GEREJA KATOLIK ENSIKLOPEDI

Pertobatan

SAKRAMEN PERTOBATAN


converto Latin klasik, konverter depon.;

conversio, perubahan; dll.


Dalam Latin Vulgata (Kisah Para Rasul 15:3), di patristik (St Augustine, Kebudayaan. Dei, VIII, xxiv) dan kemudian Gerejawi Latin, pertobatan mengacu pada perubahan moral, balik atau kembali kepada Allah dan agama yang benar, dimana rasa itu telah berlalu ke dalam bahasa modern kita. (Misalnya, "pertobatan" dari St Paul, Konstantinus Agung dan St Agustinus) Pada Abad Pertengahan konversi kata yang sering digunakan dalam arti menjauhkan dunia untuk memasuki negara agama. Dengan demikian St Bernard berbicara tentang pertobatannya. Kembalinya orang berdosa untuk hidup dalam kebajikan, juga disebut pertobatan. Lebih umum kita berbicara tentang pertobatan orang tidak percaya terhadap agama yang benar dan paling sering dari pertobatan skismatik atau sesat kepada Gereja Katolik.
Setiap orang terikat oleh hukum alam untuk mencari agama yang benar, menerimanya ketika ditemukan dan sesuai dengan prinsip-prinsip hidup dan ajarannya. Dan itu adalah dogma Gereja, didefinisikan oleh Konsili Vatikan, bahwa manusia mampu dengan cahaya alami, dari alasan untuk sampai pada pengetahuan tertentu tentang keberadaan satu Allah yang benar, Pencipta kita dan Tuhan. Dewan demikian mengajarkan, bahwa iman adalah karunia Allah, penting untuk keselamatan dan bahwa itu adalah suatu tindakan akal budi atau kepintaran, diperintahkan oleh kehendak; bahwa itu adalah tindakan rohani. Maka tindakan iman adalah suatu tindakan pemahaman, dimana kita memegang teguh sebagai kebenaran; apapun yang Tuhan telah ungkapkan, bukan karena kebenaran hakiki yang dirasakan oleh alasan cahaya alami, tetapi karena Allah yang tidak bisa menipu atau tertipu, memiliki pengungkapan hal itu. Hal ini sekaligus merupakan tindakan pemahaman, tetapi membutuhkan pengaruh kehendak yang menggerakan akal budi untuk persetujuan. Bagi banyak dari kebenaran wahyu menjadi misteri, yang sampai batas tertentu tidak jelas. Namun itu bukan tindakan tidak beralasan, karena fakta bahwa Allah telah berbicara, bukan hanya mungkin, tapi tertentu. Bukti-bukti untuk fakta wahyu tidak, bagaimanapun itu adalah bentuk iman; itu adalah alasan yang membuat wahyu kredibel, artinya, mereka membuatnya yakin bahwa Allah telah berbicara. Dan karena iman adalah perlu untuk keselamatan, bahwa kita dapat memenuhi tugas merangkul Iman yang benar dan tekun di dalamNya, Allah dengan AnakNya yang tunggal telah melembagakan Gereja dan telah dihiasi dengan tanda yang jelas sehingga dapat diketahui oleh semua orang; sebagai wali dan guru, Kebenaran terungkap. Tanda-tanda ini (atau catatan) kredibilitas milik Gereja Katolik sendiri. Bahkan, Gereja sendiri oleh propagasi yang mengagumkan, kesucian luhur dan fekunditas sepenuhnya, oleh kesatuan Katolik dan stabilitas tak terkalahkan, adalah motif besar dan abadi kredibilitas dan kesaksian tak terbantahkan berilham misi Ilahi (Conc. Berilham., De Fide, cap. 3).
Langkah pertama, oleh karena itu dalam proses normal, konversi adalah investigasi dan pemeriksaan mandat dari Gereja, yang sering adalah tugas yang menyakitkan, yang berlangsung selama bertahun-tahun. Kasih karunia eksternal yang menarik perhatian orang pada Gereja dan menyebabkan dia untuk memulai penyelidikannya adalah berbagai macam ragam, karena ada interpelasi individu. Bahkan mungkin sesuatu, untuk keuntungan duniawi seseorang, yang terjadi dengan Henry IV dari Perancis. Ini mungkin kepentingan, bergelora pada tokoh sejarah besar, seperti Innocent III, dalam kasus Friedrich von Hurter. Apapun mungkin telah motif awal. Jika penelitian dikejar dengan pikiran terbuka, dapat dipercaya, bahwa itu akan mengarah pada pengetahuan tentang Gereja yang benar, yaitu pada kesimpulan: Gereja Katolik adalah Gereja yang benar. Ini keyakinan intelektual. Namun belum tindakan iman. Satu mungkin ragu-ragu atau menolak untuk mengambil langkah berikutnya, yang merupakan "kehendak baik untuk percaya" (pius credulitatis affectus). Dan ini mengarah pada tindakan ketiga dan terakhir, tindakan iman itu sendiri: Saya percaya apa yang Gereja ajarkan karena Allah telah mengungkapkan hal itu. Ketiga, lalu terutama tindakan, yang sesuai dengan ajaran Katolik, tindakan kerohanian. Kemudian mengikuti baptisan dimana orang percaya secara resmi diterima ke dalam tubuh Gereja. (BAPTISAN, VII, VIII.)
Karena tugas merangkul agama yang benar adalah hak Ilahi, alami dan positif, jelas bahwa tidak ada hukum sipil dapat melarang memenuhi tugas ini atau harus dengan pertimbangan temporal yang diijinkan untuk terutama tugas untuk keselamatan jiwa. Dan karena semua menyatu untuk memasuki Gereja, maka bahwa Gereja memiliki hak untuk menerima semua yang mengajukan permohonan penerimaan, usia berapapun, jenis kelamin atau mungkin kondisi mereka. Bahkan, dalam kebajikan perintah Ilahi, untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk, Gereja secara ketat terikat untuk menerima mereka dan tidak ada otoritas duniawi bisa melarang pelaksanaan tugas ini. Untuk milik Gereja, itu saja meletakkan kondisi pada penerimaan dan untuk menyelidiki disposisi internal Dia, yang memperkenalkan diriNya untuk masuk ke dalam pelukanNya. Kondisi pengetahuan dan profesi Iman Katolik dan tekad untuk hidup sesuai dengan itu. Hak untuk mengakui pertobatan ke dalam Gereja, itu milikNya, benar-benar berbicara pada uskup. Biasanya semua imam melaksanakan pelayanan suci, menerima kecakapan untuk mendamaikan bidah. Ketika pembaptisan bersyarat diberikan, Sakramen Pengakuan Dosa, juga diperlukan dari pertobatan atau pemulihan. Ini adalah jelas hukum yang ditetapkan dalam Kisah Para Dewan Pleno Kedua Baltimore. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut:
  • pertama, abjuration bidat atau pengakuan iman;
  • kedua, baptisan bersyarat;
  • ketiga, Sakramen Pengakuan Dosa dan pengampunan bersyarat. (Titus V, Cap. II, n. 240.)
Pemaksaan, kekerasan dan penipuan tidak boleh digunakan untuk membawa kepada pertobatan. Sarana tersebut akan berdosa. Hukum alam, hukum Kristus, sifat iman, ajaran dan praktek Gereja melarang cara-cara seperti itu. Credere voluntatis est, percaya tergantung pada kehendak bebas, kata St Thomas (II-II: 10:08) dan Minister baptisan, sebelum memberikan Sakramen, wajib mengajukan pertanyaan, "Maukah engkau dibaptis" ? Dan hanya setelah menerima jawaban, "Aku akan", mungkin dia melanjutkan dengan ritual sakral. Gereja juga melarang baptisan anak-anak dari orang tua yang tidak dibaptis tanpa persetujuan dari yang bersangkutan, kecuali anak-anak telah dibuang oleh orangtua mereka atau berada dalam bahaya kematian. Gereja tidak memiliki yurisdiksi atas dibaptis, Negara juga tidak memiliki kekuatan menggunakan cara temporal dalam hal-hal rohani. Hukuman sebelumnya yang ditetapkan terhadap kemurtadan tidak dimaksudkan untuk memaksa orang untuk menerima lahiriah mereka yang tidak percaya dalam hati, tetapi untuk menebus kejahatan (artikel dari St Thomas, cit loc.). Undang-undang abad pertengahan, baik Gerejawi dan sekuler, jelas dibedakan antara hukuman yang akan dijatuhkan untuk kejahatan kemurtadan dan sarana pengajaran yang akan digunakan dalam rangka untuk membawa tentang resipiscence dari murtad. Sebagai Uskup von Ketteler mengatakan, "Hukuman yang dijatuhkan oleh Gereja pada bidah dalam beberapa kasus, relatif tidak didasarkan pada prinsip palsu keyakinkan yang bisa dipaksakan oleh pikiran dengan cara eksternal, tapi setelah kebenaran bahwa dengan baptisan Kristen telah diasumsikan kewajiban pemenuhan yang bisa dilaksanakan. Hukuman ini hanya dijatuhkan dalam kasus-kasus tertentu dan atas bidat publik dan formal. "Mengkonversi orang tua seperti umat Katolik lainnya wajib yang memiliki, anak-anak mereka dibaptis dan dididik dalam agama Katolik.
Konstitusi Amerika Serikat menyatakan pemisahan antara Gereja dan Negara dan menjamin kebebasan penuh hati nurani. Karena undang-undang Negara tersebut menempatkan tidak ada hambatan apa pun di jalan konversi. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan orang-orang Amerika secara sosial toleran terhadap bertobat. Tidak heran bahwa dalam konversi negeri ini relatif lebih banyak dibandingkan kebanyakan orang lain.
Di Kerajaan Inggris, sejak jaman Emansipasi Katolik tahun 1829, kebebasan hati nurani berlaku dalam teori maupun dalam praktek.
Di Skotlandia yang didirikan Gereja, cacat Katolik telah hampir seluruhnya dihapus. Katolik hanya dikeluarkan dari takhta dan dari beberapa kantor tertinggi negara.
Di Jerman setelah Reformasi tirani prinsip cujus regio, illius religio diproklamasikan, dalam kebajikan yang berdaulat untuk sementara waktu bisa memaksakan agamanya pada rakyatnya. Dia memegang kekuasaan kedua untuk melarang pertobatan ke Catholic Church dan memaksa kemurtadan. Jerman masa kini, kebebasan hati nurani adalah hukum negara. Dan meskipun beberapa serikat Gereja dan Negara ada, pertobatan tidak melibatkan cacat atau hilangnya hak sipil dan politik.
Sebelumnya, sebagian besar negara, bagaimanapun usia ditentukan sebelum ke pertobatan yang salah, 14 tahun, 16 tahun dan bahkan 18 tahun. Di Saxony, Brunswick dan Mecklenburg, pelaksanaan agama masyarakat Katolik secara historis menjadi sasaran gangguan.
Di Rusia Gereja Ortodoks adalah agama negara. Denominasi lain hanya ditoleransi. Di bawah Tsar, konversi dari Gereja Ortodoks Katolik diikuti oleh cacat pedih. Dengan ukase tahun 1905 hak dan kebebasan tertentu diberikan kepada denominasi lain. Publikasi ukase itu langsung diikuti dengan kembali ke Catholic Church dari banyak umat Katolik Timur yang telah dipaksa menjadi perpecahan oleh penganiayaan. Negara-negara Skandinavia yang sangat toleran sampai sekitar pertengahan abad kesembilan belas. Denmark memberi kebebasan kepada Catholic Church pada tahun 1849, Swedia dan Norwegia pada tahun 1860.

SEBELUM KONSILI VATIKAN II

  1. Konsili Nicea I (tahun 325); Sejak awal sejarah Gereja, orang Kristen yang berdosa berat tetap diterima sebagai warga Gereja walaupun mereka dilarang menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi. Mereka baru diijinkan mererima Komuni lagi setelah menjalani suatu proses pertobatan yang cukup lama dan berat. Karena seorang pendosa berat hanya boleh menerima pengampunan dosa satu kali dalam hidupnya, Banyak orang Kristen pada waktu itu menunda pertobatan sampai akhir hidupnya. Menyadari Hal itu pada uskup pada konsili Nicea I menegaskan perlunya pengampunan Gereja bagi mereka yang segera menemui ajalnya. Walaupun demikian apabila pendosa tersebut tidak jadi meninggal, ia harus menjalani proses pertobatan seperti oran-orang Kristen lainnya.
  2. Paus Celesyinus (tahun 428); Ajaran Koncili Nicea I diatas tidak ditaati oleh beberapa uskup, Karena itu, Paus Celestinus menegaskan kembali ajaran konsili tersebut dalam suratnya kepada para uskup di Wina dan Narbonne. Dalam surat itu, diajarkan bahwa orang-orang Kristen yang sedang menghadapi ajal sebaiknya diberi pengampunan walaupun sebelumnya mereka sudah mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Ajaran itu antara lain didasarkan pada kitab Yehezikel, seperti pada ayat Yeh 33:12-16.
  3. Paus Leo I (tahun 452); Oleh Paus leo menegaskan kembali soal pertobatan dalam suratnya kepada Theoderus, uskup Frejus. Dalam surat itu diajarkan bahws para pimpinan Gereja punya wewenang untuk memohonkan pengampunan Ilahi bagi umat yang bertobat. Ajaran itu antara lain didasarkan pada surat 1 Timotius seperti pada ayat 1Tim 2:5.
  4. Konsili Toledo III (tahun 589); Hingga akhir abad ke-6 Gereja mempertahankan tradisi lama dalam Hal pertobatan. Dimana seorang pendosa berat harus menjalani masa penitensi yang cukup lama dan berat. Selama Penitensi itu, ia dilarang menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi, baru setelah ia mendapat ABOLUSI didepan seluruh umat dan diijinkan menerima komuni lagi sebagai lambang bahwa ia telah diterima kembali menjadi warga penuh dalam jemaat. Apabila kelak ia jatuh dalam Dosa berat lagi, ia tidak boleh menerima pengampunan kecuali dalam bahaya mati. Pada waktu itu di Irlandia, Inggris dan prancis mulai ada kebiasaan baru dalam melaksanakan pertobatan, yaitu diijinkannya seorang pendosa menerima pengampunan secara kerap (sering). Oleh karena itu dalam konsili Toledo III, para uskup spanyol menegaskan bahwa disana tradisi lama harus tetap ditaati, Pengampunan secara kerap dianggap tidak layak dilakukan.
  5. Konsili Lateran IV (tahun 1215); Sejak abad ke-7, pengampunan dosa secara kerap sudah menjadi kebiasaan dibanyak tempat. Hanya sedikit saja Gereja local yang menolak kebiasaan tersebut. Penolakan itupun lebih didsarkan pada pandangan bahwa seorang iman tidak mempunyai hak untuk mengampuni Dosa. Dalam Kondisi itulah para uskup yang berkumpul dalam konsili Lateran IV menegaskan bahwa umat beriman memang layak menerima pengampunan secara kerap (sering). Konsili ini mengajarkan bahwa setiap orang Kristen yang sudah dewasa wajib melaksanakan petobatan dan menerima pengampunan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Pertobatan tersebut harus dilakukan secara rahasia di hadapan pastornya masing-masing. Ia hanya boleh menerima pengampunan dari imam lain setelah mendapat izin dari pastornya sendiri. Dalam Kondisi tersebut, juga ditegaskan bahwa imam punya kewajiban berat untuk merahasiakan apapun yang ia ketahui dari pengakuan dosa yang dilayaninya. Imam yang membocorkan rahasia pengakuasn dosa akan mendapat sanksi berat dari pimpinan Gereja, yakni dijebloskan ke biara tertutup untuk melakukan penitensi seumur hidup.
  6. Konsili Florence (tahun 1439); Sejak Abad ke-14, pengaruh teologia Thomas Aquinas mulai terasa kuat di seluruh Gereja, Salah satu sumbangan penting dari teolog agung tersebut adalah bahwa setiap Sakramen memuat dua unsur pokok, yakni Forma dan Material. Karena pengaruh Thomas Aquinas tersebut, para uskup berkumpul di Florence menegaskan kembali hal-hal berikut : Sakramen ke empat adalah Sakramen Tobat : quasi-materia dari Sakramen tersebut adalah hal-hal yang dilakukan penitent, yakni : Contritio (sesal sempurna atas dosa-dosa dan teguh untuk tidak berdosa lagi), Confessio (pengakuan dosa secara utuh di depan seorang imam), Satisfactio (perbuatan-perbuatan silih yang sesuai dengan beratnya dosa, seperti disarankan imam pelayan Sakramen ini dan biasanya terdiri dari doa, puasa dan derma) Forma dari Sakramen ini adalah kata-kata abolusi yang disampaikan oleh imam: buah dari Sakramen ini adalah pengampunan atas dosa-dosa.
  7. Konsili Trente (tahun1551); Pada abad ke-16, munculah gerakan-gerakan reformasi di dalam gereja, yang kemudian munculnya Gereja-gereja Kristen Protestan. Sebagian dari perintis Gereja-Gereja tersebut tidak mengakui ibadat Tobat sebagai buah dari Sakramen seperti Baptis dan Ekaristi.
Menaggapi pandangan”baru” tersebut para uskup yang berkumpul dalam konsili Trente menegaskan ajaran-ajaran tradisional mengenai Sakramen Tobat, misalnya tentang hal-hal berikut:
Sakramen Tobat benar-benar perlu bagi semua orang yang telah melakukan dosa berat agar ia kembali memperoleh rahmat dan pembenaran.
Pada saat Tuhan Yesus masih hidup di dunia, pertobatan memang belum menjadi Sakramen, tetapi setelah kebangkitanNya, Ia menciptakan Sakramen Tobat dengan cara menghembusi para rasul dengan bersabda; ”Terimalah Roh Kudus, Jika kamu mengampuni dosa seseorang, ia diampuni, Jika kamu tidak mengampuni dosa seseorang, ia pun tidak diampuni." Yoh 20:22-23
Forma dan material antara Sakramen Tobat dan Sakramen Baptis berbeda karena esensi kedua Sakramen itu memang beda.
Dalam Sakramen Baptis, pelayan Sakramen tidak berperan sebagai hakim, sedangkan dalam Sakramen Tobat sebagai hakim.
Sakramen Baptis perlu demi keselamtan orang-orang yang belum dibaptis. Sedangkan Sakramen Tobat perlu demi keselamatan oran-orang yang sudah dibaptis tetapi jatuh dalam dosa berat.
Forma dari Sakramen Tobat adalah kata-kata abolisi yang diucapkan imam, pelayan Sakramen ini adalah hal-hal yang dilakukan oleh penitent, yakni contritio, confessio dan satisfaction Res sacramenti atau buah dari Sakramen Tobat adalah rekonsiliasi dengan Allah Attritio, sesal yang tidak sempurna memang tidak dapat menghasilkan pengampunan Ilahi, walaupun demikian sesal tidak sempurna tetap merupakan anugrah Illahi dan dapat mempersiapakn hati seorang untuk beriman untuk menerima pengampunan melalui Sakramen Tobat.
Peniten (orang beriman yang belum bertobat) haruslah mengakui semua dosa beratnya setelah memeriksa batin secara seksama. Disarankan bahwa ia juga mengakui dosa-dosanya yang ringan. Walaupun demikian, dosa-dosa ringan itu juga dapat diampuni Allah diluar Sakramen Tobat.

KONSILI VATIKAN II

  1. Lumen Gentium; melalui Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium yang diumumkan pada sidang ke III, 21 November 1964, para bapa konsili menyampaikan ajaran tentang Gereja. Dalam kaitan itu, kita juga temukan ajaran dan gagasan tentang pertobatan. LG 2,4,7,11,35,36,44
  2. Sacrosanctum Concilium; Melalaui Konstitusi Dogmatis Sacrosanctum Concilium, para Bapa konsili terutama menyampaikan ajaran Liturgi, dalam dokumen tesebut juga kita temukan ajaran dan gagasan berikut tentang pertobatan. SC 9,72,105,109,110
  3. Presbyterorum Ordinis; Melalui dekrit Presbyterorum Ordinis, para bapa konsili menyampaikan ajaran tentang pelayanan dan kehidupan para imam. Dalam dokumen itu ada juga beberapa gagasan tentang pertobatan. PO 4,5,13, 19
  4. Ad Gentes; DECREE AD GENTES ON THE MISSION ACTIVITY OF THE CHURCH, dalam Dokumen ini ada beberapa gagasan tentang pertobatan, walaupun sebenarnya bermaksud untuk menyamapaikan pandangan karya missioner Gereja. AG 8,9,13
  5. Unitatis Redintegratio; DECREE ON ECUMENISM UNITATIS REDINTEGRATIO, Dekrit ini dimaksudkan untuk penyampaian pandangan tentang usaha ke arah kesatuan umat Kristen, juga gagasan tentang pertobatan dapat ditemukan. UR 7,8
  6. Gaudium et Spes; PASTORAL CONSTITUTION ON THE CHURCH IN THE  MODERN WORLD GAUDIUM ET SPES PROMULGATED BY HIS HOLINESS, POPE PAUL VI ON DECEMBER 7, 1965. Dalam Konstitusi ini, dimana para Bapa konsili bermaksud menjelaskan peran Gereja di dunia. Juga ada gagasan tentang pertobatan. GS 13, 15-17, 18, 37

SESUDAH KONSILI VATIKAN II

  1. Paenitemini (Konstitusi Apostolik tentang pertobatan); Konstitusi Apostolik Paenitemini dimaksud untuk menindak lanjuti amanat konsili Vatikan II tentang pertobatan umat Kristen. Ada beberapa point penting yang pantas kita perhatikan sbb: Walaupun Gereja dipanggil menjadi kudus, warganya jatuh dalam dosa. Pertobatan mempunyai ciri religius dan personal. Walaupun demikian pertobatan juga mempunyai ciri social. Tuhan Yesus tidak hanya mewartakan pertobatan, melainkan juga memberikan teladan pertobatan sejati. Dalam terang Kristus, orang beriman menyadari kesucian Allah dan kedosaan dirinya. Karena Gereja begitu terikat dengan Kristus, pertobatan orang beriman tidak hanya terkait dengan Kristus, melainkan terikat juga dengan Gereja. Gereja terpanggil untuk terus-menerus mencari pengungkapan-pengungkapan pertobatan yang baru, yang lebih sesuai dengan kondisi jaman dan hakikat pertobatan.
  2. Reconciliationem (Dekrit tentang Tata ibadat Tobat); Takhta Suci menyatakan persetujuan Paus Paulus VI atas tata ibadat tobat yang baru (tahun 1973), melalui dekrit tentang promulgasi dari dokumen tersebut, kiranya pantas diperhatikan. Melalui misteri wafat dan kebangkitanNya, Kristus telah mendamaikan manusia dengan Allah. Melalui para rasul, Kristus memberi kepada Gereja untuk meneruskan pelayanan pertobatan tersebut. Kristus telah mengadakan Sakramen-Sakramen khusus demi pengampunan dosa-dosa orang beriman setelah dibaptis. Sesuai dengan amanat KV II, Gereja berusaha memperbaharui ungkapan tobat umat beriman. Tata ibadat tobat yang baru terutama memuat tata cara pertobatan penitent secara individual dan cara pertobatan beberapa penitent secara bersama-sama, untuk mengungkapkan aspek Komunal dari Sakramen Pertobatan. Gereja memanggil semua orang beriman untuk bertobat dan memperbaharui diri secara terus menerus.
  3. Misericordiam Suam (Introduksi tata ibadat tobat), ada hal-hal penting yang pantas kita perhatikan, melalui Kristus, Bapa di surga memperdamaikan dengan dirinNya. Kristus tidak hanya mewartakan pertobatan, melainkan juga menerima pendosa dan memperdamaikan mereka dengan Bapa. Atas amanat Kristus, secara terus-menerus Gereja mewartakan pertobatan kepada semua orang, juga kepada mereka yang telah dibaptis lalu jatuh ke dalam dosa lagi. Umat beriman mengungkapkan pertobatan dalam berbagai kesempatan dan berbagai cara. Tempat belas kasih Allah melalui Sakramen Tobat, orang beriman menerima pengampunan atas dosa-dosa sekaligus diperdamaikan dengan Gereja. Unsur-unsur pokok dalam pertobatan Sacramental adalah contrito, confessio, satisfactio dan absolutio. Sakramen Tobat haruslah dilayani di kamar pengakuan, sesuai dengan ketentuan Gereja. Waktu terbaik untuk pelayanan Sakramen ini adalah masa Pra-Paskah. Sakramen Tobat hendaknya dilayani untuk paniten secara individual. Atas dasar alasan-alasan yang sah, Sakramen ini dapat dilayani secara bersama-sama.
  4. Codex Iuris Canonici (Kitab Hukun Kanonik); Kitab Hukum Kanonik yang dimaksud adalah KHK yang baru, yang diberlakukan tahun 1983. Kanon-kanon penting yang perlu diperhatikan mengenai Sakramen Tobat: Can. 959-961, Can. 964-966, Can. 969-970, Can. 973, Can. 976-977, Can. 979-981, Can. 983-984, Can. 987-989, Can. 1370, Can. 1378, Can. 1382, Can. 1388-1398.
  5. Reconciliatio et Paenitentia; Paus Yohenes Paulus ke II pada tahun 1984 menerbitkan dokumen reconciliatio et Paenitentia, sebagai tindak lanjut dari sinode para uskup yang membahas Sakramen Tobat.
Berikut adalah hal-hal yang termuat dalam Dokumen tersebut, yang sekiranya penting kita perhatikan.
Bagi seorang Kristen, Sakramen Tobat merupakan cara paling bisa untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosa berat yang dilakukan sesudah ia dibaptis.
Tradisi Gereja yang sudah berlangsung sangat lama selalu menekankan aspek yudisial dari Sakramen Tobat. Aspek yudisial itu harus dipahami dalam kerangka pengadilan ilahi yang penuh belas kasih. Selain itu juga diperhatikan dua aspek lainnya, yakni aspek terapeutik dan mesisinal, Hal itulah yang justru nampak jelas dalam karya-karya Tuhan Yesus saat Ia mengampuni dosa-dosa.
Sakramen Tobat memuat beberapa unsur penting. Menyangkut hati paniten, perlu diperhatikan hati nuraninya dan usahanya utnuk memerikasa batinnya, Selain itu seperti selalu ditekankan dalam tradisi Gereja, perlulah penitent menjalani tindakan-tindakan contritio, confessio dan satisfactio.
Pertobatan selalu menyangkut bagian terdalam dari pribadi seorang beriman. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan dirinya untuk bertobat. Dalam pertobatan itulah seorang beriman berhadapan langsung dengan Allah sendiri.
Buah utama dari Sakramen Tobat adalah perobatan dengan Allah, dengan Gereja, dengan sesama, dengan dirinya sendiri, dengan seluruh ciptaan.
Para imam juga tidak boleh hanya menjadi pelayan Sakramen Tobat yang baik, melainkan juga harus menjadi penerima Sakramen Tobat yang tekun dan teliti.


MUJIZAT PERTOBATAN CLAUDE NEWMAN


“Mary the Teacher”
© Copyright 2004
Brother Claude Lane, OSB

Kisah nyata mengenai Claude Newman [1923-1944] ini terjadi di Mississippi sebagaimana dikisahkan oleh Pater Robert O'Leary, SVD [1911-1984], seorang imam dari Mississippi, yang terlibat langsung dalam peristiwa ini.

Claude Newman [dilahirkan pada tanggal 1 Desember 1923] adalah seorang negro yang bekerja di ladang untuk seorang tuan tanah. Ia telah menikah di usianya yang ke-17 dengan seorang perempuan sebaya. Suatu hari, dua tahun kemudian, ia sedang bekerja di ladang. Seorang pekerja lain datang berlari untuk memberitahu Claude bahwa isterinya berteriak-teriak di rumah. Segera Claude berlari ke rumah dan mendapati seorang laki-laki menyerang istrinya. Claude mengambil kampak dan memacung kepala orang itu. Ketika mereka membalik tubuh tak bernyawa itu, mereka mendapati bahwa ia adalah pekerja kesayangan tuan tanah kepada siapa Claude bekerja. Claude ditangkap dengan dakwaan pembunuhan dan dijatuhi hukuman mati di kursi listrik [Pada tanggal 19 Desember 1942, karena hasutan seorang teman, Claude Newman membunuh Sid Cook dan membawa lari uangnya. Sid Cook adalah kakek tirinya yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap Ellen Newman, nenek yang membesarkan Claude. Pater Robert O'Leary, SVD kemungkinan menyederhanakan dan sedikit mengubah peristiwa yang menjebloskan Claude ke dalam penjara. Kemungkinan Pater O'Leary tidak benar-benar paham akan apa yang sesungguhnya terjadi, atau karena 20 tahun telah berlalu sebelum akhirnya Pater O'Leary mengisahkan peristiwa mukjizat ini. Yang menjadi perhatian utama Pater O'Leary adalah mukjizat pertobatan Claude yang diketahuinya secara langsung. ~ Catatan Br. Claude Lane OSB, yang di kemudian hari mempelajari dan meneliti riwayat hidup Claude Newman.].

Sementara di penjara menanti eksekusi, Claude berada satu sel dengan empat tahanan lain. Suatu malam, kelima tahanan duduk melingkar dan bercakap-cakap. Claude memperhatikan sebuah medali yang dikenakan pada leher seorang tahanan. Ia bertanya apa itu dan tahanan Katolik itu menjawab bahwa itu adalah sebuah medali. “Apa itu medali?” tanya Claude. Pemuda Katolik tak dapat menjelaskan apa itu medali dan apa gunanya. Sang pemuda Katolik itu merenggut medali dari lehernya lalu mencampakkan ke lantai di depan kaki Claude disertai kutukan dan sumpah serapah, menyuruhnya mengambil medali itu. Claude memungut medali dan seijin sipir penjara, dia mengenakan pada lehernya. Baginya medali itu bukan sekedar suatu perhiasan, tetapi ia tertarik dan suka mengenakannya.
Tengah malam, sementara ia tidur di atas pembaringannya, Claude terjaga oleh suatu sentuhan pada pergelangan tangannya. Dan disitu, seperti dikemudian hari diceritakan Claude kepada Pater O'Leary, berdiri seorang Perempuan yang paling cantik yang pernah diciptakan Tuhan. Pada mulanya Claude amat ketakutan. Bunda Maria menenangkannya dan lalu berkata kepadanya, “Jika engkau mau Aku menjadi Bundamu dan engkau mau menjadi anakKu, panggillah seorang imam Gereja Katolik.” Dengan perkataan itu Ia pun lenyap. Claude tercekam ketakutan dan berteriak, “hantu, hantu!” Kemudian ia mulai berteriak-teriak meminta seorang imam Katolik.

Pater O'Leary dipanggil keesokan paginya. Ia datang dan menemui Claude yang menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi semalam. Claude, bersama empat tahanan lain dalam selnya, meminta pelajaran agama.
Pada awalnya Pater O'Leary sulit mempercayai kebenaran cerita Claude. Para tahanan yang lain mengatakan kepada imam bahwa semua yang diceritakan Claude adalah benar adanya, tetapi tentu saja mereka tidak melihat ataupun mendengar apa-apa dari Bunda Maria.
Pater O'Leary berjanji untuk mengajar mereka katekese. Ia kembali ke paroki, melaporkan apa yang terjadi kepada Rektor dan kembali ke penjara keesokan harinya untuk memberikan pengajaran. Pada waktu itulah Pater O'Leary mengetahui bahwa Claude Newman tidak dapat membaca ataupun menulis sama sekali. Satu-satunya cara ia dapat mengatakan apakah suatu buku terbalik atau tidak adalah jika buku itu bergambar. Claude tidak pernah bersekolah. Ia juga tidak tahu sama sekali mengenai agama. Ia tidak tahu siapa itu Yesus. Ia tidak mengerti apa-apa selain dari bahwa ada Tuhan.
Claude mulai menerima pengajaran agama dan tahanan-tahanan lain membantunya dalam belajar. Setelah beberapa hari, dua orang biarawati dari sekolah paroki Pater O'Leary mendapatkan ijin dari kepala penjara untuk mengunjungi penjara. Mereka ingin menemui Claude dan juga ingin menjenguk para tahanan perempuan di penjara. Di lantai lain dari penjara, para biarawati mulai mengajarkan katekese kepada sebagian tahanan perempuan.

Beberapa minggu telah berlalu dan tibalah saatnya Pater O'Leary hendak menyampaikan pengajaran mengenai Sakramen Tobat. Para biarawati juga ikut duduk dalam kelas. Imam mengatakan kepada para tahanan, “Baik, anak-anak, pada hari ini saya akan mengajar kalian mengenai Sakrament Tobat.”
Claude mengatakan, “Oh, saya tahu mengenai itu! Bunda mengatakan apabila kita pergi mengaku dosa, kita berlutut bukan di hadapan seorang imam, tetapi kita berlutut di bawah Salib Putranya. Dan apabila kita sungguh menyesali dosa-dosa kita, dan mengakukan dosa-dosa kita, Darah yang Ia curahkan akan mengalir ke atas kita dan membasuh bersih kita dari segala dosa.”
Pater O'Leary dan para biarawati tercengang dengan mulut ternganga. Claude menyangka mereka marah, sebab itu ia berkata, “Ah, jangan marah, jangan marah; saya tidak bermaksud melantur.”
Kata imam, “Kami tidak marah, kami hanya heran. Apakah engkau melihatnya lagi?”
Claude berkata, “Mari menjauh dari yang lain.”
Ketika telah berdua saja, Claude berkata kepada imam, “Bunda mengatakan bahwa jika Pater ragu atau sangsi terhadap saya, hendaknya saya mengingatkan Pater bahwa saat tergeletak dalam sebuah selokan di Belanda pada tahun 1940, Pater mengucapkan ikrar kepada Bunda Maria yang hingga kini masih dinantikan kegenapannya oleh Bunda Maria.” [Bukti yang diberikan Claude kepada imam guna membuktikan bahwa Bunda Maria sungguh menampakkan diri kepadanya: Pater O'Leary berjanji, apabila mampu, ia akan mendirikan sebuah Gereja demi menghormati Santa Perawan Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa. Janji ini akhirnya digenapi pada tahun 1945.]
Dan, Pater O'Leary mengenangkan, “Claude mengatakan dengan tepat ikrar apa itu.” Hal ini meyakinkan sang imam bahwa Claude mengatakan kebenaran tentang penglihatannya mengenai Santa Perawan Maria.
Mereka berdua lalu kempali ke kelas katekese. Claude terus mengatakan kepada para tahanan lain, “Janganlah takut mengakukan dosa. Kalian sungguh mengakukan dosa-dosa kalian kepada Tuhan, bukan kepada imam ini atau imam mana pun. Kita mengakukan dosa-dosa kita kepada Tuhan. Kalian tahu, Bunda mengatakan (Sakramen Tobat) adalah serupa telepon. Kita berbicara kepada Tuhan melalui imam dan Tuhan menjawab kita melalui imam.”

Sekitar seminggu sesudahnya, Pater O'Leary sedang mempersiapkan pengajaran mengenai Sakramen Maha Kudus. Para biarawati hadir juga. Claude mengatakan bahwa Bunda juga mengajarinya mengenai Komuni Kudus dan ia bertanya; apakah boleh ia mengatakan kepada imam apa yang dikatakan Bunda Maria. Imam segera mengangguk setuju. Claude berkata,
“Bunda mengatakan bahwa dalam Komuni, saya hanya melihat apa yang tampak sebagai sekeping roti. Tetapi Bunda mengatakan bahwa ITU adalah sungguh dan nyata PutraNya. Dan bahwa Ia akan bersama saya hanya untuk beberapa saat lamanya sebagaimana Ia bersama Bunda sebelum Ia dilahirkan di Betlehem. Dan bahwa saya hendaknya melewatkan waktu saya sebagaimana yang dilakukan Bunda, sepanjang waktu bersamaNya, dalam mengasihiNya, bersembah sujud kepada-Nya, bersyukur kepadaNya, memuliakanNya dan memohon berkat dariNya. Hendaknyalah saya tidak terusik oleh siapapun atau apapun. Tetapi seharusnyalah saya memanfaatkan sebaik-baiknya beberapa menit bersamaNya itu.”

Pada akhirnya mereka selesai dengan pengajaran dan [pada tanggal 16 Januari 1944] Claude diterima masuk dalam pelukan Gereja Katolik. Waktunya tiba juga bagi Claude untuk menjalani eksekusi. [Tanggal 20 Januari 1944 ditetapkan sebagai tanggal eksekusi] Claude akan dieksekusi lima menit lewat tengah malam.
Kepala polisi bertanya kepadanya, “Claude, engkau boleh mengajukan satu permintaan terakhir. Apakah yang engkau ingini?”
“Baiklah, kalian semua kacau. Para sipir penjara semuanya kacau. Tetapi kalian tidak mengerti. Saya tidak akan mati. Melainkan hanya tubuh ini. Saya akan bersama Bunda Maria. Jadi, bolehkah saya mengadakan pesta?”
“Apa maksudmu?” tanya sheriff.
“Sebuah pesta! Apakah anda mengijinkan Pater membawa kue-kue dan ice cream dan apakah anda mengijinkan para tahanan di lantai dua dilepaskan di ruang utama agar kami semua dapat berkumpul bersama dan mengadakan pesta?”
“Mungkin akan ada yang menyerang Pater.”
Claude berbalik ke arah mereka yang berdiri dekat sana dan berkata, “Ah, tidak, mereka tidak akan berbuat demikian. Bukankah begitu teman-teman?”
Demikianlah, imam mendatangi seorang warga paroki yang kaya dan perempuan itu menyediakan ice cream dan kue-kue. Mereka pun kemudian berpesta. Sesudah pesta, sebab Claude telah memintanya, mereka mengadakan Jam Suci. Imam telah membawa buku-buku doa dari Gereja dan mereka semua mendaraskan Jalan Salib dan mengadakan Jam Suci tanpa Sakramen Mahakudus. Kemudian, para tahanan dimasukkan kembali ke dalam sel-sel mereka. Imam pergi ke kapel untuk mengambil Sakramen Mahakudus agar Claude dapat menyambut Komuni Kudus.
Pater O'Leary kembali ke sel penjara Claude. Tahanan itu berlulut di balik sisi jeruji yang satu, sementara imam berlutut di sisi yang lain. Mereka berdoa bersama menanti jam berdetak menunjukkan waktu eksekusi.
Limabelas menit sebelum eksekusi, sheriff datang berlari mendaki tangga seraya berseru, “Tangguhkan, tangguhkan, Gubernur memberikan dua minggu masa penangguhan!” Claude tidak tahu bahwa sheriff dan pengacara daerah berupaya menangguhkan eksekusi Claude guna menyelamatkan nyawanya. Ketika Claude mengetahui hal itu, ia mulai menangis.
Imam dan sheriff menyangka bahwa itu adalah reaksi sukacita sebab ia tidak jadi dieksekusi. Tetapi Claude mengatakan, “Ah, kalian tidak tahu. Dan Pater tidak tahu. Andai kalian pernah memandang wajah Bunda Maria dan memandang ke dalam mata Bunda Maria, kalian tak akan ingin hidup lebih lama lagi. Kesalahan apakah yang telah aku lakukan minggu-minggu belakangan ini hingga Tuhan menolakku pulang ke Rumah?”
Dan imam melihat Claude menangis tersedu-sedu bagai seorang yang patah hati. Sheriff meninggalkan ruangan. Imam tinggal dan memberi Komuni Kudus kepada Claude. Akhirnya Claude tenang.
“Mengapa? Mengapakah aku harus tinggal di sini dua minggu lagi?”
Sekonyong-konyong timbul suatu gagasan dalam benak imam. Ia mengingatkan Claude akan seorang tahanan di penjara yang amat membenci Claude. Tahanan ini melewatkan hidup amoral yang ngeri dan dia juga akan segera dieksekusi.
Imam mengatakan, “Mungkin Bunda Maria menghendakimu mempersembahkan penyangkalan diri dijauhkan dari Bunda demi pertobatannya. Mengapakah engkau tidak mempersembahkan kepada Tuhan setiap saat yang engkau lewatkan terpisah dari Bunda Maria demi tahanan ini agar ia pun tidak akan dijauhkan dari Tuhan sepanjang kekekalan masa?”
Claude setuju dan meminta imam untuk mengajarkan kepadanya kata-kata persembahan diri. Pada waktu itu, hanya dua orang saja yang tahu mengenai persembahan ini, yakni Claude dan Pater O'Leary.
Keesokan harinya, Claude berkata kepada imam, “Tahanan itu telah membenciku sebelumnya, tetapi, ah! Pater, betapa ia terlebih lagi membenciku sekarang!”
Imam menjawab, “Yah, itu suatu pertanda baik.”
Dua minggu kemudian [pada tanggal 4 February 1944] Claude menjalani eksekusi mati.
Pater O'Leary memberi kesaksian, “Saya tidak pernah melihat seorang pun pergi menyongsong kematiannya dengan begitu gembira dan penuh sukacita. Bahkan para pejabat yang menjadi saksi dan para wartawan koran amat takjub. Mereka mengatakan tak dapat mengerti bagaimana seorang yang pergi dan duduk di kursi listrik wajahnya tampak berseri-seri bahagia.”
Kata-kata terakhir Claude kepada Pater O'Leary adalah, “Pater, saya akan mengingat Pater. Dan bilamana Pater mempunyai suatu permohonan, mintalah padaku dan aku akan memintanya pada Bunda Maria.”
Dua bulan kemudian, tahanan kulit putih yang amat membenci Claude itu pun hendak dieksekusi. Mengenai orang ini Pater O'Leary mengatakan, “Orang ini adalah yang paling bejat, yang paling tak bermoral yang pernah saya temui. Kebenciannya terhadap Tuhan, terhadap hal-hal rohani, sungguh tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.”
Menjelang eksekusi, dokter daerah yang seorang Katolik memohon kepada sang terhukum untuk setidaknya berlutut dan mendaraskan Bapa Kami sebelum sheriff datang. Tahanan ini meludahi wajah sang dokter. Ketika diikatkan pada kursi listrik, sheriff berkata kepadanya, “Jika ada sesuatu yang hendak kau sampaikan, katakanlah sekarang.” Maka, si terhukum ini pun mulai menghojat.
Sekonyong-konyong, ia berhenti menghujat dengan matanya terpaku pada pojok ruangan; wajahnya berubah mencerminkan ketakutan yang amat sangat. Ia berteriak-teriak. Berpaling kepada kepala penjara, ia berseru, “Sheriff, panggilkan seorang imam!”
Pater O'Leary sebenarnya ada dalam ruangan sebab hukum menuntut seorang rohaniwan hadir pada saat eksekusi. Tetapi sang imam menyembunyikan diri di balik para wartawan sebab si terhukum telah mengancam akan mengutuki Tuhan jika ia melihat seorang rohaniwan di sana.
Segera Pater O'Leary menghampiri si tahanan. Ruang dikosongkan dari mereka yang hadir dan imam mendengarkan pengakuan dosanya. Tahanan ini mengatakan bahwa ia adalah seorang Katolik, tetapi meninggalkan agama ketika berumur 18 tahun karena hidupnya yang amoral.
Ketika semua telah kembali ke ruangan, sheriff bertanya kepada imam, “Apakah yang membuatnya berubah pikiran?”
“Saya tidak tahu. Saya tidak menanyakannya.”
“Baiklah, aku tidak akan pernah bisa tidur jika tidak mengetahuinya.”
Sheriff berpaling kepada si terhukum dan bertanya, “Nak, apakah yang membuatmu berubah pikiran?”
“Ingatkah Anda akan Claude si kulit hitam itu, yang aku benci setengah mati? Ia berdiri di sana [ia menunjuk dengan jarinya], di pojok itu. Dan di belakangnya Bunda Maria dengan satu tangan di atas satu bahu Claude dan satu tangan lagi di atas bahu Claude yang lain. Dan Claude berkata kepadaku, `Aku mempersembahkan kematianku dalam persatuan dengan Kristus di Salib demi keselamatanmu. Bunda Maria mendapatkan anugerah ini untukmu: agar engkau melihat tempatmu di neraka jika engkau tidak bertobat.' Dan kepadaku diperlihatkan tempatku di neraka dan itulah saat ketika aku berteriak-teriak.”

Demikianlah dahsyatNya Kuasa yang Dianugrahkan kepada Bunda Maria.
Kita melihat banyak kesamaan antara fakta-fakta dalam kisah Claude Newman dengan Pesan Santa Perawan Maria di Fatima pada tahun 1917, yang menekankan pada:
  • Sakramen Tobat,
  • Komuni Kudus,
  • Silih bagi para pendosa,
  • Penglihatan akan neraka.
“Banyak jiwa-jiwa menuju neraka sebab tak seorang pun mendoakan dan melakukan silih bagi mereka.”
~ Santa Perawan Maria di Fatima



Definisi Pertobatan

dan

Hubungannya dengan Keselamatan


Banyak orang memahami istilah “pertobatan” berarti “berbalik dari dosa.” Ini bukanlah definisi Alkitab mengenai pertobatan. Dalam Alkitab, kata “bertobat” berarti “berubah pikiran.” Alkitab juga memberitahu kita bahwa pertobatan yang sejati akan menghasilkan perubahan tindakan (Lukas 3:8-14, Kisah Rasul 3:19). Kisah 26:20 menyatakan, “Tetapi mula-mula aku memberitakan bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Definisi pertobatan yang sepenuhnya secara Alkitabiah adalah perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan tingkah laku.
Kalau demikian, apa hubungan antara pertobatan dan keselamatan? Kitab Kisah Rasul nampaknya secara khusus memusatkan perhatian pada pertobatan dalam hubungannya dengan keselamatan (Kisah 2:38, 3:19; 11:18; 17:30; 20:21; 26:20). Bertobat, dalam kaitannya dengan keselamatan, adalah merubah pikiran kita dalam hubungannya dengan Yesus Kristus. Dalam khotbah Petrus pada hari Pentakosta (Kisah 2) dia mengakhirinya dengan panggilan agar orang-orang bertobat (Kisah 2:38). Bertobat dari apa? Petrus memanggil orang-orang yang menolak Yesus Kristus (Kisah 2:36) untuk mengubah pikiran mereka mengenai Dia, untuk mengakui bahwa Dia sungguh-sungguh adalah “Tuhan dan Kristus” (Kisah 2:36). Petrus memanggil orang-orang untuk mengubah pikiran mereka dari menolak Kristus sebagai Mesias menjadi beriman kepadaNya sebagai Mesias dan Juruselamat.
Pertobatan dan iman dapat dipahami sebagai “dua sisi dari koin yang sama.” Tidaklah mungkin beriman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat tanpa terlebih dahulu mengubah pikiran kita mengenai siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan. Apakah ini adalah pertobatan dari penolakan secara sengaja atau pertobatan dari ketidakacuhan atau ketidak ketertarikan – Itu adalah perubahan pikiran. Pertobatan Alkitabiah dalam hubungannya dengan keselamatan adalah merubah pikiran kita dari menolak Kristus menjadi beriman kepada Kristus.
Adalah penting untuk memahami bahwa pertobatan bukanlah hasil karya kita, demi untuk mendapatkan keselamatan, tidak ada seorangpun dapat bertobat dan datang kepada Allah kecuali kalau bukan Allah sendiri yang datang menarik kita kepadaNya (Yohanes 6:44). Kisah 5:31 dan 11:18 mengindikasikan bahwa pertobatan adalah pemberian Allah – yang dimungkinkan semata-mata karena anugrahNya. Tidak ada seorangpun yang dapat bertobat jika Allah tidak menganugrahkan kepadanya untuk pertobatan. Segala yang bersangkutan dengan keselamatan, termasuk pertobatan dan iman, adalah hasil dari Allah yang menarik kita, membuka mata kita dan mengubah hati kita. Panjang sabar Allah menuntun kita kepada pertobatan (2 Petrus 3:9), demikian pula kebaikanNya (Roma 2:4).
Sekalipun pertobatan bukanlah pekerjaan yang menghasilkan keselamatan, pertobatan yang menuntun pada keselamatan pasti menghasilkan suatu karya. Adalah tidak mungkin untuk benar-benar dan secara keseluruhan mengubah pikiran kita tanpa hal itu menyebabkan perubahan dalam perilaku. Dalam Alkitab pertobatan menghasilkan perubahan tingkah laku. Itu sebabnya Yohanes Pembaptis berseru agar orang-orang “menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:8). Seseorang yang benar-benar telah bertobat dari penolakan akan Kristus, kepada iman akan Kristus, akan nyata melalui hidup yang berubah (2 Korintus 5:17, Galatia 5:19-23, Yakobus 2:14-26). Pertobatan, didefinisikan secara tepat, adalah perlu untuk keselamatan. Pertobatan yang Alkitabiah adalah mengubah pikiran kita mengenai Yesus Kristus dan berbalik kepada Allah, dalam iman untuk keselamatan (Kisah 3:19). Berbalik dari dosa bukanlah definisi dari pertobatan, melainkan adalah salah satu hasil dari pertobatan yang sejati, yang berlandaskan iman yang menuntun kepada Tuhan Yesus Kristus.


Lima Cara Pertobatan Sejati


19:21 Katolisitas Indonesia
Cara tobat pertama adalah menggugat dosa-dosa kita sendiri: Jadilah yang pertama mengakui dosa-dosa kita sendiri, maka akan dibenarkan. Karena alasan ini juga, pemazmur menulis: “aku berkata: `Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,' dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” Sebab itu, kita juga patut mengakui dosa-dosa kita sendiri; hal itu akan menjadikan cukup alasan bagi Tuhan untuk mengampuni kita, sebab orang yang menggugat dosa-dosanya sendiri lebih lambat dalam melakukan dosa-dosa itu lagi. Bangkitkanlah nurani kita untuk menggugat kita dalam bait hati kita sendiri, agar ia (iblis) tidak menjadi pendakwa kta di hadapan tahta pengadilan Tuhan.
 
Jadi, itu adalah suatu cara tobat yang sangat baik

St. Yohanes Krisostomus

Cara tobat yang kedua, yang tak kalah pentingnya adalah mengenyahkan dari benak kita rasa sakit yang diakibatkan oleh para musuh kita, agar kita dapat menguasai amarah kita dan agar kita dapat mengampuni kesalahan sesama hamba dosa terhadap kita. Maka, dosa-dosa kita terhadap Tuhan juga akan diampuni. Dengan demikian, kita mendapatkan suatu cara untuk menebus dosa-dosa kita: Karena jikalau kita mengampuni kesalahan orang, Bapa kita yang di sorga akan mengampuni kita juga. Cara yang ketiga, yang menyangkut doa yang tekun, sungguh dan keluar dari dalam lubuk hati. Cara yang keempat adalah amal kasih, yang sungguh besar kuasanya dan luas jangkauannya.
Jika terlebih lagi orang yang hidup bersahaja dan rendah hati, tak kurang dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, maka dosa-dosa diampuni. Bukti akan hal ini adalah pemungut cukai yang tak ada perbuatan baiknya yang pantas disebutkan, tetapi ia justru mempersembahkan kerendahan hatinya dan dibebaskan dari beban dosa berat.
Demikianlah, telah ditunjukkan lima cara tobat sejati: menggugat dosa-dosa kita sendiri, mengampuni kesalahan sesama yang bersalah kepada kita, doa, amal kasih dan kerendahan hati. Jadi, janganlah kita berpangku tangan, melainkan berjalanlah setiap hari di kelima jalan di atas; kelima cara tersebut mudah dilakukan dan kita tak dapat berdalih kita tak mampu. Sebab, meskipun kita hidup berkekurangan, kita senantiasa dapat memadamkan amarah kita, rendah hati, berdoa dengan tekun dan menggugat dosa-dosa kita sendiri; kemiskinan bukanlah halangan. Kemiskinan bukanlah suatu rintangan dalam melaksanakan perintah Tuhan, meskipun ketika hal itu sampai pada cara tobat yang berhubungan dengan memberikan uang (amal kasih). Janda miskin itu membuktikannya ketika ia memasukkan dua pesernya ke dalam kotak!
Sekarang, setelah kita tahu bagaimana menyembuhkan luka-luka kita ini, marilah kita menggunakan obatnya. Lalu, ketika kita telah memperoleh kembali kesehatan kita yang sempurna, kita dapat datang ke meja perjamuan yang kudus dengan penuh keyakinan, pergi dengan gemilang menghadap Kristus, Raja Kemuliaan dan memperoleh berkat-berkat abadi melalui rahmat, belas kasihan dan kebaikan hati Yesus Kristus, Tuhan kita.

+Dominus illuminatio mea et salus mea!+




Sumber


“The Miraculous Conversion Story of Prisoner Claude Newman (1944) by John Vennari”, Catholic Dispatch Internet Apostolate, www.catholic-dispatch.com; Catatan Tambahan: “Chronology of the Life of Claude Newman” by Br. Claude Lane, OSB, of the Mount Angel Abbey.
franstenggara@gmail.com
didedikasikan untuk Bunda kami
Copyright © 2014