang ternyata terjadi tidak lama setelah itu. Hal ini dilihat sebagai faktor yang menguntungkan, untuk menghindari ketercelaan citra Karmel Tak Berkasut.
    Yohanes dari Salib, muncul sebagai pribadi yang tumbuh dalam kemanusiaan saat ia mencari Kesucian. Kehidupan sebagai seorang Karmelit, tidak selalu menyenangkan, tetapi dia berhasil mengatasi trauma saat di penjara dan mengubah pengalaman buruk tersebut menjadi sumber kreativitas. Bulan-bulan terakhir hidupnya dibayangi oleh berbagai tuduhan yang diberikan kepada nya, namun selalu, ia mampu mengatasi segala permasalahan hidup. Kekuatannya adalah kemampuannya untuk mengatasi persaingan. Ia memunculkan kesan sebagai pribadi yang hangat dan sangat mengasihi sesama. Ia sangat menghormati keluarganya, terutama ibundanya. Dan setelah ibunya wafat, Yohanes dari Salib, menemukan penghiburan dalam kedekatannya dengan Fransisko, kakaknya. Meskipun menjadi seorang penyair besar dan guru yang besar dan guru yang hebat, Yohanes dari Salib tetap sederhana.
    Dia meninggal pada tanggal 14 Desember 1591, di Ubeda. Menjelang kematiannya, ia meminta komunitas untuk membacakan Kidung Agung yang merupakan naskah Kitab Suci yang disukainya. Dia menemukan kedamaian dalam kata-kata yang mengungkapkan cinta yang agung, dalam naskah tersebut dan kata-kata terakhirnya adalah kata-kata kepercayaan: “Ke dalam tanganMu Tuhan, kuserahkan jiwaku”. Pada tahun 1675, ia diberi gelar beato oleh Paus Klemens X dan dikanonisasikan oleh Paus Benediktus XIII tahun 1726 dan pada tahun 1926 dideklarasikan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Pius XI. Karya Sastranya mendapat Penghormatan Khusus, saat ia ditetapkan sebagai Pelindung (Patron) Para Penyair di Spanyol, tahun 1952.

    Pengaruh St Teresa dari Avila


    Pada tahun 1567, Yohanes de Yepes ditahbiskan menjadi imam ordo Karmel. Pada periode ini, ia bertemu dengan seorang wanita baik hati, yang selanjutnya akan berpengaruh dalam hidupnya, seperti halnya ibunya. Ia adalah Teresa de Ahumada Y Cepeda atau yang lebih dikenal sebagai Teresa dari Avila.Teresa adalah seorang biarawati Karmel. Karmel sebagaimana kebanyakan ordo Gereja lainnya, telah menetapkan cara hidup bagi para wanita sehingga mereka bisa menjalani kehidupan sesuai dengan semangat dan inspirasi ordo. Teresa adalah seorang wanita yang baik hati dan memiliki visi khusus. Dia ingin membawa ordo Karmel lebih dekat dengan semangat ordo tersebut, seperti saat didirikan di Tanah Suci. Dia menginginkan suatu komunitas yang menempatkan Doa dan Keheningan sebagai prioritas utama dalam segala kegiatan mereka. Apa yang diinginkannya adalah Reformasi atau Pembaharuan Kehidupan dalam ordo bagi para biarawan dan biarawati. Kepala biara dan pemimpin ordo, John Rossi, memberi ijin kepadanya untuk membentuk kelompok-kelompok biarawan dan biarawati dimana cita-cita Karmelit tersebut bisa dikembangkan. Teresa berhasil merebut hati John Rossi, yang mengatakan bahwa seorang Teresa sama dengan seratus biarawan.
    Saat Yohanes dari Salib bertemu dengan Teresa, Teresa sudah berusia lima puluh tahun, dua kali umurnya. Teresa berasal dari keluarga yang berkecukupan dan ketika masih muda, ia telah menunjukkan kemandirian dan sifat romantisnya. Selama bertahun-tahun, hidupnya biasa-biasa saja di biaranya di Avila, namun saat berusia empat puluh tahun, ia memperoleh pengalaman-pengalaman religius yang mendalam dan sangat berpengaruh baginya serta memberinya semangat dalam memulai Pembaharuan di antara para Karmelit. Teresa juga menulis buku yang mengisahkan berbagai pengalamannya, seperti Life (Riwayat Hidup),  The Interior of Castle (Puri Batin) dan The Way of Perfection (Jalan Kesempurnaan). Teresa terkesan dengan Yohanes dan melihat bahwa Yohanes bisa membantunya. Pada saat itu, Yohanes sedang mengalami masa yang kurang menyenangkan sehubungan dengan sifatnya yang pemalu dan ingin menarik diri dari keramaian hidup. Teresa membujuknya agar menyelesaikan studinya di Salamanca dan tetap berpikiran terbuka dalam hidupnya. Komentar Teresa tentang Yohanes saat itu adalah: “Meskipun badannya pendek, namun ia besar di Mata Tuhan. Ia masih muda namun hidupnya penuh dengan tapa dan mati raga, pikirannya tajam, kemauannya teguh tak tergoncangkan dan tingkat Doanya sudah tinggi. Ia mengumpulkan segala keutamaan yang harus dimiliki oleh seorang biarawan atau rahib”. Saat Yohanes berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1568, Teresa mendekati pimpinan biarawan Karmelit di Castile, Alonso Gonzales, dan memintanya agar mengijinkan beberapa biarawannya hidup menurut visinya, visi Pembaharuan. Yang pertama, ia menginginkan agar para biarawan membantu para biarawati mendengarkan pengakuan dan memberi bimbingan kepada mereka. Yohanes bersedia bergabung dengan kegiatan tersebut, demikian juga Antonio de Heredia yang bertanggung jawab atas anggota-anggota baru. Meskipun demikian, Teresa menjelaskan bahwa Pembaharuan tersebut tidak berarti pembaharuan pada permukaan saja; namun sesuatu yang diukur melalui pelaksanaan hidup Kontemplasi, kedisiplinan, serta penyangkalan diri dalam kegiatan sehari-hari. Teresa menginginkan cara hidup yang seimbang sehingga cinta kasih, keteguhan dan kerendahan hati lebih bermakna, daripada sekedar menjalankan pengakuan dosa yang berlebihan. Teresa ingin menciptakan lingkungan dimana rasa kemanusiaan sejati bisa tumbuh dengan subur. Dia bermaksud menunjukkan pada Yohanes bahwa yang penting adalah pemahaman dan pengembangan proses kreatif dan imajinatif dalam hidup seorang Kristen. Dia membantu Yohanes melihat bahwa kehidupan akademis telah mengaburkan sisi sifatnya yang periang dan kreatif. Kecintaan Yohanes pada musik, puisi dan dongeng ditemukan kembali dan menjadi pusat dalam perkembangan dirinya. Pada saat Yohanes tumbuh menjadi guru yang hebat, bakat kreatif inilah yang membuatnya mampu mengkomunikasikan berbagai pengalamannya yang mendalam.

    St Yohanes dari Salib dan Bimbingan Rohani


    Yohanes dari Salib menginginkan agar orang yang tengah mencari kesatuan dengan Tuhan mendapatkan bimbingan atau pembimbing rohani yang baik dalam perjalanan mereka. Dia menyadari akibat buruk yang bisa dihasilkan dari nasihat yang tidak bijaksana pada diri seseorang. Dalam menuliskan tentang Yohanes sebagai pembimbing rohani, penulis memperoleh banyak masukan dari dua Karmelit Amerika, Kevin Culligan dan Denis Graviss. Denis Graviss menganalisa karya Yohanes sebagai pembimbing rohani, sedangkan Kevin Culligan menggali keterkaitan antara Yohanes dengan terapi modern yang didasarkan pada kebutuhan klien (client-based therapy).
    Yohanes melihat Yesus sebagai Model Utama, sebagai Sahabat dan Teman seperjalanan. Oleh karena itu, semua orang bisa menjadi pembimbing rohani jika memenuhi tiga kualifikasi  berikut:
    • Pertama; pengalaman; berarti bahwa seseorang telah menjalani kehidupan yang penuh makna. Tidak ada seorangpun yang bisa menyatakan tentang sesuatu yang belum pernah ia alami. Pembimbing haruslah orang yang mencintai Tuhan dan sesamanya. Pengalaman menambah kepekaan dan merupakan cara pemahaman yang bisa digambarkan sebagai intuisi. Kepekaan berarti menggali berbagai anugerah yang dimiliki orang lain dan tidak memaksakan pendapat pribadi. Seorang pembimbing yang baik haruslah terbuka bagi Roh Kudus dan tidak posesif. Jika seorang klien membutuhkan bantuan dari orang lain, maka ia bebas melakukannya.
    • Kedua, kebijaksanaan; berarti anugerah dari Roh Kudus. Kebijaksanaan bukan berasal dari proses intelektual melainkan pengetahuan khusus tentang Tuhan, suatu cara mencintai. Kebijaksanaan juga memiliki semacam imajinasi yang mencegah kita kehilangan apa yang sebenarnya terjadi pada diri seseorang. Para pembimbing yang bijaksana selalu merefleksikan hubungan mereka dengan Tuhan sehingga mereka bisa bertindak sebagai saluran Cinta Tuhan, untuk diberikan ke dalam kehidupan pribadi orang lain.
    • Ketiga, kecermatan; ini berhubungan dengan kebijaksanaan. Hal ini berarti bahwa individu dan keadaan individu tersebut diberi nilai semestinya. Pemikiran yang jernih dibutuhkan saat menilai motivasi seseorang. Bila perlu, motivasi yang keliru perlu dijernihkan dan dikoreksi.
    Pembimbing yang bijaksana, cermat dan berpengalaman perlu memastikan bahwa dalam sebuah hubungan, batasan-batasan yang ada perlu dihormati. Batasan-batasan ini penting, karena bisa mencegah terjadinya kesalahpahaman dan penyelewengan dari hubungan tersebut. Yang penting di sini adalah kita harus selalu bersikap terbuka bagi Kristus dan Kristus tetap merupakan Tujuan dan Model.
    St Yohanes dari Salib dan St Teresa dari Avila, merupakan salah satu pasangan paling Anggun, dalam Sejarah Spiritualitas. Sekarang keduanya adalah Pujangga Gereja dan di-Agungkan secara khusus sebagai Guru Doa bagi umat Kristen.

    Klasifikasi Karyanya


    Ketika dipenjarakan oleh sesama Karmelit, Yohanes memperoleh sejumlah pengalaman religius yang mendalam. Di tengah-tengah penderitaan fisik, ia mengalami sesuatu yang dipercayainya sebagai pengalaman kedekatan yang menakjubkan Dengan Tuhan, sedemikian dekatnya, seakan-akan terjadi Penyatuan secara fisik. Yohanes, ingin membagikan pengalaman ini dan hasilnya adalah puisi yang termasuk yang paling indah dalam bahasa Spanyol. Sampai sekarang karya-karyanya tetap mempunyai nuansa yang mendalam, seperti ketika dirasakan waktu pertama kali ditulis. Karya-karyanya dibagi ke dalam dua kelompok yakni: karya-karya besar (major works) dan karya-karya kecil (minor works).

    Karya-Karya Utama

    (major works)


    ·Pendakian Gunung Karmel (Subido Del Monte Carmelo): 3 buku.
    ·Malam Gelap (Noche Oscura): 2 buku dengan 8 stansa.
    ·Madah Rohani (Cantico Espiritual): 39/40 stansa dengan komentar
    ·Nyala Api Cinta (Llama de Amor Viva): 4 stansa beserta komentar.

    Karya-Karya Kecil

    (minor works)


    ·Puisi: 2 roman (Romances), 5 puisi (Poemas), 5 komentar (Glosas)
    ·Kata-kata Terang dan Cinta (Dichos De Luz Y Amor) dan kalimat-kalimat pendek lain (Avisos): 200
    ·Pernyataan-pernyataan (Cautelas) dan Nasihat-nasihat kepada Religius (Cuatro Avisos A Un Religioso).
    ·Surat-Surat  (Epistolasio): 33

    Latar Belakang Karya-Karya Utama


    St Yohanes dari Salib, menulis empat karya prosa besar, yang pada awal karyanya tersebut menyatakan pandangannya tentang bagaimana kita bisa mencapai Persekutuan Dengan Tuhan. Karya-karya ini ditulis antara tahun 1579 dan 1586 dan dimaksudkan untuk membantu para biarawan dan biarawati dari Discalced Reform dalam membangun relasi mereka dengan Tuhan.
    Dengan demikian, berarti bahwa Yohanes menulis bagi orang-orang yang berkomitmen dalam melakukan usaha untuk Bersatu Dengan Tuhan dan merasa tertantang dengan apa yang dikatakannya. Yohanes biasanya mengetahui bagi siapa ia menulis dan merasa bebas mengungkapkan diri melalui kata-kata dan tulisan-tulisannya.

    Pendakian Gunung Karmel

    (Subido del Monte Carmelo)


    “Pendakian Gunung Karmel”, ditulis berdasarkan dua tema besar, yaitu cita-cita Persekutuan dengan Tuhan dan usaha untuk mencapai Persekutuan itu. Ada tiga komponen karya yang terdapat di dalamnya:
    1. Puisi Malam Gelap (En una noche oscura);
    2. Sketsa gunung kesempurnaan (mount of perfection);
    3. Komentar tentang Pendakian.
    Keseluruhannya terdiri atas 3 buku yang memuat 15-32-45 bab secara berurutan. Ini merupakan karyanya yang terbesar. Yohanes menulis karyanya ini antara tahun 1579-1584 dan fokusnya adalah pada puisinya; The Dark Night. Teks dalam Pendakian Gunung Karmel atau Gunung Kesempurnaan. Sketsa ini semula dibuat untuk para biarawati di Beas, namun selanjutnya sejumlah salinannya dibuat untuk para biarawan di Baeza dan Granada. Sketsa ini dimaksudkan sebagai ringkasan buku tersebut dan syair yang menyertainya menunjukkan antitesis antara todo (segala) dan nada (tiada) yang merupakan inti pemikiran Yohanes. Antitesis ini mungkin kelihatan membingungkan, namun pada kenyataannya nada atau tiada merupakan bagian dari suatu proses mencapai kebebasan pribadi yang mendalam, pelepasan beban yang menghambat perkembangan diri. Nada adalah jalan yang menjadi bagian dari perjalanan yang disebut Malam Gelap.
    The Ascent of Mount Carmel, ditulis setelah Yohanes mengalami Persekutuan Dengan Tuhan. Pertama saat berada di penjara yang diikuti dengan masa-masa yang menyakitkan. Yohanes telah menjalaninya dan saat ia berada di Puncak, ia bisa melihat jalan terbaik yang harus ditempuh dan ia ingin membagikan kegembiraan yang telah ditemukannya. Dia juga sadar bahwa ada banyak orang yang ingin dekat dengan Tuhan, namun tidak punya bimbingan. Oleh karena itu, Yohanes ingin memberikan ajaran kokoh dan mendasar untuk membantu mereka. Yohanes memberikan konsep Malam Gelap, sebagai suatu cara agar orang semakin dekat dengan Tuhan. Dia menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya cukup sulit dan meminta maaf atas gaya penulisannya yang ‘kaku’. Dia menekankan bahwa tulisannya ditujukan bagi mereka yang sudah siap untuk melaksanakan hal ini secara sungguh-sungguh, yaitu para biarawan dan biarawati reformasi. Dalam buku I, bab 13 ditulis bahwa mengikuti Kristus haruslah menjadi segalanya, jika kita ingin memperoleh pemurnian. Dengan menyuarakan peraturan Karmel, Yohanes menekankan bahwa kita perlu melakukan refleksi atas Hidup Kristus sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Buku II dan III didominasi oleh refleksi keimanan Yohanes. Bagi Yohanes, iman atau kehidupan iman adalah suatu Malam gelap. Gelap karena melebihi daya pikir manusia dan bahwa daya pikiran kita tidak dilengkapi sarana untuk dapat memahami CahayaNya. Hal ini sama halnya dengan binatang malam yang kedua matanya terbiasa dengan gelap, namun tidak mampu melihat cahaya siang hari. Iman diarahkan Kepada Kristus Sang Cahaya Sejati. Makna Kristus sebagai Cahaya merupakan Gambaran yang kuat dalam Kitab Suci menurut St Yohanes dari Salib. The Ascent sendiri diakhiri dengan tiba-tiba, karena Yohanes mendapati bahwa ia tidak mampu beralih menuju lingkup ajaran berikutnya yakni pemurnian pasif. Yohanes melihat bahwa pemurnian pasif merupakan suatu cara khusus dari Tuhan dalam memperlakukan pribadi manusia sedemikian rupa, sehingga perubahan yang radikal terjadi di dalam pribadi individu tersebut. Dalam kaitannya dengan pemberian penjelasan di atas puisi itu, The Ascent of Mount Carmel hanya menyentuh dua bait.

    Malam Gelap

    (Noche Oscura)


    ‘Malam Gelap’ membentuk bagian kedua yang melingkupi pendakian ke Gunung Karmel dan merupakan kelanjutan doktrin tersebut. Isi Malam Gelap berdasar pada dua stansa pertama dari puisi ‘En Una Noche Oscura’. Dalam dua bagiannya terdapat 14 dan 25 bab, khusus mengulas Malam Gelap Indera dan Malam Gelap Roh. Tema dan dinamika Malam Gelap mirip dengan isi Pendakian Gunung Karmel dengan penekanan khusus pada intensifikasi dan purifikasi dalam dimensi pasifnya. Malam Gelap menunjuk pada daya pasif dan aktif hubungan manusia dengan Tuhan, karena keinginan akan Persekutuan. Malam Gelap (The Dark Night) menyentuh materi yang ingin dibahas oleh Yohanes dalam The Ascent of Mount Carmel, namun tidak pernah bisa diselesaikan, yaitu hal pemurnian pasif. Pemurnian pasif berkaitan dengan Kehendak Tuhan atas diri manusia. Buku I membahas tentang Malam yang pasif dari rasa, sementara buku II berbicara tentang Malam yang pasif bagi jiwa. Yohanes menjelaskan bahwa, walaupun sebagian besar perjalanan menuju Persekutuan Dengan Tuhan merupakan hasil dari Tindakan Ilahi, namun tidak berarti bahwa manusia tidak mempunyai sumbangan apapun. Ini merupakan prinsip teologi Katolik bahwa karena Karya Allah, manusia diselamatkan. Namun untuk mencapai Persekutuan Dengan Tuhan perlu kerja sama manusia. Dijelaskan dalam konteks hubungan manusia Dengan Tuhan, tanda-tanda Malam yang pasif, yaitu:
    1. tidak ada rasa kebahagiaan dalam segala aspek kehidupan, tepatnya tidak ada kebahagiaan dari Doa;
    2. berusaha melayani Tuhan, mengarahkan kita dari rasa senang atas Tuhan menuju ke kesadaran yang lebih mendalam.
    3. peralihan dari Doa Meditasi ke Kontemplatif. Dengan kata lain, Agenda Doa yang dilakukan berasal Oleh Tuhan, bukannya dari metode dan bentuk yang kita pilih sendiri.
    Gaya penulisan The Dark Night memerlukan pengkajian dan memberikan berbagai pandangan tentang cara Yohanes dalam mengukirkan pengalaman-pengalamannya. Suatu kali, Yohanes mengatakan pada seorang temannya saat mencoba menulis puisi, “Kadang Tuhan memberiku kata-kata dan kadang aku mencarinya sendiri”.

    Madah Rohani

    (Cantico Espiritual)


    Karya besar yang dihasilkan saat berada di penjara Toledo adalah ‘The Spiritual Canticle’ (Cantico Espiritual). Karya ini di-indonesiakan dalam beberapa versi, di antaranya ‘Madah Rohani’, ‘Gita Rohani’, dan “Kidung Rohani”. Madah yang dimaksudkan adalah karya sistematis, komentar atas setiap puisi dalam Madah Rohani. Isinya adalah karya paling indah yang lahir dari pikiran Yohanes. Tiga puluh satu bait pertama ditulis dalam penjara dan delapan bait terakhir ditambahkan antara tahun 1579 dan 1564. Puisi ini mengungkapkan Pengalaman Mistik saat Yohanes berada di dalam penjara. Ungkapan tentang sesuatu, pada satu tingkat, mungkin muncul dari pengetahuannya yang mendalam tentang Kitab Suci. Pemahaman dengan menggunakan pandangan abad ke-20 atas komposisi puisi ini dan juga puisi-puisi Yohanes di penjara. Para korban penyanderaan Beirut, korban pertikaian di Libanon, semuanya tetap berusaha bertahan dengan cara mengingat puisi atau cerita-crita yang mereka ketahui sejak masa kanak-kanak atau mengingat berbagai cerita yang masih bisa mereka ingat. Madah Rohani menjadi menonjol karena merupakan suatu perspektif atas Kisah Cinta antara jiwa (manusia) dan Pengantinnya (Kristus). Kisah Cinta ini secara tidak langsung menyingkapkan kehidupan dan dinamikanya. Prolog dari risalah ini juga menyajikan ringkasan atas keseluruhan doktrin.

    Nyala Api Cinta

    (Llama de Amor Viva)


    Puisi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah ‘The Living Flame of Love’ (Nyala Api Cinta). Puisi ini ditulis di Granada antara tahun 1582 dan 1584. Puisi dan komentarnya tersebut ditulis untuk Doña Ana y Peñalosa, seorang wanita awam yang taat dan dibimbing Yohanes. Puisi dan penjelasan tersebut berbicara tentang Puncak Pengalaman Mistik. Puisi ini memiliki bentuk yang berbeda yaitu dengan enam baris tiap bait, bukan empat seperti biasanya, serta memiliki makna gerakan ke atas, seperti sebuah tarian dan penuh ratapan. Puisi ini menunjukkan paradoks dari kenyamanan yang muncul bersamaan dengan rasa sakit dan nuansa penyembuhan ketika seseorang yang mencari Tuhan telah melampaui tahap tertentu. Frase “Nyala Api” merupakan Panggilan Roh yang muncul dalam bentuk Lidah Api (Kej 2:1-4). Bagi Yohanes, dalam puisi ini, orang yang ber-Satu Sang Kekasih juga diper-Satukan Roh, Ikatan Cinta antara Kristus dan Bapa. Roh adalah Nyala Api Cinta yang meng-Hibur. Hal ini karena St Yohanes dari Salib, dalam mengungkapkan makna Penyatuan Paling Dalam Tuhan, membawa kita menuju Kehidupan Tuhan umat Kristen yang satu namun tiga, sehingga ia mulai mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Yohanes menyadari bahwa Persatuannya Dengan Sang Kekasih, dengan Kristus, bisa terjadi karena Cinta Tuhan bekerja dalam dirinya, yang mengakibatkan proses Transformasi yang menyakitkan, namun menyenangkan.


    Rangkuman


    Hidup St Yohanes dari Salib, terimplisit secara jelas dalam kepemilihan namanya ‘Salib’, berhubung dengan kekalutan dan masa gelap yang mendominasi hidupnya. St Yohanes dari Salib tetap bertahan dalam godaaan dan derita, Berkat Kekuatan dan Penyertaan Allah, sebagai Hasil Doa, wawanrasa Yohanes dengan Allah. Allah tak segan-segan dipandangnya sebagai Saudara, Kekasih, Bapa, Ibu, khusus dalam karya tulisnya, cerminan kedekatan dan intimasi yang mendalam. Karya-karyanya merupakan sebuah ciptaan spektakuler yang begitu mendalam menyelami Kehadiran Allah, di jaman yang justru berkekurangan jika dibandingkan dengan era kehidupan kita. Tidak ada sarana pendukung, walaupun akhirnya hasil karya Yohanes dipandang sebagai satu Karya Mistis yang agung, karena berkisah dan mengulas tentang Allah dan pencarian dirinya. Saat membaca puisi-puisi St. Yohanes dari Salib, dengan deskripsinya yang kuat tentang Keadaan Mistik dan Penyatuan manusia Dengan Tuhan. Dalam konteks ini, puisi-puisi St Yohanes dari Salib memiliki Pesan Khusus, sehubungan dengan nilai dan Kekuatan Cinta Erotis antarpribadi. Jika realitas tentang Cinta Erotis ini memberi Gambaran Mistis dan Bahasa untuk mengungkapkan hubungan antara Yang Ilahi dan manusia, maka sebaliknya Gambaran Mistis tersebut ingin menyatakan kepada manusia modern untuk melihat kembali seksualitas manusia dan Hubungan Perkawinan mereka. Gambaran tersebut menginginkan kita untuk memberikan nilai yang tinggi pada Hubungan Perkawinan dan agar kita melihatnya sebagai bentuk Komunikasi Paling Tinggi, dimana keseluruhan pribadi manusia akan diperteguh dan dijunjung tinggi. Dengan semangat Kitab Kejadian, puisi St Yohanes dari Salib berbicara kepada kita tentang kebaikan dan penciptaan, kebaikan dan perkawinan.

    BAB III

    DASAR PEMIKIRAN TEOLOGIS

    St Yohanes dari Salib


    Beberapa Pemikiran

    Identitas para Karmelit tersirat jelas dalam Regula Karmel yang merupakan pedoman hidup sekaligus cermin jati diri para Karmelit. Regula tersebut diterima, dihidupi, dihayati dan direnungkan dalam menjalankan hidup kebiaraan, karya serta misinya di tengah dunia. Salah satu isi dari Regula tersebut adalah ‘merenungkan Firman Allah siang dan malam tanpa henti’. Semua yang ditulis St Yohanes dari Salib, berakar pada Kitab Suci. St Yohanes dari Salib, dengan jelas menyatakan bahwa ia cenderung tidak percaya pada ilmu-ilmu empiris, tetapi percaya pada Kitab Suci yang penuh dengan Roh Kudus: ‘Oleh karena itu, dalam mendiskusikan Malam Gelap ini, saya cenderung tidak percaya pada pengalaman atau pada ilmu-ilmu empiris, karena kedua-duanya mengecewakan kita dan menipu kita. Kendati saya tidak akan melalaikan kegunaannya apa pun yang dapat saya manfaatkan, bantuan saya akan tetap berupa Kitab Suci. Dengan mengambil Kitab Suci sebagai pembimbing kita, kita tidak akan tersesat, karena Roh Kudus berbicara kepada kita melalui Kitab Suci.’ Roh Kudus berbicara kepada kita melalui Kitab Suci. Ini adalah kunci tafsir Para Mistikus terhadap Kitab Suci. Terakhir, St. Yohanes dari Salib, memperoleh pemahaman dari pengalaman Doanya (Mistik) sendiri dan dari tradisi Ordo Karmel. Sebutlah seperti The Institution of the First Monks, suatu risalat abad ke-14, yang menantang para Karmelit untuk melihat Persatuan Dengan Tuhan, sebagai raison d’être mereka.

    Beberapa pemikiran teologis St Yohanes dari Salib:


    Allah Maha Kuasa


    Hampir setiap halaman doktrin St Yohanes dari Salib dipenuhi dengan Kata Allah (Dios), karena hidupnya sendiri diyakini mendapat Pengaruh Kuasa Allah, melalui Pengalaman Kehadiran Nya. Pengalamannya Dengan Allah, itulah yang menguatkan komitmennya untuk menanggapi Cinta Tuhan dalam jiwa. Katanya: ”Jikalau seorang mencari Allah, Yang dicari itu akan kembali mencarinya”. Jiwa adalah Pusat Keberadaan Allah (Allah mendiami jiwa). Persahabatan dengan Allah timbul oleh karena penghayatan ketiga kebajikan teologal: iman, harap dan kasih. Dalam puisi Nyala Api Cinta, ‘tangan’ merupakan Simbol Kehadiran Allah, yang senatiasa merangkul manusia (jiwa). Nampak dalam bait pertama puisinya itu, “Oh, tangan yang lembut! Oh, sentuhan yang nyaman’ Tangan ini sebagaimana telah dimengerti adalah Bapa Yang Mahakuasa dan yang Tak Terhingga (Omnipotens dan Infinitum). Patut  kita pahami, bahwa tangan ini memberi jiwa yang terbuka, suatu Kehadiran yang meneguhkan. Untuk maksud ini, jiwa menyebutnya sebagai ‘tangan’ yang lembut. Dapat dikatakan, “Oh tangan, Engkau berlaku lembut bagi jiwaku, yang Engkau jamah dengan sentuhan yang nyaman, dengan kekuasaan sekaligus daya memiliki seluruh dunia Engkau menunjukkan keperkasaanMu, dan hanya dengan menatap saja bumi pun bergoyang" (Mzm 103:32), ‘segala bangsa melebur dan layu, dan gunung-gunung pun bergoncang’ (Ibr 3:6). Betapa besarnya Engkau mencinta, menyapa dan menyentuh jiwaku! Engkau menyebabkan kematian dan Engkau memberi kehidupan dan tak seorang pun terlepas dari rangkulanMu. Karena bagiMu, hidup Ilahi takkan dibunuh kalau itu bukan untuk kehidupan dan takkan terluka kalau itu bukan untuk suatu kesembuhan. Ketika Engkau menghukum, jiwa justru merasakan sentuhanMu teramat lembut, yang dengan itu menyelamatkan dunia. ‘Engkau melukai aku untuk menyembuhkan aku, Engkau telah memberi aku kematian akan hal-hal yang merusak hidupku, memberi aku hidup seperti Allah, sehingga aku merasa kini aku hidup’. Kita dapat melihat St Yohanes dari Salib, menggabungkan kedua konsep ‘Bapa-Ibu’, sebagai penjelasan atas puisinya, dengan maksud menggambarkan Allah. Tangan yang lembut secara manusiawi tentunya dimiliki oleh seorang ibu, yang senantiasa sayang pada anaknya, kendati anak berbuat tidak sesuai dengan kehendaknya. Tangan itu jugalah yang senantiasa siap berjuang dan menyiapkan keteduhan bagi anak, yang dapat kita pahami sebagai gambaran kasih seorang bapak. Dalam puisi Spiritual Canticle-nya, St Yohanes dari Salib, mengambil peran mempelai dan mendendangkan cinta akbar sang mempelai pria, putra Allah, dalam keadaan ekstase. ‘Di sana Ia memberikan kepada saya dadanya, disana Ia mengajarkan kepada saya pengetahuan manis’.

    Yesus Kristus


    Secara implisit, seluruh karya dari St Yohanes dari Salib mengajarkan kepada kita tentang Yesus Kristus. Kristologinya sangat kaya dan layak untuk dipelajari. Ia secara  tekun sekali mewartakan bahwa Yesus Kristus sungguh sebagai Pusat, Titik Pangkal dalam Hidup manusia. Dalam “Doa suatu jiwa yang dipenuhi rasa Cinta”, ia menulis demikian:
    “Engkau tidak akan mengambil dari padaku, oh Tuhanku apa yang pernah Engkau berikan kepadaku, Yesus Kristus PutraMu Yang Tunggal. Aku yakin di dalam Pribadi Yesus Kristus segalanya terpenuhi. Kepunyaanku adalah surga dan dunia. Kepunyaanku adalah seluruh bangsa baik yang benar maupun yang berdosa. Malaikat adalah kepunyaanku dan Bunda Allah dan segala sesuatu adalah milikku, dan Tuhan sendiri adalah milikku. Aku katakan semuanya itu karena Kristus adalah segalanya bagiku.” “Karena Kristus adalah kepunyaanku,” inilah yang diyakini oleh St Yohanes dari Salib. Ia yakin, bahwa Kristus adalah Puncak Segala Anugerah Allah, kepada manusia. St Yohanes dari Salib, melihat bahwa Misteri Inkarnasi ini, merupakan Pintu Masuk Ke Dalam Kejayaan bagi semua makhluk. Inkarnasi merupakan Pusat Misteri, dalam iman umat Kristiani. Dalam pengajaran St Yohanes dari Salib, Misteri Inkarnasi, adalah alasan terpenting mengapa Sang Jiwa, melakukan suatu perjalanan panjang menuju Puncak Kesempurnaan. Seluruh kristologi yang dihasilkan St Yohanes dari Salib, berkisar di sekitar Inkarnasi. Melaui PutraNya, Allah Bapa berbicara kepada manusia dan kepada segala ciptaan dan tidak ada lagi yang harus dibicarakan dan karena ‘Dalam Kristus tersembunyi segala Harta Hikmat dan Pengetahuan’ (Kol 2:3) Dalam Diri PuteraNya, Allah berdiam (hablado) dan menanggapi (respondido), memanifestasikan (manifestado) dan menyatakan (revelado) DiriNya; Ia menyerahkan DiriNya kepada manusia sebagai Saudara (Hermaño), Sahabat (Companero), Guru (Maestro), sesuatu yang berHarga (precio) dan sebagai Hadiah (premio). Persatuan Putra Allah dengan manusia membuat Manusia Yesus, menjadi Pembawa Keselamatan Definitif, yang dicari dan dibutuhkan setiap orang sebagai Dasar EksistensiNya. Setiap pribadi akan dapat bertumbuh dan berkembang Dalam Hidup Spiritual, hanya dengan mengikuti Kristus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada orang yang dapat datang kepada Bapa tanpa melalui PuteraNya (Yoh 14:6).
    Bagi orang yang menjalani Hidup Rohani secara serius, Kristus adalah Pribadi yang harus diteladani dan Ia menjadi Contoh yang harus diikuti.

    Maria dan Roh Kudus


    Banyak tulisan St. Yohanes, khususnya prosa dan syair-syairnya yang mengisahkan tentang Maria. Maria selalu hadir dalam pikiran St Yohanes. Hal ini beralasan kuat karena devosi kepada Maria, menjadi salah satu kharisma dalam spiritualitas ordo Karmel. Baginya, Maria adalah Orang yang selalu mengajarkan kepada kita makna sebuah komunikasi, kehadiran, dan cinta akan Allah. Maria mengajarkan kepada kita bagaimana cara menjawab Karya Roh Kudus. Roh Kudus inilah, yang memampukan kita untuk Berdoa dan yang membantu kita untuk belajar dan berkembang dalam Kehidupan Spiritual. Tulisan St Yohanes dari Salib, terpusat pada Persatuan jiwa Dengan Allah. Dalam pemahamannya, Model Utama dan Sempurna dari Jiwa yang diSatukan Dalam Persatuan Dengan Allah, Adalah Maria, Bunda Yesus. Dalam sebuah artikel yang terkenal berjudul: “The Marian Gospel of St John of the Cross,” P. Jose Vicente Rodriquez membedah seluruh karya St Yohanes. Disitu, ia temukan referensi Kitab Suci yang dipakai oleh St Yohanes untuk menjelaskan Maria. Dia mendaftarkan 12 referensi. Namun, Rodriquez hanya menjelaskan keempat referensi yang terkenal. Keempat referensi yang terkenal itu adalah sebagai berikut: Pertama, terdapat dalam bab II, buku ketiga ‘The Ascent of Mount Carmel’. Disitu terdapat teks Maria yang sangat fundamental dan signifikant. Kedua, komentarnya dalam Kidung Rohani. Disitu terdapat dua referensi penting, satu dalam stansa dua, yang menjelaskan kehadiran dan peranan Maria dalam sebuah pesta perkawinan di Kana. Satu bagian lagi sebagai referensi ketiga terdapat dalam stansa dua puluh yang mengisahkan dukacita hidup Maria. Referensi keempat, terdapat dalam bukunya ‘The Living Flame of Love’ (stansa tiga), yang menjelaskan makna Roh Kudus yang menyelimuti Maria. Dari referensi di atas, penulis mengambil point-point penting tentang Maria yakni, Pertama, Perawan Maria sudah diangkat menuju Persatuan Dengan Allah sejak awal eksistensinya. Kedua, Maria, adalah Seorang yang sudah ditebus sejak awal, dan tinggal selalu pada Puncak Kesempurnaan. Ketiga, keunggulan Maria ini, tidak terlepas dari peran serta Historis Maria dalam Karya Yesus di Palestina, ketika Maria menerima Putranya dalam segala suka dan duka KaryaNya. Keempat, Maria tidak hanya menjadi Bunda kita dalam tata iman menurut peristiwa-peristiwa ‘pada waktu itu’, melainkan ke-Ibuan Maria dalam tata Rahmat berlangsung terus tanpa putus. Kelima, Kristus tetap Satu Sumber Leselamatan. Tetapi makhluk-makhluk diberi kemungkinan untuk berpartisipasi dalam Sumber Rahmat dan dalam Karya Penyelamatan itu dan Maria IbuNya, berpartisipasi secara paling unggul dan istimewa.

    Nada


    Kata ‘nada’ adalah kata asli dari kata kerja bahasa Spanyol ‘nacer’, yang berarti ‘melahirkan’. Secara original kata ‘nada’ berarti ‘cosa nacida’ (sesuatu yang lahir), yaitu sesuatu yang ada. Oleh karena itu, untuk melukiskan satu bagian dari ‘ketakberadaan’ (Non existensi), maka awalnya dirangkaikan dengan kata ‘nada’; maka dengan demikian akan menjadi ‘nonada’, yang berarti tidak lahir, tidak ada sesuatu, atau tidak berada. Perlahan-lahan, awalan ‘no’ dihilangkan dari ‘nonada’ tanpa adanya perubahan dalam pengertian. Dengan demikian, pengertian kata ‘nada’ sekarang berarti, tiada, tidak ada, ketiadaan, kekosongan, tidak ber-ada. Yohanes menggunakan kata ‘nada’ dalam berbagai cara dan dengan tahap yang berbeda dalam pengertian atau pemaknaan, berdasar pada prinsip metaforis, psikologis dan filosofis. Secara keseluruhan, Yohanes lebih memiliki ketertarikan pada pertalian dengan filsafat daripada dengan aspek yang lain. Apapun aspeknya, hal pertama yang harus dicatat berhubungan dengan konsep nada dari Yohanes adalah tempat pertama ditempatkan dalam pikiran dan tulisannya. Pada permulaan juga, harus kita ketahui bahwa konsep nada Yohanes bukanlah bersifat asketis. Baginya, nada adalah jalan menuju ‘el todo’. Tanpa ‘el todo’, jalan dari nada tidak bermakna baginya. Makanya untuk mencapai ‘el todo’, Yohanes menyarankan jalan ‘nada’. Nada adalah kebebasan sejati. Maksudnya adalah membebaskan kita dari segala hal yang negatif dalam hidup kita, terutama membebaskan kita dari keterasingan. Nada di sini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pengingkaran hidup ataupun menomorduakan ciptaan. Tetapi Nada di sini memiliki arti positif, yaitu tentang perkembangan yang sejati. Namun demikian, perjalanan tersebut akan diterangkan Yohanes secara mendetail. Pada tahap ini, kita perlu membandingkan perjalanan ini dengan gambaran-gambaran yang ada dalam Kitab Suci. Jalan menuju Tuhan adalah melalui Lorong sempit atau Pintu Gerbang sempit, jalan yang lebar bukan merupakan jalan yang tepat (Mat 7:13-14)

    Jalan Kelepasan


    Dalam perjalanan menuju puncak Gunung Karmel, kita harus melepaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan kodrati kita. Secara radikal sekali St Yohanes menuntut kelepasan (detachment). Kelepasan yang berhubungan dengan obyek dan kelepasan yang berhubungan dengan cara/jalan.
    Dalam riwayat hidupnya, diceritakan bagaimana suatu hari ia berkata kepada Doña Ana de Peñalosa (seorang awam taat yang menjadi anak rohaninya dan untuknya ditulisnya puisi Nyala Api Cinta yang berlutut di hadapannya dan meminta petunjuk kepadanya. St Yohanes dari Salib berkata bahwa segala sesuatu harus dilepaskan demi cinta kepada Allah. Untuk dapat sampai kepada Kesatuan Cinta Kasih Dengan Allah, orang harus memasuki apa yang disebutnya Malam Gelap, yang tidak lain daripada pengosongan diri dalam segala bidang dan aktivitas insani.
    Bagi St Yohanes dari Salib, yang menjadi persoalan sebenarnya bukan hal memiliki barang-barang duniawi, tetapi kelekatan yang tidak teratur akan hal itu. Akan tetapi karena dalam kenyatannya, orang hampir tidak mungkin memiliki sesuatu tanpa terikat olehnya, maka sebaiknya juga meninggalkannya secara nyata. Semuanya berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai: Apa yang menghalangi tercapainya tujuan (Penyatuan Dengan Allah), harus disingkirkan tanpa ampun. Menghampakan diri melalui ‘pure negation’ terhadap barang-barang.
    Dalam buku ketiga ‘Mendaki Gunung Karmel’, (bab 17 – selesai), St Yohanes dari Salib membeberkan segala obyek dan barang yang harus dilepaskan. Pertama, berhubungan dengan barang-barang duniawi (kekayaan, status dan keluarga). Kedua, berhubungan dengan panca indera (yang termasuk obyek-obyek yang menarik hati sekalipun dalam hal liturgis, kotbah-kotbah indah, lukisan dan Gereja yang megah). Ketiga, hal-hal adikodrati (karisma yang diterima oleh seseorang: vision, Penampakan). Baginya, hanya iman-lah yang dapat menjadi sarana langsung kepada Persatuan Dengan Allah. Bila orang lekat pada gambaran, kesan-kesan yang ditinggalkan oleh vision-vision tersebut, hal itu akan merupakan halangan kepada Persatuan. Semakin jasmani bentuk vision-vision tersebut, semakin mudah dipalsukan, padahal untuk membedakannya sering sukar sekali. Tetapi benar pula, bahwa tidak semua vision ditolaknya, yaitu yang bersifat substansial. Bila datangnya dari Allah, vision tadi sudah meninggalkan efeknya dalam jiwa, tanpa dapat kita halangi.

    Rangkuman


    Tulisan St Yohanes dari Salib, berpijak pada kelima aspek di atas. Referensi utamanya adalah Kitab Suci. Meskipun St Yohanes dari Salib telah mengalami sendiri Pengalaman Mistik (ekstase) dan pendeskripsian secara sempurna Pengalaman tersebut di dalam tulisan-tulisannya sesuai prinsip teologi Katolik. Pada saat itu, seluruh permasalahan tentang meditasi dan Doa Kontemplatif berada di bawah pengawasan Inquisition. Lembaga ini, yang bertujuan untuk menjaga Kesatuan Gereja dan negara, selalu mencurigai segala sesuatu yang tidak diprakarsai oleh Lembaga Gereja. Orang-orang berbakat seperti halnya St Yohanes dari Salib, selalu diawasi, karena selalu saja ada orang yang iri. Penting dicatat, bahwa saat St Yohanes dari Salib menyebarkan penjelasan-penjelasannya, ia sangat berhati-hati dan menunjukkan kerendahan hati serta rasa hormat kepada Gereja: ‘Kesalahan dan kekeliruan penjelasan ini adalah tanggung jawabku. Dan aku menyerahkannya pada keputusan dan pendapat yang lebih baik dari Bunda Kudus Gereja Katolik Roma, yang peraturannya adalah benar dan aku mendasarkannya pada Kitab Suci’.

    Bab IV

    MALAM GELAP/KELABU BAGI JIWA

    (the dark night of the soul)


    Pengertian dan Makna Malam Gelap


    Malam Gelap

    (menurut Kamus)


    ‘Malam'


    Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata “malam” menunjukkan waktu sesudah matahari terbenam hingga matahari terbit; lawan dari siang. Malam adalah saat dimana seseorang tidak dapat bekerja lama, saat untuk beristirahat. Malam adalah saat orang untuk bersyukur kepada Tuhan atas Segala Rahmat yang dinikmati selama sehari, sekaligus saat orang memohon Perlindungan dalam istirahat yang panjang.

    ‘Gelap’


    Kata “gelap” menunjuk pada tiga arti; Pertama, tidak ada terang atau cahaya, kelam; Kedua, tidak atau belum jelas benar; Ketiga; rahasia (tidak terang-terangan), tidak ilegal atau sah, tidak menurut aturan (undang-undang, hukum) yang berlaku.

    Malam Gelap

    (menurut Kitab Suci)


    ‘Malam’


    Dalam Surat Ibrani, kata ‘malam’ (laýil), terkadang memiliki makna, konotasi, seperti bahaya dan cobaan. Seringkali malam juga dilihat sebagai simbol dari Karya Allah, yang Misteri. Pemazmur juga mengartikannya sebagai metafor dari bahaya, ‘Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam’, (Mzm 91:5) dan pada tempat lain, malam dilihat sebagai simbol ketidakhadiran Allah (Yoh 9:10; 13:30), datangnya kematian (Luk 12:20), penglihatan (vision) (Dan 7:7), mimpi (Mat 2:12), komunikasi hal-hal Ilahi. Untuk alasan ini, dalam deskripsi Yerusalem baru dinyatakan bahwa tidak ada lagi ‘malam’ (Why 21:25; 22:5), Allah Hadir bersama umatNya, melindungi dan berkomunikasi dengan mereka.
    Dalam tradisi Yahudi, “malam” dibagi ke dalam tiga bagian; sedangkan dalam tradisi Romawi dan Yunani kata malam dibagi ke dalam empat bagian. (Mat 6, 48; 14:24). Malam adalah saat kejahatan berkeliling. Malam juga bermakna mimpi dan vision (Kej 15:12; 26:34; 28:12; 31:24; 46:2).

    ‘Gelap’


    Term ‘gelap’ dalam Kitab Suci sering diperlawankan dengan terang, cahaya.  Gelap juga sering diidentikkan dengan dukacita. Dalam kebiasaan orang-orang Ibrani, gelap (hoshĕk) sering disamakan dengan bencana dan hal-hal yang mengerikan. Gelap identik dengan situasi chaos dan Karya Allah yang pertama dalam kisah Penciptaan adalah menghalau kegelapan (Kej 1:2). Hal ini dapat dilihat ketika kegelapan yang mengerikan meliputi Abraham dan menyatakan bahwa keturunannya akan diperbudak dan sangat teraniaya (Kel 15:12-13). Kegelapan juga melambangkan neraka, yang menghadirkan kebinasaan dan kematian (Yes 5:30; 47:5; Mzm 143:3; Ayb 17:13; 38:19) seperti yang dianut oleh budaya Timur Dekat, mengandung sebuah kutukan atau hukuman (Ul 28:29; Mz 35:6), berkarakteristik Kedatangan Tuhan (Yoel 2:2; Amos 5:18). Kehadiran Allah seringkali disertai dengan kegelapan (I Raj 8:12), yang mana menurut Kej 1:2, diperlakukan oleh Pencipta kepada ciptaan (Yes 45:7; Mzm 104:20). Dalam Gulungan Kitab Laut Mati, term ‘gelap’ sering diperlawankan dengan terang sebagai representasi antara kekutan yang baik dan kekuatan jahat. Perjanjian Baru menyatakan kesamaan dan perbedaan antara kegelapan (skotos) dan malam (nux) seperti yang ada di dalam Surat Ibrani. Skotos lebih spesifik berhubungan dengan simbol kejahatan, sering kali juga dihubungkan dengan nilai moral dan penderitaan spiritual (spiritual misery). Malam, di lain pihak sering melahirkan Misteri Karya Allah. “Malam itu” ketika Yesus bercakap-cakap untuk yang terakhir kali dengan para muridNya dan Yudas pergi meninggalkanNya (Yoh 3:2; 19:39). “…waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa disana” (Mrk 1:35) dan Penginjil Lukas menulis, ‘Yesus pergi ke bukit dan berdoa semalam-malaman kepada Allah’ (Luk 6:12). Tuhan datang tanpa suatu pemberitahuan terlebih dahulu; bukan hanya pada saat parousia, tetapi pada setiap moment selama hidup manusia, “Seperti seorang pencuri di waktu malam” (1 Tes 5:2; 2 Pet 3:10). Nikodemus melihat Yesus “melalui malam” bukan hanya sebagai penyelamat, tetapi juga mau menyelami misteri Yesus (Yoh 3:2; 19:39). Berhubungan dengan penghakiman terakhir; Pendosa akan dibuang ke dalam kekelaman yang paling gelap (Mat 8:12; 22:13; 25:30). Dalam Injil Yohanes, kegelapan adalah antitesis dari terang. Seorang pengikut Kristus tidak tinggal di dalam kegelapan (Yoh 8:12; 12:46). Allah adalah Terang dan tidak ada kegelapan di DalamNya (1 Yoh 1:5). Dunia lebih menyukai kegelapan daripada terang (Yoh 3:19). Di dalam surat Paulus, kegelapan adalah simbol kejahatan (Rom 13:12; 2 Kor 6:14).


    Malam Gelap

    (menurut St Yohanes dari Salib)


    Salah satu gambaran yang paling menonjol dalam tulisan-tulisan St Yohanes dari Salib, adalah penggunaan kata simbolis ‘malam’. Malam Gelap menyebabkan si pencinta mengembara dalam kegelapan mencari kekasihnya yang hilang. Semua orang yang mencari hubungan yang dekat dengan Tuhan mau tidak mau harus mengalami suatu Malam Gelap, baik secara indra maupun jiwa. Setelah melewati Malam Gelap, kita akan diantar pada Terang Yang Baru. Ungkapan ‘Malam Gelap’, adalah analogi dasar dan pertama yang digunakan oleh St Yohanes dari Salib, untuk melukiskan Penyucian dan Transformasi. Kata malam digunakan beberapa kali dan memiliki arti yang semakin kaya. Kata “malam” dimulai dengan arti bahwa malam memungkinkan Sang Kasih memulai pencariannya dan berakhir dengan penyatuan dua pribadi yang mencinta. “Sang Kasih dengan sang kekasih, mengubah sang kekasih menjadi Sang Kasih”. Malam, di lain pihak, adalah analogi akan misteri. Ia memberikan konsep “Malam Gelap”, sebagai suatu cara agar orang mencari jalan yang akan membimbingnya menuju Penyatuan Dengan Tuhan, Yang Terkasih. Inilah Penyatuan yang digambarkan sebagai Perkawinan Mistik. Malam mewakili Simbol bagi pemurnian, pelarian dari segala sesuatu yang bersifat negatif dan sekaligus menjadi tempat dimana Cahaya Sejati ditemukan.
    St Yohanes dari Salib, menyebutkan, bahwa orang yang memulai suatu Doa, akan mengalami saat kegelapan. Ia menyebutnya dengan pengalaman indera dan jiwa. Seperti kita kalau berjalan pada waktu malam, tidak dapat melihat atau menikmati sesuatu apapun, demikianpun orang pada saat ia mau berdoa, tetapi ia tidak dapat melihat dengan indra maupun dengan budi. Ia mendekati Allah dalam kegelapan. Apa yang menurut kodratnya dikejar oleh mata, telinga dan indra lain, tidak akan dapat membantu, untuk mengenal Allah. Pemandangan yang indah permai, lagu yang merdu atau pikiran yang mendalam, tidak membantu sedikitpun dalam hal ini. Tentu di bidangnya sendiri tetap berguna, tetapi Doa, tidak bisa berkembang, karena hal-hal yang digemari indra atau budi. Karena itu, indra dan budi seakan-akan berjalan pada Waktu Doa tersebut, di tengah-tengah kegelapan.

    Pembagian Malam Gelap


    St Yohanes dari Salib, menyebutkan empat “malam” yang berbeda-beda dan semuanya merupakan tahapan dalam malam gelap, dimana jiwa tengah melakukan perjalanan menuju Penyatuan Dengan Tuhan. Malam dalam analisis St Yohanes dari Salib, dibangun atas dasar dua pasang istilah, yaitu indra/rasa dan jiwa/roh; aktif dan pasif.

    1. Malam Gelap Indra


    “Indra” adalah satu term yang digunakan oleh St Yohanes dari Salib, untuk menunjukkan aspek yang kelihatan, yang dapat diindrai dalam diri manusia. Dimensi perasaan, afektif, emosional manusia memberi kepada kepribadian agama, kehangatan, selera, kegairahan dan spontanitas. Menurut St Yohanes dari Salib, “Malam Gelap Indra”, bersifat umum, artinya banyak orang mengalaminya. Kata malam di sini memiliki arti koreksi atas tingkah laku yang penuh dosa dan kepuasan yang berpusat pada diri pribadi. Mereka adalah orang-orang yang mulai berdoa. Meskipun demikian, mereka itu bukan orang baru di dalam Doa. Dalam buku ‘The Ascent of Mount Carmel’,  nyatanya St Yohanes dari Salib mengatakan, bahwa Malam Gelap ini mulai, kalau Tuhan mulai membimbing jiwa mereka. Alasan lain yang dikemukakan oleh St Yohanes dari Salib, ialah bahwa Allah membutakan terang mata kita. Seperti matahari membutakan mata kalau kita memandangnya, demikian manusia tak akan dapat melihat sesuatupun di Hadapan Tuhan. Allah tidak dapat dikenal dengan indera, bahkan tidak dengan kemampuan budi secara cukup. Allah dikenal hanya karena iman, yang dianugerahkan kepada kita. Ia hanya dapat dikejar karena iman dan pengharapan dan hanya dapat dicintai semestinya Berkat Roh Kudus, yang dicurahkan ke dalam hati kita. Karena alasan ini, St Yohanes dari Salib, menyebut gejala ini suatu malam untuk indra. Kalau dikatakan bahwa indera mati di hadapan Allah berkat penyangkalan diri serta bantuan Allah berupa kekenduran, itu tidak berarti bahwa egoisme mati pula. Seandainya itu benar, maka selesailah sudah tugas manusia, ia menyediakan bagi Allah tempat yang sungguh siap menerima Nya. Tetapi apa yang dulu dikatakan tentang egoisme, berlaku disini juga. Kalau orang mulai menyangkal diri di dalam hal-hal yang perlu (tidak akan berdosa berat dan sebagainya), maka egoisme mudah muncul di dalam hal-hal rohani: berdoa karena senang, memberi derma karena merasa puas. Karena itu perlu penyangkalan diri diperdalam sehingga orang tidak mencari rasa puas atau rasa manapun dalam hal rohani itu. Lalu egoisme akan mencari jalan lain, lebih halus, tetapi juga lebih licin; ia akan menyembunyikan diri di dalam kesempurnaan yang dicita-citakan. Pelanggaran-pelanggaran yang disebabkan oleh meluapnya nafsu inderawi, tentu buruk karena tidak diatur semestinya. Tetapi pelanggaran itu lebih disebabkan karena kelemahan daripada oleh kejahatan egoisme. Makin rohani seseorang, makin buruk egoismenya. Sekali lagi, egoismenya akan nampak secara halus. Tetapi bentuk halus ini yang amat membahayakan. Namun egoisme disitu tak lain ialah kesombongan. Orang mulai menganggap dirinya lebih baik daripada yang lain. Dan kita mengetahui bagaimana Sikap Yesus terhadap kesombongan. Ia mudah mengampuni wanita tunasusila, pemungut cukai dan penjahat yang bertobat di salib; tetapi kemunafikan kaum imam dan Farisi selalu dikecam Nya. Kesombongan ini sukar diobati, karena orang itu merasa dirinya amat sehat dan baik. Dan ada bahaya bahwa egoisme akan muncul dalam bentuk ini. Amat besar matiraganya, tetapi amat besar pula kesombongan: ia menganggap dirinya lebih baik. Bagian ini mencakup upaya kita menghadapi diri pribadi dan karena kita ingin menjadi pusat kehidupan kita, maka kita perlu terbuka terhadap perubahan. Ini bukan sebuah masalah tentang kemauan, melainkan kesediaan untuk mengenal apa yang harus diubah, sehingga kita bisa berkembang sebagai pribadi. Kita perlu bersedia untuk mengakui cara dan keinginan dari hati kita. Cara dan keinginan ini mencakup semua kegiatan yang kita lakukan; mulai dari kekuatan sampai kemalasan; atau penyalahgunaan seksualitas. Satu aspek lain dari menghadapi diri pribadi adalah mengenali perasaan marah, iri hati ataupun perasaan apapun lainnya yang menyelinap dalam diri kita, seperti bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan kita. Menghadapi perasaan dan melakukan tindakan yang tepat merupakan cara positif menuju perubahan dan perkembangan sebagai pribadi. Malam indra yang aktif juga mencakup kejujuran dalam menjalin hubungan. Hubungan yang positif adalah baik, namun seringkali kita bisa menjadi posesif atau destruktif dalam memperlakukan orang lain. Penghormatan yang tulus atas martabat manusia tidak dimanfaatkan tetapi dilecehkan. Hubungan yang negatif terjadi bilamana orang diidolakan sehingga mereka merasa terjebak. Orang yang memuja-muja orang lain menunjukkan ketidakdewasaannya, karena hubungan semacam ini akan meniadakan kedua belah pihak. Jika seseorang bersedia bersikap realistis dan berkembang, maka ia perlu menerima sisi lain dari manusia. Sepanjang hidup, kita menyembunyikan aspek-aspek realitas karena kita diharuskan diam ataupun karena superego kita terkondisikan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu. Seringkali hal ini dilakukan untuk menyenangkan orang lain, untuk dibenarkan dan untuk dilihat sebagai sesuatu yang baik. Kita menjalankannya, melaksanakan tugas kita namun tidak pernah merasa nyaman dan lega.

    Pemurnian Indra-Indra


    Pemurnian Malam Gelap Indra, dilakukan dengan cara menolak segala kenikmatan indrawi, kenikmatan melihat, mendengar, mencium dan menyentuh. “Tolaklah semua kepuasan indrawi yang tidak dimaksudkan melulu untuk menghormati serta meluhurkan Allah, dan tetaplah tidak memilikinya”. Dengan demikian, melalui pemurnian ini, indra-indra dikosongkan dan dibiarkan hidup gersang. Tidak mengherankan, hilangnya kenikmatan indrawi ini berakibat pada kehidupan tak sadar yang kadangkala muncul dan memberontak. Ia menulis: “ia (iblis) kerapkali memberikan gambaran-gambaran santo/santa dan cahaya-cahaya paling indah kepada indera penglihatan, memberikan kata-kata kacau kepada indra pendengaran, dan memberikan wewangian kepada indra penciuman; ia memasukkan berbagai benda manis di mulut seseorang, dan memberikan kesukaan kepada indra peraba. Ini ia lakukan sedemikian sehingga dengan mempesona orang lewat barang-barang indrawi, ia dapat memerosokkan ke dalam berbagai kejahatan.” Allah ingin agar semua yang berniat Satu DenganNya, bersedia untuk maju terus. St Yohanes dari Salib berkata, bahwa orang yang telah terbiasa dengan kenikmatan rohani, sukacita dan penghiburan akan dihantar oleh Allah ke tahap pemurnian. Pada tahap ini, seseorang harus menanggalkan hal-hal indrawi yang membuatnya nikmat. Jika ia telah menanggalkan hal-hal indrawi, ia akan mengalami kekeringan dan penderitaan. Ia tidak dapat menikmati indahnya sebuah Doa. Malam ini, memurnikan dan mengosongkan indra. Kehidupan menjadi amat pahit dan mengejutkan indra itu sendiri. Pemurnian ini, biasanya untuk para pemula (yang mulai berniat untuk membangun hidupnya lebih baik; mulai lebih berdisiplin). Ini adalah hal biasa dan banyak orang mencapai tahap ini.

    a. Lamanya Pemurnian Indra


    Pada pokok ini, akan diuraikan rentang waktu seseorang yang masuk dalam tahap Pemurnian Malam Indra. Ada tiga kelompok orang yang akan mengalami Pemurnian ini sesuai dengan kemampuanya masing-masing. Alasan St Yohanes dari Salib membagi kelompok ini, karena pada kodratnya manusia diciptakan berbeda satu dengan yang lain; baik pada aspek jasmani maupun aspek rohani.
    Pada aspek rohani, St Yohanes dari Salib menyebutnya sebagai orang yang kuat, lemah dan amat lemah. Mereka yang lebih berbakat/kuat, Pemurnian akan dialami lebih cepat dan hebat. Mereka yang lemah, Allah menghantarnya cukup lama dan dengan penuh perhatian disertai percobaan-percobaan ringan memasuki malam ini. Ada waktu-waktu mereka mengalami hiburan, supaya mereka tidak mundur kembali. Karena kelemahan kodratinya, mereka mulai mengingat dosa-dosanya dan merasa lemah kembali, tetapi Allah menopangnya untuk tidak jatuh. Ini adalah suatu kewajaran. Sedangkan untuk jiwa-jiwa yang nampak sangat lemah, Allah memperlakukan mereka seperti seorang bayi. Mereka sangat merindukan belaian Kasih Allah. Mereka yang kecanduan (seks, obat-obatan terlarang, praktek-praktek imoral lainnya), secara halus sadar akan kesalahan-kesalahannya. Mereka mulai lagi untuk belajar merenung diri, mencintai diri, mencintai orang-orang di sekitarnya. Allah akan membimbingnya terus-menerus hingga ia menemukan suatu pegangan hidup. Disini perlu adanya niat yang kuat dari si penderita. “Tanpa jalan putar seperti ini, mereka tidak akan pernah belajar mendekati Allah”. Orang dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam Pengalaman Malam Indra. Disini orang dilatih untuk tetap berharap dengan setia.

    b. Kesengsaraan Pada Malam Pemurnian Indra


    Pada mereka yang kelak akan memasuki malam roh yang lebih keras, percobaan-percobaan, godaan-godaan, nafsu-nafsu  akan menyertainya. Pada tahap ini, setan roh percabulan mengganggu indra dengan godaan-godaan besar dan menyiksa jiwa dengan bayangan dan kayalan yang kadang-kadang lebih ngeri dari pada maut. Kesempatan lain, ditambah lagi roh penghujat, yang memainkan pikiran dan pandangan dengan hujatan-hujatan yang begitu kuat dan jelas, sehingga jiwa menjadi mangsanya. Ini merupakan siksaan besar. Mereka diserang roh najis, roh pemusing, yang membuatnya jadi gelap, sehingga jiwa dipenuhi ketakutan, yang tiada bandingnya, dibebani dengan kegelapan hati dan dengan demikian mengacaukan pikiran. Mereka tidak pernah puas dengan diri sendiri dan tidak dapat menundukkan budi kepada nasehat atau anjuran. Badai dan kegersangan ini biasanya dikirim Allah dalam Malam Indrawi kepada mereka yang kelak harus mengalami pemurnian ini. Dengan demikian, mereka terus ditempa untuk menang, melatih indra dan daya-daya jiwa-jiwa, menyiapkan dan memurnikan untuk bersatu dengan sang Kebijaksanaan yang terjadi di dalamnya. Kalau jiwa belum terlatih dan diuji lewat godaan maka daya-daya jiwa tidak dapat mencapai Kebijaksanaan. Derita ini dimaksudkan untuk memasuki malam roh kelak.

    2. Malam Gelap Jiwa


    Buku II dari ‘The Ascent of Mount Carmel’ berbicara tentang malam yang pasif bagi jiwa. Malam gelap ini adalah karya Tuhan yang merasuk jiwa seseorang (una influencia de Dios en el alma). Jiwa mengacu pada substansi imaterial yang selalu tetap ada di tengah-tengah perubahan kehidupan, yang menghasilkan dan mendukung kegiatan-kegiatan psikis dan yang menghidupkan organisme. ‘Malam Gelap bagi jiwa’ lebih penting dan ini amat sedikit orang saja yang mengalami, yaitu mereka yang sudah berpengalaman dan mencapai kemajuan. ‘Malam Aktif Jiwa’ merupakan suatu lingkup dimana kita terlibat dalam menentukan pilihan yang membuka diri kita terhadap Persatuan Dengan Tuhan. St Yohanes dari Salib sadar, bahwa manusia lebih bisa berhubungan dengan konsep atau Gambaran Tuhan, daripada dengan PribadiNya. Dia meminta mereka yang telah bertobat, yang telah ditarik oleh Tuhan, untuk semakin memperdalam dan mematangkan iman mereka. Malam Jiwa yang pasif juga dijelaskan dalam Bab IV Buku II. Disini, sebuah cara baru dalam ‘mencintai’ dan ‘memahami’, tercapai. Intelektualitas manusia, yang telah diMurnikan Oleh Tuhan, tidak lagi bertindak atas kesadarannya sendiri, tetapi berdasarkan Kebijakan Ilahi. Tindakan mencintai, yang menurut St Yohanes dari Salib berakar pada kemauan, sekarang berasal dari Tindakan Roh Kudus. Disini Allah mulai masuk ke dalam jiwa. Maksudnya adalah Komunikasi Allah yang terjadi secara langsung, di teras diri orang itu. Yang Ilahi bertemu dengan yang serba manusiawi tanpa adanya perantara. Allah yang bersemayam diam-diam di lubuk diri orang yang tersembunyi tampaknya bangkit atau muncul. Dalam Kontemplasi demikian, yang menurut St Yohanes dari Salib, ‘Allah mengajar jiwa amat tenang dan secara diam-diam dan dalam kegelapan’.

    Pemurnian  Pada Malam Pasif Roh


    Di dalam jiwa manusia, Roh Allah bersemayam. ‘Malam Pasif Jiwa’ mungkin kelihatan menakutkan, dan kita percaya, bahwa kita perlu melihat akhir yang ingin dicapai. Disebut sebagai ‘Pemurnian Pasif Roh’, karena Pemurnian ini merupakan Anugerah Tuhan yang indah dan berada di luar konsep manusiawi kita. Oleh karena itu, tahap Perkembangan Pribadi ini, merupakan suatu Anugerah, seperti halnya segala sesuatu yang berhubungan dengan iman. Ini merupakan saat Kerinduan Akan Tuhan, yang dipenuhi dengan kehampaan serta mengingatkan kita pada bait-bait Kitab Mazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah." (Mzm 42:1) Malam pasif mempengaruhi keseluruhan pribadi manusia dan St Yohanes dari Salib meminta agar kita percaya pada apa yang tengah terjadi sehingga Tuhan bisa menjadi Tuhan bagi kita. Jalan menuju malam tersebut adalah ketika Doa menjadi kegiatan yang tidak mungkin dilakukan. Terasa bahwa Tuhan telah menjauhi kita dan rasa nyeri karena kehilangan Sang Kekasih, hampir tidak bisa ditahan. Kedamaian dan kebahagiaan digantikan oleh perasaan tertekan dan kehilangan harga diri. Seperti dalam keadaan kehilangan yang manapun, kita dapat merasa kebingungan dan bertanya-tanya tentang kesalahan yang tidak kita sadari. Ini adalah saat ketika kita sedang diminta untuk berbagi dengan Kristus dalam kematian dimana kita akan menerima Panggilan Tuhan tanpa syarat. Dalam kegelapan ada sebuah Cahaya, namun demikian kita tidak mampu meraba apa yang ada di balik pemahaman kita. Seperti St Paulus, orang yang mengalami Pemurnian ini berseru: “Sekarang aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus Yang Hidup di dalam aku”. Yohanes mengubah kematian dan ketakutannya menjadi sebuah Tempat Kehidupan iman. Dia mengingatkan kita, tentang tema dari Injil St Yohanes, bahwa percaya dalam Kristus berarti memiliki Kehidupan Abadi. Kepercayaan ini bagi Yohanes bersifat radikal dan konsekuensinya adalah merasakan indahnya kesempurnaan hidup.

    Lamanya Pemurnian Roh


    Malam Pasif bagi jiwa merupakan Pemurnian akhir, yang mengarah pada Pengalaman Mistis yang mendalam. Proses ini membutuhkan kesabaran dan berlangsung dengan lambat (bisa bertahun-tahun). Individu merasa tak berdaya, hancur dan segala sesuatu nampak gelap, seakan-akan Tuhan telah mengabaikannya.
    “Siksaan dan derita yang kemudian ia timbulkan besar sekali dan kadang kala tak terperikan besarnya. Karena masalahnya murni dari roh ke roh, kengerian yang ditimbulkan oleh roh jahat pada roh baik (dalam jiwa) jika mencapai bagian roh sungguh tak terderitakan”. Yang dilakukan orang pada tahap ini adalah bersabar dan menanti Allah  dengan setia. Orang tidak dapat menjalankan Doa lisan; orang bahkan tidak dapat memohon perTolongan Kepada Allah. Orang hanya dapat berharap dan mengandalkan KesetiaanNya:
    “Memang, saat ini bukanlah saatnya berbicara dengan Allah, tetapi saatnya merendahkan diri, seperti yang dikatakan oleh Nabi Yeremia, bahkan mungkin masih akan datang Harapan Yang sesungguhnya (Rat 3:29) dan saat mengalami pembersihan dengan sabar. Allah lah Yang Bekerja di dalam jiwa, dan oleh karenanya, jiwa tidak dapat berbuat apa-apa. Maka dari itu, orang tidak dapat berdoa secara lisan, tidak dapat memperhatikan hal-hal rohani, dan tidak dapat memperhatikan urusan serta segala macam yang duniawi.”
    St Yohanes dari Salib, tidak berbicara banyak mengenai Pemurnian pasif roh ini, sebab di tengah-tengah kesengsaraan yang membahagiakan ini, jiwa merasa dirinya dilukai besar sekali karena cinta. Ia menyadari dan melihat Pancaran Ilahi, namun ia tak mengerti, sebab Allah mencurahkan CintaNya atas cara tertentu, dan jiwa lebih besar menderita karenanya, sehingga timbullah dalam dirinya kegairahan cinta yang hebat. Sentuhan Cinta ini, mengerikan roh, dan menyalakan kecenderungan untuk memuaskan jiwa. Jiwa menjadi semakin haus dan mencari sumber air, seperti seruan Raja Daud: “Jiwaku haus akan Dikau, ragaku merindukan Dikau”.

    Perbedaan Antara Pemurnian Indra dan Pemurnian Roh


    Malam indra merupakan malam pendahuluan dan hanya malam dalam arti kias. Pemurnian ‘indra’, demikian tulis St Yohanes dari Salib, hanyalah gerbang dan awal dari Kontemplasi yang mengantarkan orang Ke Pemurnian roh, dan ini lebih bermanfaat untuk menampung indra Ke Roh, daripada untuk Persatuan roh dengan Allah. Perbedaan antara Dua Malam ini, mirip perbedaan antara mencabut akar, dan memangkas dahan, atau menggosok noda yang masih baru, dan megusap-usap noda lama yang sudah meresap sampai serat-serat kain. Memang, Pemurnian Indra yang sampai mendalam, hanya dicapai dalam Malam roh, dimana indra dan roh bersama-sama dimurnikan dan disembuhkan dalam persiapan menyambut Pernikahan Rohani. Ketika sampai pada tahap ini St Yohanes menjelaskan:
    “Malam Gelap ini adalah masuknya Allah ke dalam jiwa yang membersihkan jiwa dari ketiadaan dan ketidaksempurnaanya yang biasa ada, baik di ranah kodrati maupun di ranah adikodrati. Masuknya Allah tadi disebut oleh mereka yang berKontemplasi sebagai Kontemplasi Curahan atau Teologi Mistik. Melalui Kontemplasi ini, Allah mengajar jiwa secara diam-diam dan mengajarkan Kesempurnaan Cinta, tanpa jiwa melakukan apa-apa ataupun memahami bagaimana terjadinya.”

    Yang Berhubungan Dengan Kebajikan-Kebajikan Teologis


    St Yohanes dari Salib, juga berbicara tentang kebajikan-kebajikan teologal yakni iman, harap dan kasih. Dalam perjalanan menuju Persatuan Dengan Tuhan dibutuhkan iman, cinta dan pengharapan yang teguh.

    3. Malam Gelap Iman


    Dengan beriman, kita mengambil bagian dalam Misteri Kristus, yang hadir dalam Gereja, demi Keselamatan seluruh umat manusia. Dengan percaya dan Dibaptis, kita bertemu Dengan Kristus sendiri dan menjadi anggota TubuhNya. Sakramen Baptisan iman ini, membuat kita diKubur Bersama Kristus, lalu turut diBangkitkan juga Dengan Dia, karena kepercayaan kepada Kerja Kuasa Allah (Kol 2:12).

    Gagasan Iman dalam Kitab Suci


    Untuk mencari tahu arti dan peran iman dalam Kitab Suci, kita tidak bertolak dari kata dan istilah tertentu, yang dalam bahasa modern diterjemahkan dengan kata iman, tetapi dari pertanyaan bagaimana Kitab Suci mengerti sikap dasar manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.

    @ Dalam Perjanjian Lama


    Suatu kata dalam Perjanjian lama yang memainkan peran penting untuk mengerti sikap manusia terhadap Allah  itu kata ‘aman’. Kata itu tidak mempunyai arti dan isi tertentu, melainkan merupakan suatu istilah formal yang menyatakan bahwa suatu subyek dalam realita sungguh sesuai dengan ciri-ciri khas yang seharusnya ada pada dia. Suatu tempat yang cocok untuk memasang kemah disitu, bersifat ‘aman untuk maksud itu, suatu keluarga raja yang tetap ada keturunan untuk memegang pemerintahan bersifat ‘aman (1 Sam 25:28), begitu juga sumur yang airnya tidak akan habis (Yes 33:16). Kalau kata ‘aman’ (dalam bentuk hifil he’emin) dipakai untuk manusia, maka itu berarti manusia melihat dan mengakui Sikap Allah Yang Setia, yang dapat diandalkan dalam hubungan yang sudah ditetapkanNya dengan manusia. Bisa dikatakan bahwa iman dalam Perjanjian Lama dengan jelas merupakan suatu sikap eksistensial yang menyangkut seluruh pribadi dan bukan merupakan suatu persetujuan akal budi manusia pada Kebenaran-Kebenaran yang disampaikan kepadanya. Kebenaran yang dijawab iman dalam pengertian Perjanjian Lama ialah Allah Sendiri Dalam ke-IlahianNya, sebagai Dasar yang dapat diandalkan dan manusia menjawab dengan men-Dasarkan diri seutuhnya pada Dasar itu, tanpa mencari dasar lain.

    @ Dalam Perjanjian Baru


    Dalam Perjanjian Baru, kata “Pisteuein”: percaya, seringkali berarti percaya kepada Allah, mengakui Sabda Allah. Iman diarahkan kepada apa yang ditulis di dalam Torah dan buku Para Nabi (Kis 24:14; Luk 24:25), begitu juga orang mengimani kata-kata Yesus (menurut Injil Yohanes) karena ia diutus Allah dan mengungkapkan kata-kata Allah (Yoh 5:38, 3:34). Mengimani kata-kata atau tulisan itu tidak berarti hanya mendengar saja, dan tidak mengemukakan keberatan terhadapnya, tetapi mempunyai arti eksistensial. Mengimani perkataan itu berarti menaatinya secara eksistensial dan sungguh-sungguh hidup menurutnya, sebagaimana jelas dalam surat kepada umat Ibrani bab 11. Paulus juga menekankan sifat ketaatan dalam iman.
    Menurut St Paulus, iman kristiani memiliki isi yang jelas, merupakan kepercayaan akan peristiwa sejarah, yakni Tindakan-Tindakan Penyelamatan  Allah yang dikerjakan lewat Hidup, Sengsara dan Kematian Yesus dari Nazaret. Isi yang konkret itu harus dipertahankan dan dipegang dengan teguh, tidak boleh diubah, karena Isi Itu-lah yang menjadi Jaminan dan Dasar Keselamatan bagi manusia.

    Gagasan Iman dalam Dokumen Gereja


    Kepada Allah yang menyampaikan Wahyu, manusia wajib menyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya Kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya Kepada Allah yang me-Wahyukan dan secara sukarela menerima sebagai Wahyu Kebenaran yang diKaruniakan Oleh Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan Rahmat Allah yang mendahului serta menolong, juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya Kepada Allah.

    Gagasan Iman Pemikiran St. Yohanes dari Salib


    Dalam perkembangannya, rasa akan Hadirat Allah, mungkin digantikan dengan rasa akan tidak Hadir Allah. Apabila orang tadinya mengalami sukacita dan penghiburan, sekarang orang mungkin mengalami kegelapan dan beban yang menekan. Apabila tadi orang sadar akan Hadir Allah, sekarang orang mungkin tidak menyadari apa-apa. Dan ini adalah iman murni, iman gelap, seperti yang dikatakan oleh Yesus: “Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya” (Yoh 20:29). Itulah sebabnya, St Yohanes dari Salib, menggunakan paradoks menyebut iman sebagai Penglihatan Allah yang gelap.
    Iman ini adalah Cahaya Kuat, sedemikian Cerah sehingga membutakan jiwa, menceburkan jiwa ke dalam kegelapgulitaan dan menyakitkan, sebagaimana Cahaya Itu pun menceburkan Paulus ke dalam kegelapan di jalan menuju Damsyik. Cahaya itu adalah kebijaksanaan paling luhur, namun tampaknya mirip kegelapan karena sebagaimana St Yohanes dari Salib, ‘cahaya iman dalam kelimpahannya menenggelamkan akal budi’. Dari sini muncullah kata-kata Para Mistikus, mengenai ketidaktahuan, kegelapan dan kosong. Maka mereka lantas mendesakkan pendirian, bahwa tidak tahu adalah tahu, bahwa kegelapan adalah Cahaya dan kosong adalah Kepenuhan. Tidak pernah orang dapat mempunyai konsep jelas pilah mengenai Allah, karena Allah merupakan Misteri segala misteri. St Yohanes dari Salib, memberi sebuah contoh jelas sebagai berikut:
    “Jika seorang diberitahu bahwa di suatu pulau ada seekor binatang yang jenis atau macamnya belum pernah kita lihat, orang itu tidak akan mempunyai gagasan atau gambaran lagi mengenai binatang itu di dalam pikirannya selain gagasan yang sebelumnya ia miliki, betapa banyak pun kisah yang diceritakan kepadanya.” Demikianlah iman merupakan Cahaya yang kuat, yang tidak memberikan gagasan ataupun gambaran. Orang tahu dengan tidak mengetahui. Maksudnya, orang meninggalkan pengetahuan jelas yang biasa dia miliki dan memeluk Pengetahuan Gelap yang lebih unggul.
    Iman, adalah Tempat Allah tersembunyi, me-Wahyukan Diri, serta me-Nyelamatkan manusia. Dalam bukunya “Mendaki Gunung Karmel”, St Yohanes dari Salib, mempergunakan suatu perumpamaan untuk menjelaskan hal ini. Iman yang dimaksudkannya adalah seperti yang ada dalam Syahadat Para Rasul. Dengan bahasa manusia kita mengungkapkan Kenyataan Allah yang tersembunyi. Allah mau memperkenalkan diri kepada kita. Untuk itu Dia menggunakan bahasa manusia juga. St Yohanes berkata, bahwa dengan cara Yang demikian, Allah Hadir di dalam rumusan iman. Ia Hadir disitu, tetapi secara tersembunyi. Allah bukan rumusan itu.
    Pada bab yang sama, kita temukan hubungan pada obyek iman. Kunci penafsiran St Yohanes terdapat dalam Kitab Suci. Allah berbicara kepada kita secara sempurna ketika Dia berbicara melalui Kristus, Sang Sabda. Segala sesuatu yang Ia bicarakan sebelum Kristus, hanyalah lewat SabdaNya, Penglihatan (vision), dan Pewahyuan sementara. Kadangkala Dia meWahyukan DiriNya lewat banyak Cara, Tipe dan Figur. Di dalam Kristus-lah, kita temukan segala sesuatu yang dahulu belum sempurna, sekarang nampak Sempurna. Kristus adalah Pribadi, Subyek Aktif dari revelasi, sebelum segala objek pasif dari pencarian kita. Dialah yang pertama men-Cinta dan menjadi Sahabat kita. Disini iman kita bertumbuh Menuju Kristus. Jika iman Adalah Kristus, dan Dia Adalah Jawaban dari segala kerinduan dan permohonan manusia Perjanjian Lama, maka di Dalam Nya, kita ditarik oleh Nya, untuk memperoleh segala Yang Baik. Tetapi Kristus, yang telah Bangkit, tidak kita pandang dengan mata jasmani kita. Hal inilah yang menjadikan kita sebagai orang yang percaya  atau subyek dari iman. Aspek yang sangat ditekankan oleh St Yohanes dari Salib dalam membicarakan subyek dari iman adalah ‘kegelapan’. Latar belakang pemikirannya mengenai kegelapan adalah pengalaman Kontemplasinya, yang juga disebutnya iman. Iman adalah Malam Gelap bagi seorang  dalam ber-Kontemplasi.
    Iman disebutnya sebagai Malam Gelap, karena kandungannya Adalah Kristus, Sang Terang, menerangi seperti matahari yang membutakan mata. Dalam kata-kata St Yohanes dari Salib “sungguh gelap suatu terang dan mereka yang melihat terang yang sedang bersinar”. Pada tahap ini orang mulai diam dan dipenuhi Hadirat Allah (silentium mysticum), yang juga disebut sebagai Kontemplasi Curahan, karena saat itu adalah Saat-Nya Allah masuk ke dalam jiwa. Sekarang orang tidak lagi berpikir (dan yang ber-Kontemplasi memang tidak dapat berpikir, serta demikian sulit sekali berpikir), tetapi tetap dalam awan tanpa pengetahuan, ‘tidak berbuat apa-apa’. ‘Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya’ (Yoh 20:29).

    Harapan


    Harapan adalah Kebajikan Ilahi, yang Oleh Nya kita rindukan Kerajaan Surga dan Kehidupan Abadi, sebagai Kebahagiaan kita, dengan berharap kepada Janji-Janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan Karya Roh Kudus. “Marilah kita berpegang teguh kepada pengakuan tentang harapan kita, dengan berharap kepada pengakuan tentang harapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Allah telah melimpahkan Roh Kudus kepada kita melalui Yesus Kristus, Juru Selamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh Kasih KaruniaNya, berhak menerima Kehidupan Abadi, sesuai dengan Pengharapan kita” (Tit 3:6-7).
    Bila kita mengharapkan sesuatu, kita kuat menahan kesukaran juga. Mengharapkan sesuatu membuat kita kuat untuk memikul apa yang biasanya terasa berat, tetapi yang perlu untuk mencapai apa yang kita harapkan. Sungguh benar, bahwa Pengharapan meringankan dan meriangkan beban hidup manusia. St Yohanes dari Salib mengatakan, bahwa makin lebih jiwa mengharap Dari Allah, makin banyak ia menerima. Harapan akan bertambah apabila kita mau melepaskan diri dari hal-hal yang bukan Allah. Untuk dapat merealisasikan pengharapan yang sejati Kepada Allah, jiwa harus mengalami Malam Gelap Ingatan. Ia harus mempunyai kemauan untuk melepaskan pengalaman-pengalaman dan ingatan-ingatan masa lalu. Kalau jiwa telah melupakan segala, maka tidak ada sesuatupun yang dapat mengganggu damainya atau yang membangkitkan nafsunya. Jiwa juga dituntun untuk tidak cemas akan segala sesuatu yang akan datang, sebab yang dibutuhkan adalah berharap. “Berusahalah untuk tidak mengeluh tentang kemalangan dalam dunia, sebab engkau tidak tahu Pandangan Allah, ada keuntungan di dalamNya bagi para pilihanNya untuk Kebahagiaan Kekal.” Kepercayaan yang penuh cinta akan Allah, sebagai Pemberi Hidup, membangkitkan Harapan, bahwa Kematian bukan kata akhir dalam Dialog Cinta antara Allah dengan manusia, melainkan hanya merupakan Satu Pintu yang melaluiNya manusia memasuki suatu fase baru dari Kehidupannya: ”Bagi orang beriman, hidup hanyalah di-Ubah, bukannya dilenyapkan”. Dalam Kitab Suci, harapan akan Hidup Abadi, bertolak dari gambaran mengenai Allah dan karena itu bersifat dialogal. Kita yakin dan percaya, bahwa Allah adalah Allah Orang Hidup (Luk 20:38) dan Allah itu memanggil manusia ciptaanNya dengan namanya masing-masing; karena itu ciptaan yang dikasihi Allah, akan dipanggil ke dalam Hidup Baru.
    Dalam kisah hidupnya, manusia sering mengalami Keraguan (Malam Gelap) dalam berpengharapan. Ia merasa lelah, bosan, jenuh dengan situasi hidup karena kelemahan kodratinya. Menurut St Yohanes dari Salib, pengalaman seperti inilah yang  melahirkan makna sejati dari Pengharapan. Ia tetap menyisakan ruang kabur, awan hitam untuk tetap ditembus.

    4. Malam Gelap Cinta


    Cinta atau Kasih, adalah Kebajikan Ilahi, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi DiriNya sendiri dan karena kasih Kepada Allah, kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Sebagai Buah Roh dan penyempurnaan Hukum, Kasih mematuhi Perintah-Perintah Allah dan Kristus. “Tinggallah di dalam KasihKu! Jikalau kamu menuruti PerintahKu, kamu akan tinggal dalam KasihKu” (Yoh 15:9-10).
    Kontemplasi, adalah Pengetahuan Cinta yang menerangi, sekaligus mengubah tingkah laku seseorang, serta membuatnya naik dari anak tangga yang satu kepada anak tangga yang lain menuju Allah Pencipta, sebab hanya cinta yang mengikat dan menyatukan jiwa Dengan Allah. karena Tangga Cinta ini amat rahasia, Allah saja yang dapat meng-ukur nya, sehingga tak ada alat kodrati untuk belajar mengenalinya. Untuk memperjelasnya, berikut adalah penjelasan singkat mengenai gejala dan tanda dari setiap anak tangga, sehingga jiwa dapat meneliti berapa jauh ia maju.

    Anak Tangga pertama:


    Jiwa Merasa Murung - Kering

    (languere utiliter)


    Anak tangga cinta yang pertama ini membuat jiwa sakit rindu memuliakan Allah, sebab disini jiwa mati terhadap dosa dan segala sesuatu yang bukan Allah, dan hanya demi cinta pada Nya. Sama seperti orang sakit kehilangan nafsu makan terhadap segala makanan dan roman mukanya berubah, demikian pula pada anak tangga ini  jiwa kehilangan rasa suka dan kecenderungan terhadap segala sesuatu dan berubah warna, seperti seorang kekasih. Oleh karena sakit ini, jiwa seperti disengat panah asmara yang disebut Demam Mistik. Kesakitan dan ketakberdayaan ini merupakan awal dari anak tangga yang pertama untuk datang Kepada Allah, ia tak menemukan sandaran dimanapun, tak ada rasa nikmat, hiburan ataupun ketenangan.

    Anak Tangga kedua:


    Jiwa Mulai Berhasrat

    (quaerere indesimeter)


    Anak tangga kedua membuat jiwa tak hentinya mencari Allah, itulah yang dikatakan mempelai dalam Kidung Agung yang mencarinya malam hari di peraduannya (dalam keadaan yang pingsan dari cinta pertama) dan tidak menemukan Nya, lalu ia menambah: “Tidakkah kamu melihat Dia, jantung hatiku?” (Kid 3:3).
    Pada anak tangga ini, jiwa gelisah sehingga dia mencari Kekasihnya; segala yang dikatakan dan dibuatnya selalu berkenaan Dengan Dia, oleh sebab disini jiwa jadi sembuh dan kuat, maka ia segera menaiki anak tangga ketiga lewat Pemurnian Baru.

    Anak Tangga ketiga:


    Jiwa Mulai Bergiat

    (operasi indensimeter)


    Anak tangga cinta ketiga ini membuat jiwa bergiat dan membuatnya rajin agar tidak melakukan kesalahan. Pada anak tangga ini, ia menganggap kecil saja hal-hal besar yang ia lakukan untuk Kekasihnya. Betapa banyak waktu yang ia gunakan untuk mengabdi-Nya dianggap terlalu singkat, disebabkan oleh nyala cinta yang membara di Dalam CintaNya.
    Begitu halnya Yakob yang tidak menghitung dua kali tujuh tahun kerjanya pada Laban disebabkan cintanya pada Rachel (Kej 29:28). Kalau cinta kepada makhluk menyanggupkan Yakob berbuat sedemikian banyak, apalagi cinta Kepada Bapa Pencipta, Yang telah menguasai jiwa pada anak tangga ini.
    Karena cinta yang bernyala-nyala Kepada Allah, jiwa menganggap remeh dan menanggung segala kesulitan besar dan penderitaan. Karena itu, dalam segala yang ia lakukan, ia menganggap dirinya hamba yang tak berguna dan hidupnya hampa. Ia mengakui, bahwa segala pekerjaan yang dibuatnya Untuk Allah amat tak sempurna dan cacat. Ini semua menimbulkan rasa malu dan dia menderita, sebab ia menyadari bahwa karyanya tak bernilai apa-apa untuk Tuhan Yang Maha Agung.
    Pada anak tangga ini, jiwa jauh dari puas diri dan kecongkakan; dan ia tidak lagi mengadili orang lain. Usaha yang tak kenal lelah dan lain-lainnya dari anak tangga ketiga ini memberi keberanian dan kekuatan menaiki anak tangga keempat.

    Anak Tangga keempat:


    Jiwa Yang Tak Lelah Untuk Berharap

    (infatigabiliter sustinere)


    Pada anak tangga cinta keempat ini, jiwa didorong terus menerus tanpa lelah menderita untuk Sang Kekasih. Sebagaimana dikatakan St Agustinus: ‘cinta membuat beban yang paling berat menjadi ringan’. Roh memiliki begitu banyak kekuatan, sehingga daging tunduk, dan roh tak mempedulikannya sama seperti pohon terhadap daun-daunnya.
    Di sini jiwa tidak mencari hiburan atau penyegaran, baik Pada Allah, maupun pada sesuatu yang lain. Dia juga tidak meminta Anugerah Oleh Allah demi kepentingan sendiri, atau supaya mendapat kepuasan di Dalam Nya. Segenap usahanya diarahkan kepada menyenangkan Allah dan mengabdi-Nya, sedemikian sebagaimana pantas bagi Nya, sebagai tanda syukur atas segala yang telah diperoleh dari Nya.
    Anak tangga ini amat luhur, sebab jiwa terus mengikuti Allah, dengan cinta sejati dan kerinduan menderita bagi Nya, maka Sri Baginda sering atau biasanya memberinya Penyegaran. Kalau Dia mengunjungi jiwa dalam Roh, maka jiwa merasa sukacita dan nikmat, sebab di Dalam CintaNya yang tak berhingga, Ia rela menderita.

    Anak Tangga kelima:


    Jiwa Berniat Untuk Menderita

    (appetere impatenes)


    Anak tangga cinta kelima membuat jiwa tak sabar merindu dan berjuang menuju Allah. Pada anak tangga ini, ia begitu rindu memiliki Kekasihnya dan Menyatu Dengan Nya, sehingga setiap penundaan yang terkecilpun dirasa lama, menyusahkan dan berat. Seperti kata Pemazmur: “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan” (Mzm. 83:3). ‘Sewaktu mencari Kekasihnya, si mempelai berseru ketakutan meneriaki hutan-hutan, semak belukar, dan padang para gembala nan hijau, bertanya di manakah gerangan Dia yang ia cintai. Dan makhluk-makhluk menjawab bahwa ia melewati padang belukar itu dengan tergesa-gesa’.
    Pada anak tangga ini, jiwa harus memperoleh yang ia rindukan atau mati, sama seperti Rachel, yang karena merindukan anak berkata kepada Yakob suaminya: “Berikanlah kepadaku anak, kalau tidak aku akan mati” (Kej 30:1). Disini jiwa memberi makan dirinya dengan cinta. Seturut besarnya rasa lapar, demikian juga rasa puasnya.

    Anak Tangga keenam:


    Jiwa Berlari Kencang

    (currere velociter)


    Pada anak tangga ini, jiwa laju menuju Allah. Pada anak tangga ini, harapan meneruskan jalannya tanpa menjadi lelah, ia terbang karena dikuatkan cinta. Meminjam kata-kata Pemazmur: “Seperti rusa merindu akan sumber air, demikian jiwaku merindu Dikau ya Allah.” Sebab rusa yang haus lari kencang dengan tangkasnya menuju sumber air. Cinta jiwa pada anak tangga ini amat tangkas dan cekatan, sebab cinta sudah melapangkan jiwa dan Pemurnian dapat dikatakan sudah selesai.

    Anak Tangga ketujuh:


    Semangat Yang Bernyala-nyala

    (andere vehementer)


    Pada anak tangga cinta ini, jiwa menjadi gagah berani dan hebat. Penuh cinta karena terseret perasaan ini, maka ia tidak lagi membiarkan harapannya dibimbing oleh akal. Ia tidak lagi memerlukan nasihat agar membatasi diri; rasa malu tidak dapat menghambatnya, sebab Anugerah Yang Allah nyatakan pada jiwa, pada anak tangga ini, membuat dia tidak gentar. Musa berbicara mengenai anak tangga ini ketika ia berdoa kepada Allah agar mengampuni umat atau mencoret namanya yang sudah tercantum dalam Buku Kehidupan.
    Jiwa-jiwa ini memperoleh segala-galanya dari Allah, segala yang mereka mohonkan Pada Nya dalam hati yang penuh sukacita. Sebabnya Daud berseru dalam Mazmur 36:4: “Bersukacitalah dalam Tuhan dan Ia akan memberikan padamu segala yang diinginkan hatimu.” Dalam hal ini, penting diperingatkan, bahwa jiwa ini tidak diperkenankan terlalu berani menginginkan agar Kecapi Sang Raja diarahkan kepada nya. Kalau terlalu berani mengharap demikian, maka ia akan jatuh dari anak tangga yang telah dicapainya, sebab orang hanya dapat tetap berada di atas anak tangga tersebut dalam kerendahan hati.

    Anak Tangga kedelapan:


    Jiwa Membeku

    (astringere indissolubiliter)


    Pada anak tangga cinta kedelapan, jiwa dibuat menangkap dan memegang Sang Kekasih tanpa melepaskanNya. Mempelai dalam Kidung Agung mengungkapkan dalam kalimat: "Aku memegangnya dan tidak kulepaskannya pergi” (Kid. 3:4).
    Dalam tahap Persatuan ini, kerinduan jiwa terpenuhi, tetapi tidak menetap, sebab segera kaki menginjak anak tangga ini, pasti dalam hidup sekarang ia sudah menikmati Kemuliaan. Sebab itu hanya berlangsung dalam waktu singkat saja.

    Anak Tangga kesembilan:


    Jiwa Mengalami Kemanisan

    (ardere suaviter)


    Pada anak tangga kesembilan, jiwa bernyala penuh kemanisan. Anak tangga ini untuk mereka yang Sempurna, yang sudah dibakar Oleh Allah dengan Mesra. Sebab nyala yang Mesra dan penuh Kenikmatan dikerjakan Oleh Roh Kudus, karena jiwa itu sudah di-Satukan Dengan Allah. Sungguh tak terkatakan, Anugerah dan Kekayaan Allah, yang jiwa terima pada anak tangga ini. Biar ada banyak buku yang ditulis orang mengenai hal ini, namun bagi Banyak tetap tersembunyi.

    Anak Tangga kesepuluh:


    Jiwa Mirip Dengan Allah

    (assimilari totaliter)


    Anak tangga ke sepuluh dan terakhir dari tangga cinta membuat jiwa mirip dengan Allah karena memandangi Allah yang dinikmatinya. Inilah Puncak Mistik. Pribadi manusia yang dipersatukan Dengan Putera, memandang Bapa bersemuka, Bapa merupakan Misteri segala misteri. Pada tahap ini, orang tidak dapat berkata-kata lagi. Di dalam jiwa-jiwa yang hanya sedikit jumlahnya ini, Cinta Kasih sudah memurnikannya di dalam hidup ini, sebagai ganti api penyucian sesudah hidup ini. Karenanya, Yesus berkata dalam Sabda BahagiaNya: “Berbahagialah orang yang murni hatinya sebab mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Memandang inilah yang menjadi penyebab keserupaan yang Sempurna antara jiwa Dengan Allah, sebagaimana dikatakan oleh St Yohanes: “Kita akan sama atau serupa Dengan Dia, sebab kita akan Melihat Dia sebagaimana AdaNya (I Yoh 3:2), bukan karena jiwa akan memiliki kemampuan sebanyak Allah - ini tidak mungkin - tetapi karena semua yang ada akan menjadi Mirip Allah. Dengan demikian, jiwa akan disebut Allah dan menjadi Allah karena jiwa ambil bagian Dalam Hidup Allah”. Itulah Tangga Cinta Rahasia. Pada ketinggian anak tangga ini, tidak ada rahasia lagi bagi jiwa, sebab Cinta menyingkap selubung bagi jiwa lewat Karya-Karya Besar yang terjadi dalam jiwa.
    Pada anak tangga terakhir ini Allah berada, tak ada lagi Rahasia bagi jiwa, sebab ia serupa Dengan Dia. Sebab itu Juru Selamat bersabda: “Aku menyebut kamu sahabat, sebab Aku telah menyatakan segala sesuatu kepadamu.” Namun betapapun tinggi jiwa naik, masih tetap ada sesuatu yang tersembunyi baginya sesuai dengan kekurangan persamaan dengan Wujud Ilahi.
    Melalui Mistik dan Cinta Rahasia Ini, jiwa keluar dari segala sesuatu dan dari dirinya dan ia naik Kepada Allah, sebab Cinta Itu mirip Api, yang selalu bernyala lebih tinggi dan berjuang mencapai IntiNya.
    Di samping pembagian umum menuju Malam Gelap Indra dan Malam Gelap Roh, St Yohanes dari Salib, juga menampilkan pembagian lain dari malam yang sama dalam tiga bagian, yakni:
    1. petang hari/waktu senja/menjelang malam disebut sebagai Malam Indra;
    2. tengah malam disebut sebagai Malam Rohani atau Malam Iman;
    3. menjelang fajar, Allah yang ditemukan dalam Kesatuan, Allah juga merupakan Suatu Malam, tetapi tidak lagi pekat, seperti dalam Malam Pemurnian roh dalam iman dimana segalanya gelap, namun belum juga Fajar, karena Fajar berarti Kemuliaan Surgawi.

    Rangkuman


    Pemikiran Yohanes dari Salib tentang berbagai ‘malam’ di atas, bukan berarti bahwa setiap orang harus bersatu dengan Tuhan melalui cara tahapan yang persis seperti itu. Perlu diingat, bahwa skema tersebut tidak bersifat mutlak, dan merupakan sesuatu yang terjadi dalam batin seseorang yang telah terbuka Terhadap Tuhan. Oleh karena itu, ajaran tentang “malam” ini hanya berarti bila kita menghargai keunikan masing-masing individu dan mengingat bahwa Tindakan Tuhan dalam hidup kita sifatnya bebas, tidak bisa ditentukan, dianalisa atau diprediksi. Penting dijelaskan, bahwa Yohanes melihat Malam Gelap sebagai suatu Prakarsa Dari Tuhan, tetapi tidak berarti bahwa individu yang bersangkutan benar-benar pasif dalam proses tersebut. Aspek lain dari Malam Gelap, adalah cara dimana seseorang sedemikian terpengaruh, sehingga memiliki perasaan, bahwa Tuhan sepertinya tidak Hadir. Perlu diketahui, bahwa dalam situasi ini - Tuhan tampaknya tidak Hadir - bukan seakan-akan Tuhan menarik diri dari hidup seseorang, tetapi Tuhan mau menguji kesetiaan seorang dalam keberimanannya. Ia perlu dicoba, seperti emas yang dilebur di dalam tanur api, untuk mengetahui kemurniannya.



    Sumber


    Rm Yohanes Indrakusuma, Lembah Karmel - Cikanyere; Carmel of St. Elijah; Daftar Pustaka: I. Dokumen Resmi Gereja Dokumen Konsili Vatikan II, GS, DV, R. Hardawiryana, (Penerj.), Jakarta: Obor, 1993; Konferensi Waligereja Indonesia, Iman Katolik, Yogyakarta, Kanisius & Jakarta, Obor, 1996; Yohanes Paulus II, (Promulgator), Katekismus Gereja Katolik, Herman Embuiru (Trans.) Ende: Propinsi Gerejawi Ende, 1995; II. Kamus dan Ensiklopedi; Poerwadarminta W. J. S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2006; Paul J. Achtemeier (Ed.), Harper’s Bible Dictionary, Bangalore: Theological       Publications in India, 1996; III. Pustaka Primer: Lembaga Biblika Indonesia, Alkitab, 1988; Kavanaugh, Kieran,OCD and Rodriguez, O, OCD (Trans. & Eds.),The Collected Works    of St. John of the Cross, Washington DC., ICS Publications, 1991; The Collected Works of St.Teresa of Avila. Volume Three, The Book of Her Foundations, Washington, DC., ICS Publications, 1985; IV. Pustaka Sekunder: Buku-Buku: Andang, Al., Agama yang Berpijak dan Berpihak, Yogyakarta, Kanisius, 1998; Burrows, Ruth, Ascent to Love, Bandra, Bombay, St. Pauls Publications, 1990; Dent, Barbara, My Only Friend is Darkness, Carmel Publishing Centre Trivandrum-14, 1996; Dyster, Niko Syukur,  Pengantar Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2001; Doohan, Leonard., The Contemporary Challenge of St. John of the Cross, Washington DC, ICS Publications, Institute  of Carmelite Studies, 1995; Johnston, William., Mystical Theology, The Science of Love, London: Harper Collins Publishers, 2001; Kurian, Alex, Ascent to Nothingness, Kildare, Ireland, St. Pauls Publishing, 2000; Lyddon, E, S., Door to Darkness, London, New City 57 Twyford Avenue, 1994; McGreal, Wilfrid, & Vardy, Peter,(Eds.)., Tokoh Pemikir Kristen, Yohanes Salib, Yogyakarta, Kanisius, 2001; Nemeck, K, F, and Coombs, T, M, O, Blessed Night, Recovering from Addiction, Codependency and Attachment Based on  the Insight of St. John of the Cross and Piere Teilhard de Chardin, New York, Alba House society of St. Pauls, 2001; Payne, Steven, (Ed.)., John of the Cross, Washington DC., ICS, Carmelite Studies, 1995; Ruiz, Frederico, St. John of the Cross, The Saint and His Teaching (Darlington Carmel: 1998); Slattery, Peter, (Ed.) St. John of the Cross, Alba House Society of St. Pauls, 2001; Verbeek, Cyprianus, Dalam Kuasa Cinta, Ende: Nusa Indah, 1973.

    franstenggara@gmail.com
    didedikasikan untuk Bunda kami
    Copyright © 2014